SABTU , 15 DESEMBER 2018

Golkar Sulsel Setengah Hati Menangkan Jokowi-Ma’ruf

Reporter:

Editor:

Lukman

Senin , 13 Agustus 2018 15:00
Golkar Sulsel Setengah Hati Menangkan Jokowi-Ma’ruf

Partai Golkar

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang dipastikan akan beriringan dengan Pemilihan Legislatif (Pileg).

Hal ini menjadikan para pengurus partai dan para calon legislatif akan bekerja ekstra, sebab selain dituntut meraih kursi di parlemen dan mendongkrak suara partai, mereka juga harus memenangkan usungan partainya di Pilpres nanti.

Namun, Dewan Pimpinan daerah (DPD) I Golkar Sulawesi Selatan di bawah komando Nurdin Halid (NH), terkesan setengah hati untuk memenangkan pasangan calon presiden Joko Widodo – Ma’ruf Amin yang merupakan usungan Golkar.

Pasalnya, sejumlah kader maupun pengurus Partai Golkar yang maju sebagai caleg, tidak dibebankan untuk bekerja dan memenangkan Jokowi-Ma’ruf, mereka hanya diperintahkan membesarkan Partai Golkar dengan cara memenangkan Pileg 2019 nanti.

Nurdin Halid mengatakan Golkar akan membentuk dua tim, dimana masing-masing tim memiliki tugas yang berbeda, yakni satu tim bekerja untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf dan satu tim bekerja memenangkan Pileg.

“Kita akan membentuk dua tim, satu khusus untuk memenangkan Pileg dan satu tim khusus untuk memenangkan Pilpres,” ujar Nurdin Halid, saat ditemui disela-sela kegiatan workshop dan pembekalan bagi seluruh Caleg Golkar di Sulsel, di Hotel Claro, Minggu (12/8).

NH beralasan dengan membagi dua tim serta tidak membebankan kader Golkar yang masuk dalam Caleg untuk memenangkan Jokowi, karena menurutnya budaya masyarakat Sulsel sangat berbeda dengan daerah-daerah lain.

“Kondisi budaya dan psikologi serta karakter masyarakat Sulsel itu berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia, olehnya itu kita harus buat dua tim agar masing-masing bisa fokus pada tugas masing-masing, sehingga bisa memenangkan keduanya,” jelasnya.

NH menjelaskan, bahwa tidak dibebankannya Caleg Golkar memenangkan Capres usungan Golkar, karena Golkar ingin fokus menjadi pemenang pada Pileg 2019 di Sulsel, sehingga partai berlambang pohon beringin ini lebih memfokuskannya Calegnya untuk bekerja untuk partai.

“Seluruh Caleg Golkar, kita fokuskan untuk memenangkan Pileg, sedangkan partai kita fokuskan kepada Pilpres, dengan demikian kita bisa menang dua-dua,” jelasnya.

Mantan kandidat calon Gubernur Sulsel ini juga menyebutkan, bahwa untuk Pilpres akan dikendalikan langsung olehnya, mengingat dirinya tidak maju sebagai Caleg.

“Untuk Pilpres, saya akan pimpin langsung, kekalahan di Pilgub menjadikan kita tidak ingin tinggal merenung, olehnya itu di Pilpres 2019 ini, kita harus menang,” tegas NH.

Dengan perolehan suara yang mencapai kurang lebih 1,1 juta pada Pilgub lalu, NH mengatakan jika perolahan tersebut merupakan hasil kerja Golkar, yang juga berarti sebuah nilai investasi jelang Pileg dan Pilpres mendatang.

“Hasil 1,1 juta suara di Pilgub lalu adalah investasi panjang dan jumlah suara itu menjadi potensi untuk memperkuat Partai Golkar di Sulsel,” lanjutnya.

Sementara itu, pakar politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Andi Ali Armunanto, mengatakan jika kebijakan yang dikeluarkan oleh Partai Golkar tersebut sangat tidak lazim.

Menurutnya, walau Golkar telah membangun komunikasi dengan Jokowi dalam koalisi merah putih, namun Caleg seharusnya selain dituntut bekerja memenangkan partai, juga dituntut memenangkan calon Presiden usungan partainya.

“Ini tidak lazim, sebab mereka (Caleg) tidak dituntut untuk ikut berperan dalam pemenangan Jokowi,” kata Andi Ali Armunanto.

Dirinya menyebutkan, jika Caleg Golkar diminta mensosialisasikan Jokowi untuk dua periode, maka itu bisa menjadi salah satu nilai jual bagi para Caleg dan Partai Golkar ke depan. Mengingat, elektabilitas Jokowi sebagai calon incumbent, masih dianggap bisa terpilih kembali untuk memimpin Indonesia lima tahun kedepan.

“Sebenarnya jika dianalisa lebih jauh, tidak etis kalau Golkar tidak meminta Calegnya mensosialisasikan Jokowi. Saya kira ini juga momen yang baik untuk meningkatkan suara Caleg, sebab Jokowi sebagai Capres incumbent juga tentu memiliki nilai jual untuk kader Golkar, alangkah sia-sianya jika tidak dimanfaatkan, sebagai salah satu sarana mencari simpati publik dengan mencoba menjual nama Jokowi,” ujarnya.

Ia pun menganggap tidak adanya arahan DPD I Golkar Sulsel, kepada Caleg mereka untuk ikut mengkampanyekan Jokowi-Ma’ruf, merupakan salah satu tanda jika partai berlambang pohon beringin tersebut setengah hati dalam memenangkan Jokowi-Ma’ruf.

“Dengan kejadian itu (caleg tidak dituntut kampanyekan Jokowi), bisa saja menjadi indikator jika Golkar setengah hati dalam mendukung Jokowi. Sekiranya mau full, dia (Golkar) harusnya memanfaatkan caleg-calegnya dengan sekali jalan, apalagi ini juga dipastikan tidak akan mengganggu kinerja mesin politik partai Golkar,” tuturnya.

Andi Ali Armunanto juga menyebutkan jika seluruh caleg Golkar diberikan tanggungjawab untuk mensosialisasikan dan mengkampanyekan Jokowi, maka bisa jadi mereka (caleg) akan dapat membuka pintu suara yang lebih besar untuk Golkar.

“Jika saja para Caleg ini dituntut kampanyekan Jokowi, maka tentu bisa membuka pintu komunikasi keorang-orang yang bukan simpatisan Golkar, sebab banyak juga yang bukan simpatisan Golkar, namun simpatisan Jokowi, sehingga ini akan membuka pintu komunikasi politik, yang akhirnya mempengaruhi perolehan suara nanti,” tandasnya. (*)


div>