• Jumat, 31 Oktober 2014
Iklan | Epaper | Redaksi | Citizen Report

Golkar Makassar Membara

Nurdin Dituding Bermain

Selasa , 05 Maret 2013 10:08
Total Pembaca : 1104 Views
ist / Logo Golkar

Baca juga

RAKYATSULSEL.COM, MAKASSAR – Rekomendasi Pilkada di Partai Golkar kembali jadi buah bibir. Santer terdengar, Korwil Pemenangan DPP Golkar Sulawesi, Nurdin Halid ingin mempaketkan Supomo Guntur dengan adiknya, Kadir Halid. Konon, Supomo Guntur telah bertemu Nurdin di Jakarta untuk menindaklanjuti paket pengantin Golkar ini.

Alhasil, kabar ini mendapat penolakan dari internal Golkar Makassar dan perlawanan keras dari loyalis Farouk M Betta yang disebut-sebut sebagai calon terkuat untuk mendampingi Supomo Guntur. Partai Beringin diingatkan jeli melihat peluang di Pilwalkot Makassar, September mendatang. Pasalnya, salah menentukan kader, bisa berakibat fatal. Dukungan untuk mendulang suara, pun bisa buyar.

Wakil Bendahara Golkar Kota Makassar, Syamsinar N Alam menyatakan, nyaris semua kalangan atau lapisan Golkar di Kota Makassar, cenderung memilih Aru’–sapaan akrab Farouk, untuk mendampingi Supomo ketimbang Kadir.

“Itu jika berkaca pada survei di setiap kecamatan. Nama Pak Aru’ selalu yang teratas untuk menjadi 02-nya Pak Supomo. Dan Gokar adalah partai yang konsisten selalu mengutamakan survei. 14 pimpinan kecamatan dan 143 pimpinan kelurahan serta beberapa organisasi sayap mendukung sepenuhnya Aru’,” kata Syamsinar kepada Rakyat Sulsel, malam tadi.

Menurut Syamsinar, seluruh elemen Golkar Makassar tetap yakin jika pada akhirnya paket Supomo-Aru yang diusung di Pilwali nanti. Mencuatnya wacana Supomo-Kadir, dianggap Syamsinar hanya sebuah permainan karena konstalasi tengah naik-naiknya. Syamsinar menyebut, konstalasi ini dimainkan oleh Nurdin Halid, yang tidak lain adalah kakak kandung Kadir Halid.

“Notabenenya kan kita sudah tahu siapa kakaknya kadir Halid. Pokoknya, sepanjang belum ada rekomendasi resmi, kami tetap yakin Pak Aru’ yang diusung,” pungkas Syamsinar.

Loyasli lainnya ikut menyatakan mendukung Aru’. “Kalau figur yang dipilih Supomo-Farouk, kita akan berjuang mati-matian. Soalnya, Supomo-Farouk kita nilai bisa membawa Makassar lebih baik. Tapi, kalau bukan duet ini, kita pikir-pikir untuk all out membantu,” tandas H Agus, salah seorang tokoh masyarakat.

“Masih ada ratusan relawan yang siap berjuang mati-matian jika pasangan ini yang diusung Golkar. Karena, Supomo-Farouk adalah representasi dari tokoh mapan dan muda, birokrat-politisi, serta mereka loyal kepada pimpinan dan partai. Dan terpenting, mereka juga sudah tahu Makassar karena satu wakil wali kota dan satunya ketua DPRD Makassar,” tambah Irwan, warga lainnya.

Dukungan ini, memang bukan tanpa argumen. Supomo-Farouk dinilai sebagai sosok yang bisa saling melengkapi. Dari segi kedekatan, mereka juga sudah sangat mengenal karena satu ketua Golkar Makassar dan satunya sekretaris. Selain itu, mereka paham betul kondisi riil kota Makassar. “Ini (Supomo-Farouk, Red) paling tepat. Kita sekarang dalam posisi wait and see. Kalau pasangan, kita bekerja maksimal. Kalau tidak, ya sudahlah,” tandas Irwan.

Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Andi Haris juga mengingatkan. Kalau Golkar terlalu cepat memutuskan pasangan Supomo Guntur-Kadir Halid maka itu akan menjadi mala petaka bagi beringin.  “Jika Golkar memaksakan hal itu maka kehancuran akan terjadi bagi Golkar dan terancam tidak akan menjadi pemenang di Pilwalkot Makassar,” papar Andi Haris saat dihubungi Rakyat Sulsel, malam tadi.

