SENIN , 22 OKTOBER 2018

Golkar Rontok di Pilgub

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

asharabdullah

Jumat , 29 Juni 2018 10:15
Golkar Rontok di Pilgub

Partai Golkar

* 13 Kepala Daerah Bukan Jaminan
* DPP Minta Evaluasi Internal

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pasca pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang berlangsung 27 Juni lalu, sejumlah partai politik pada berbagai daerah mengevaluasi diri. Terlebih partai besar yang selama ini berkuasa ditingkat provinsi, salah satunya Partai Golkar.

Melalui hasil quick count, jagoan Partai Golkar yakni Nurdin Halid-Aziz Qahar Mudzakkar (NH-Aziz) tidak mampu memenangkan pertarungan pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel. Bahkan, terdapat 13 kepala daerah di Sulsel merupakan kader Partai Golkar.

Terkait hal itu, Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Kelembagaan Eksekutif Legislatif Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Idrus Marham memberikan komentar yang normatif. Ia mengatakan dalam dunia politik ada menag dan ada yang kalah.

Menurutnya, yang perlu diperbaiki sebagai bahan evaluasi adalah mesin partai juga struktur sampai ke bawah. “Belum ada ada hasil real count. Kalau akhirnya hasil tak sesuai, Nurdin Halid silahkan lakukan evaluasi dan konsolidasi,” kata Idrus, Kamis (28/6) kemarin.

Menteri Sosial RI ini mengatakan pihaknya masih menunggu perkembangan dan informasi lanjutan. Ia menilai, proses Pilkada 2018 di Sulsel dimana Partai Golkar tampil sebagai peserta pada berbagai daerah dapat menerima apapun yang akan di putuskan oleh Komisi Pemilihan (KPU).

“Pilkada secara keseluruhan tahun ini tak ada gejolak berlebihan. Jika di daerah ada penyimpanan ada proses hukum dilalui. Tapi hasilnya kita hargai keputusan KPU. Jika, pihak dirugikan silahkan protes,” ujarnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alaudin Makassar, Firdaus Muhammad mengatakan yang harus dievaluasi Partai Golkar adalah mesin partai dan figur yang diusung di Pilkada. “Sebenarnya Golkar sudah baik jadi pemenang kedua. Hanya figur Nurdin Abdullah (NA) yang sulit dibendung,” kata Firdaus Muhammad.

Ia menilai, personal yang paling urgensi adalah pembinaan terhadap kaderisasi dan struktur internal Partai Golkar pada semua tingkatan.

“Ke depan, kaderisasi dan soliditas internal pengurus. Golkar Sulsel masih rapuh secara internal dari segi soliditas, apalagi pasca Syahrul Yasin Limpo (SYL) hengkang ke Partai NasDem,” jelasnya.

Sebelumnya, Nurdin Halid menjelaskan, hasil quick count yang beredar ini belum merupakan akhir sebuah perjuangan. Apalagi, kata dia, keputusan final baru akan diumumkan melalui perhitungan suara final oleh KPU.

“Tentu kita menunggu hasil yang resmi dari KPU. Kami juga melakukan real count yang sekarang sedang berjalan. Itulah suara yang real,” kata Nurdin.

Calon gubernur Sulsel nomor urut 1 ini mengatakan pemimpin Sulsel baru harus benar-benar lahir atas kehendak suara rakyat. Bukan karena adanya tindakan yang bertentangan dengan kedaulatan rakyat sebagai wujud penerapan demokrasi.

“Pemimpin yang lahir betul-betul karena kehendak rakyat. Bukan karena cukong dan intervensi dari seorang menteri,” ucapnya.

Untuk diketahui sejumlah kader partai berlambang pohon beringin tersebut menjabat sebagai kepala daerah antara lain Kota Makassar, Kota Parepare, Kabupaten Selayar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Wajo, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Luwu Timur, Kabupaten Bone, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Tanah Toraja, dan Kota Palopo. (*)


div>