SENIN , 19 NOVEMBER 2018

Golkar Tetap Idola

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 07 April 2016 10:00
Golkar Tetap Idola

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Partai Golongan Karya (Golkar) nampaknya tetap akan menjadi idola bagi figur yang berniat maju di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2017 mendatang.

Meski saat ini Golkar belum seutuhnya islah, namun sejumlah nama mulai berlomba untuk bisa mengendarai partai berlambang Pohon Beringin ini di Pilkada Takalar. Apalagi Golkar menjadi partai tunggal dengan 6 kursi di parlemen yang bisa mengusung kandidat tanpa harus berkoalisi dengan partai lain. Sementara diketahui, untuk bertarung di Pilkada Takalar mendapat dukungan partai minimal 5 kursi di parlemen.

Golkar sendiri sejauh ini telah membuka pendaftaran. Meski demikian, telah mencuat beberapa nama bakal calon bupati yang akan bertarung pada Pilkada Takalar untuk mendaftar seperti Burhanuddin Baharuddin, Natsir Ibrahim, Nawir Rahman, Nirwan Nasrullah dan Amin Yakob.

Ketua Penjaringan DPD II Golkar Takalar, Muhiddin Mursali, menyatakan, pendaftaran akan dibuka hingga 8 April. Sementara tanggal 9 April akan dilakukan pemaparan visi misi bakal calon Bupati yang akan diusung dan disaksikan oleh pengurus DPD I.

Muhiddin Mursali menambahkan, dalam mekanisme penjaringan setidaknya ada 10 nama dari internal Golkar yang akan diakomodir untuk dikirim ke DPP, antara lain Burhanuddin Baharuddin, Natsir Ibrahim alias Nojeng, Nawir Rahman, Muhammad Jabir Bonto serta Tenri Olle Yasin Limpo.

“Setelah ada nama-nama yang terjaring, proses selanjutnya Golkar segera mengusulkan calon bupati ke DPP sembari menunggu hasil survei yang diturunkan oleh DPP itu sendiri,” jelas Muddin Murshali.

[NEXT-RASUL]

Adanya isu perpecahan di internal kader Golkar dengan munculnya Burhanuddin dengan Nojeng, kata Muhiddin Mursali, untuk target memenangkan Pilkada keduanya sangat berpotensi untuk dipaketkan kembali.

“Isu perpecahan itu muncul dari orang luar dan penilaian kami selama ini, bupati dan wakil bupati tetap seirama dalam menjalankan pemerintahan. Bahkan beberapa hari lalu, kedua pasangan ini satu mobil dalam sebuah perjalanan,” ujarnya.

Sementara Tim Keluarga Burhanuddin Baharuddin, Baso DN mengatakan Burhanuddin Baharuddin berharap akan diusung oleh partai Golkar. Ia menilai, Burhanuddin adalah salah satu kader terbaik Golkar di Taklar.

“Pak Bur masih sangat berharap nantinya diusung oleh partai Golkar, perlu diingat bahwa Pak Bur ini kan kader Golkar di Takalar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, elektabilitas dan popularitas Burhanuddin di Takalar masih sangat tinggi dibandingkan dengan bakal calon yang lain. Oleh karena itu, kata dia, wajar jika nantinya partai besar seperti Golkar akan mengusung Burhanuddin.

“Jujur saja, elektabilitas dan popularitas Pak Bur masih jauh di atas dari bakal calon yang lain, sehingga wajar jika nantinya partai Golkar akan mengusung Pak Bur,” pungkasnya.

[NEXT-RASUL]

Kepala Dinas Bina Marga Sulsel, Amin Yakob, mengaku telah menjalin komunikasi dengan Partai Golkar. Namun, hingga saat ini, ia belum memastikan apakah dirinya maju menjadi Calon Bupati Takalar.

“Sampai sekarang belum menyampaikan (secara resmi), tidak tahu besok, namanya hati manusia pasti berubah. Kalau komunikasi (dengan partai) sih ada,” katanya.

Secara pribadi, ia mengaku siap untuk bertarung dalam pilkada Takalar. Namun, di sisi kelembagaan, menurut Amin, dirinya merupakan bawahan dari Gubernur. Jadi, kata dia, untuk maju dalam pilkada, tentunya harus seizin Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulsel.

“Saya baru di Bina Marga. Belum ada pembicaraan dengan Pak Gubernur. Nanti bilang Pak Gubernur ini orang tidak ada syukur-syukurnya. Saya mappatabe dulu,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Strategi Pemenangan Jaringan Survei Indonesia (JSI) Irfan Jaya, menuturkan, Golkar sejauh ini memang masih tetap menjadi idola. Tetapi daya pikatnya sudah berkurang dibandingkan sebelum terjadi kekisruhan di internalnya.

Menurut Irfan, dalam perspektif bakal calon kandidat, semua partai akan berusaha didekati selama masih memiliki kursi. Terkhusus di Sulsel, kursi Golkar dominan di setiap wilayah yang akan mengikuti pilkada.

[NEXT-RASUL]

“Sehingga sudah sangat wajar jika kandidat berusaha mendekati dan mendapatkan rekomendasinya (Golkar). Dulu memang sempat ada keraguan Golkar bisa menggusung di pilkada. Akan tetapi, pilkada serentak 9 Desember lalu menjadi acuan semua kandidat bahwa meski terjadi dualisme partai, akan tetapi rekomendasi Golkar masih tetap sah,” tuturnya.

Daya pikat Golkar, lanjut Irfan, sudah tidak sedahsyat sebelumnya. Hal itu karena kandidat tentu juga berpikir bahwa mengejar Golkar sama saja dengan mengejar dua partai, karena kandidat di Golkar mesti mengejar rekomendasi kedua kubu yang bertikai saat itu.

“Jika tidak ada islah atau solusi yang bisa menyatukan Golkar maka kemungkinan kandidat tidak menjadikan Golkar sebagai tumpuan utama. Kemungkinan kandidat akan mengamankan terlebih dahulu partai lain, lalu menjadikan Golkar sebagai penambah saja.Tentu lain halnya jika Golkar bisa bersatu kembali sebelum pilkada. Jika partai ini kembali solid, maka di situ akan terlihat keseksian partai Golkar,” jelasnya. (E)


div>