RABU , 13 DESEMBER 2017

Gubernur Sikapi Kelangkaan Elpiji 3 Kg

Reporter:

Al Amin Malliuri

Editor:

asharabdullah

Jumat , 10 November 2017 13:27
Gubernur Sikapi Kelangkaan Elpiji 3 Kg

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, bereaksi atas terjadinya kelangkaan Liquified Petroleum Gas (LPG/Elpiji) 3 Kilogram (Kg) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini.

Syahrul bahkan bersikap dengan segera melakukan peninjauan ke lapangan.
Menurutnya, sebelumnya ia telah melakukan koordinasi dengan penyedia bahan baku gas dalam hal ini PT Pertamina terkait kelangkaan kebutuhan dasar rumah tangga miskin tersebut.

“Elpiji langka sudah ada informasi, tapi saya butuh data konkret di daerah mana saja terjadi. Saya siap serbu (peninjauan langsung), soalnya sejauh ini Pertamina masih terus komunikatif melaporkan,” ujar Syahrul di kantornya, Kamis (9/11) kemarin.

Syahrul mengakui, pihaknya tidak bisa memantau 24 jam, namun akan berusaha segera menyelesaikan persoalan ini.

“Tentu tidak bisa dikontrol 24 jam, yang penting pemerintah tidak diam dan ada di semua situasi yang ada,” jelasnya.

Gejolak kebutuhan masyarakat ini terjadi setelah sejumlah warga, khususnya di Kota Makassar yang mengeluh terhadap langkanya gas bersubsidi tersebut.

Salah satunya yang dialami Yusniar (37), Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kelurahan Pacceerakkang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Menurutnya, ia kesulitan mendapatkan gas bersubsidi itu, lantaran di sejumlah outlet penyedia gas masih kosong.

“Iye, masih kosong ini saya dapat di BTP (Bumi Tamalanrea Permai). Jauh sekali, itu pun mahal sekali saya beli Rp20 ribu, padahal biasanya di pengecer hanya Rp18 ribu,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Mahmud (54), seorang pedagang eceran. Ia mengakui, kurangnya pasokan gas Elpiji 3 Kg itu, membuatya sulit untuk melayani konsumen. Selain itu, dirinya harus membeli gas Elpiji 3 Kg ini dengan harga mahal.

“Ini sudah dua pekan kurang pasokannya. Saya beli mahal dari harga jualnya, makanya saya juga jualnya mahal,” bebernya.

Menanggapi hal itu, PT Pertamina, melalui Area Manager Communication & Relation Pertamina Sulawesi, Hermansyah Y Nasroen, mengaku, pihaknya tetap mengklaim distribusi Elpiji 3 Kg hingga saat ini normal tanpa adanya pengurangan stok.

Tentu hal ini bertolak belakang dengan kondisi di lapangan. Hermansyah mengatakan, volume Elpiji 3 Kg yang disalurkan Oktober 2017, khusus Sulsel sejumlah 6.553.997 tabung atau setara rata-rata harian sebesar 252.077 tabung per hari.

Jumlah tersebut telah sesuai dengan rata-rata penyaluran Elpiji 3 Kg tiap bulannya. Penyaluran Elpiji 3 Kg ini sesuai kuota yang ditentukan pemerintah. “Penyaluran kita tetap, tidak ada pengurangan,” ujarnya.

Menurutnya, sebanyak 117 agen sebagai perpanjangan penyaluran gas bersubsidi tersebut dari 7.909 pangkalan. Adapun aktivitas pengisiannya dilakukan di 15 Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) dan saat ini berjalan lancar tanpa kendala.

Pihaknya menduga, kelangkaan Elpiji 3 Kg hanya terjadi di pengecer bukan di pangkalan resmi. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat membeli Elpiji 3 Kg di pangkalan terdekat sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni Rp15.500. Sebab pengecer bukan jalur distribusi resmi Pertamina.

“Pertamina sebagai badan usaha yang ditugaskan menyediakan dan mendistribusikan Elpiji 3 Kg, hanya melakukan pengawasan pendistribusian hingga ke tingkat agen dan pangkalan, tidak sampai ke tingkat pengecer,” jelasnya. (*)


div>