Argumen Andi Haris jelas, karena melihat figur kandidat, baik itu Supomo Guntur, maupun Kadir Halid belum dapat membius masyarakat Makassar yang akan dipimpinnya lima tahun ke depan. “Posisi kedua kader ini sangat riskan di hati masyarakat.

Kalaupun saat ini posisi Supomo di atas angin, namun itu tidak menuntut kemungkinan kekalahan mutlak akan terjadi di Golkar. Sehingga upaya menjaring kandidat harus sangat selektif dan dan betul-betul mempertimbangkan segala aspek,” ingatnya.

Terpisah, Wakil Ketua DPD I Golkar Sulsel, Arfandi Idris menyatakan kalau di Golkar itu memiliki mekanisme dan tahapan yang mengacu pada Juklak Golkar untuk menentukan bakal calon kepala daerah di kabupaten/ kota.

Kalaupun ada anggapan Nurdin Halid bermain di penetapan calon yang akan diusung, itu tidak mungkin terjadi karena dalam menetapkan calon, ada namanya Tim 9 yang di dalamnya ada ketua umum, sekjen, ketua Bapilu, dan ketua DPD I Golkar.  “Yang jelas Pemilukada Makassar kran-nya ada di tangan Ketua DPD I. Itu juga menjadi salah satu ukuran terkait yang diusung Golkar di Pilwalkot serta mengacu pada hasil survei.” ulasnya.

Mengenai penentuan pasangan calon, menurut Arfandi, hingga saat ini belum ada keputusan karena belum ada keputusan kapan survei internal dilakukan Golkar. “Tidak ada yang mengetahui kapan survei DPP turun untuk mengukur kekuatan calon wali kota Makassar,” ujarnya.

Mengenai paket Supomo Guntur-Kadir Halid, kata Arfandi, belum ada yang bisa memastikan, karena semuanya mengacu pada Juklak DPP Nomor 13 Tahun 2011,” jelasnya.

Sementara itu, Kadir Halid menilai, kalau Golkar akan mengacu pada mekanisme yang ada. Wakil Ketua DPD I Golkar Sulsel ini juga membantah terjadi nepotisme dalam penentuan rekomendasi. Menurutnya, Golkar tidak mengenal namanya mengutamakan keluarga karena di Golkar akan dihadapkan dengan aturan yang telah dibuat.

“Saya yakin Pak Nurdin tidak akan bermain dan mengutamakan keluarganya karena golkar itu partai yang berpengalaman dalam politik. Apalagi banyak elit Golkar yang tergabung dalam menetapkan calon kepala daerah,” jelas Kadir yang dikonfirmasi Rakyat Sulsel, kemarin.

Karena, lanjut Kadir,  menentukan pilihan di partai itu, bukan berdasar pada kedekatan keluarga. “Mau saudara atau bukan lanjut, kalau surveinya cukup rendah, maka itu akan tetap mengacu pada mekanisme partai,” lugasnya.

Pernyataan Kadir diperkuat Sekretaris Bappilu DPP Golkar, Abdillah Natsir.  DPP membantah jika ada permainan dalam penetapan calon wali kota Makassar, September mendatang.

“Tidak itu itu. Tidak ada celah bermain di DPP untuk penetapan calon wali kota makassar,” bela Abdillah Natsir kepada Rakyat Sulsel, malam tadi.

Di Golkar, tegasnya, tidak pernah ada permainan. “Aturan penetapan calon kepala daerah di partai itu jelas. Petunjuk pelaksanaannya jelas dan aturan organisasinya juga jelas. Jadi, kader yang akan diusung Golkar adalah kader yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan partai,” jelasnya, meyakinkan.

Salah satunya memiliki elektabilitas tertinggi di dalam survei. “Jadi isu adanya permainan dalam penetapan calon wali kota Makassar itu tidak benar. Yang akan di survei oleh partai itu adalah yang dianggap tokoh serta kader Partai. Tetapi partai tetap memprioritaskan kader partai yang memiliki elektabilitas yang tinggi,” tuntasnya. (RS6-RS2-asi)


One Response to Golkar Makassar Membara

  1. ocan

    Selasa, 5 Maret 2013 at 10:46 AM

    DPP PG mng harusx berhati2 mengeluarkan rekomendasi. Hrs betul memperhatikan hasil survey yg independen spy jgn terjadi blunder Dlm pilwalkot ini