MINGGU , 23 SEPTEMBER 2018

Golkar Kecewa Nama-nama Diduga Korupsi e-KTP Beredar Sebelum Persidangan

Reporter:

Editor:

dedi

Selasa , 14 Maret 2017 21:21
Golkar Kecewa Nama-nama Diduga Korupsi e-KTP Beredar Sebelum Persidangan

Ilustrasi

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Sejumlah politikus yang duduk DPR diduga ikut terlibat dalam korupsi proyek kartu tanda penduduk berbasis elektronik atau e-KTP.

Ketua Dewan Pakar Agung Laksono mengaku kecewa lantaran, nama-nama yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah terlebih dulu beredar di publik sebelum adanya persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta.

“Sebelum sidang tipikor sudah beredar dakwaan KPK sudah beredar di mana-mana di luar persidangan,” keluh Agung di DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, Selasa (14/3).

Oleh sebab itu mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) ini, meminta ke Komisi III DPR untuk mengklarifikasi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kenapa nama-nama yang ada dalam persidangan bisa beredar lebih dulu. “Kami minta kepada fraksi, Komisi III ditanyakan kenapa kok bisa. Tidak lazim ini,” katanya.

Dalam kasus ini dugaan korupsi e-KTP yang telah merugikan negara sebesar Rp 2,3 triliun itu, lembaga yang dikepalai oleh Agus Rahardjo ini baru menetapkan dua tersangka dari pihak eksekutif, yakni mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Negeri (Kemedagri) sekaligus pejabat pembuat komitmen, Sugiharto, dan mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemedagri, Irman.
[NEXT-RASUL]
Dan berikut ini daftar penerima aliran dana proyek e-KTP dalam surat dakwaan.
1. Gamawan Fauzi USD 4,5 juta dan Rp 50 juta
2. Diah Anggraini USD 2,7 juta dan Rp 22,5 juta
3. Drajat Wisnu Setyaan USD 615 ribu dan Rp 25 juta
4. 6 orang anggota panitia lelang masing-masing USD 50 ribu
5. Husni Fahmi USD 150 ribu dan Rp 30 juta
6. Anas Urbaningrum USD 5,5 juta
7. Melcias Marchus Mekeng USD 1,4 juta
8. Olly Dondokambey USD 1,2 juta
9. Tamsil Lindrung USD 700 ribu
10. Mirwan Amir USD 1,2 juta
11. Arief Wibowo USD 108 ribu
12. Chaeruman Harahap USD 584 ribu dan Rp 26 miliar
13. Ganjar Pranowo USD 520 ribu
14. Agun Gunandjar Sudarsa selaku anggota Komisi II dan Banggar DPR USD 1,047 juta
15. Mustoko Weni USD 408 ribu
16. Ignatius Mulyono USD 258 ribu
17. Taufik Effendi USD 103 ribu
18. Teguh Djuwarno USD 167 ribu
19. Miryam S Haryani USD 23 ribu
20. Rindoko, Nu’man Abdul Hakim, Abdul Malik Haramaen, Jamal Aziz, dan Jazuli Juwaini selaku Kapoksi pada Komisi II DPR masing-masing USD 37 ribu

[NEXT-RASUL]
21. Markus Nari Rp 4 miliar dan USD 13 ribu
22. Yasonna H Laoly USD 84 ribu
23. Khatibul Umam Wiranu USD 400 ribu
24. M Jafar Hapsah USD 100 ribu
25. Ade Komarudin USD 100 ribu
26. Abraham Mose, Agus Iswanto, Andra Agusalam, dan Darma Mapangara selaku direksi PT LEN Industri masing-masing Rp 1 miliar
27. Wahyudin Bagenda selaku Direktur Utama PT LEN Industri Rp 2 miliar
28. Marzuki Ali Rp 20 miliar
29. Johanes Marliem USD 14,880 juta dan Rp 25.242.546.892
30. 37 anggota Komisi II DPR lain seluruhnya berjumlah USD 556 ribu, masing-masing mendapatkan uang USD 13-18 ribu
31. Beberapa anggota tim Fatmawati yaitu Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby, Eko Purwoko, Andi Noor, Wahyu Setyo, Benny Akhir, Dudi, dan Kurniawan masing-masing Rp 60 juta
32. Manajemen bersama konsorsium PNRI Rp 137.989.835.260
33. Perum PNRI Rp 107.710.849.102
34. PT Sandipala Artha Putra Rp 145.851.156.022
35. PT Mega Lestari Unggul yang merupakan holding company PT Sandipala Artha Putra Rp 148.863.947.122
36. PT LEN Industri Rp 20.925.163.862
37. PT Sucofindo Rp 8.231.289.362
38. PT Quadra Solution Rp 127.320.213.798,36.(cr2/JPG)


div>