MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Guru Pesantren IMMIM Putra Raih Gelar Doktor dengan Predikat Sangat Memuaskan

Reporter:

Editor:

Ridwan Lallo

Selasa , 20 Februari 2018 22:41
Guru Pesantren IMMIM Putra Raih Gelar Doktor dengan Predikat Sangat Memuaskan

Nur Isra Ahmad saat ujian promisi Doktor di UIN Alauddin Makassar.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Gelar Doktor (Dr) berhasil diraih salah satu guru SMA/MA Pesantren IMMIM Putra, Nur Isra Ahmad dalam Sidang Promosi Doktor Dalam Dirasah Islamiyah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Selasa (20/2).

Dalam sidang promosi itu, Nur Isra Ahmad mendapat IPK 3,82 dengan predikat sangat memuaskan. Gelar tersebut berhasil diraihnya setelah mampu mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pengaruh tingkat pendidikan dan tipe pola asuh orang tua terhadap pemahaman keagamaan anak di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa”.

Nur Isra Ahmad menjelaskan, tujuan penelitian ini untuk menggambarkan tingkat pendidikan ibu di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa, menggambarkan tipe pola asuh ibu di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa, menggambarkan pemahaman keagamaan anak umur 6-12 tahun di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa, menemukan dan menganalisis pengaruh tingkat pendidikan ibu terhadap
pemahaman keagamaan anak umur 6-12 tahun di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa.

 

 

Selain itu, untuk menemukan dan menganalisis pengaruh tipe pola asuh ibu terhadap pemahaman keagamaan anak umur 6-12 tahun di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa, menemukan dan menganalisis pengaruh tingkat pendidikan dan tipe pola asuh ibu secara bersama-sama terhadap pemahaman keagamaan anak umur 6-12 tahun di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa.

Nur Isra menambahkan, jenis penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan metodologis, yakni positivistik dan pendekatan keilmuan yakni pedagogik dan psikologis.

“Adapun responden dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak berumur 6-12 tahun yang berjumlah 60 orang dengan teknik pengambilan sampel proportionate stratified random sampling. Metode pengumpulan data yaitu, kuesioner dan dokumentasi. Teknik pengolahan dilakukan melalui analisis deskriptif dan analisis inferensial,” ujar Nur Isra.

Adapun hasil penelitian, kata Nur Isra, menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu berada pada tingkat pendidikan SMA dengan persentase 40 persen, tipe pola asuh ibu di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa berada pada kategori sedang dengan persentase 58,3 persen. Kemudian pemahaman keagamaan anak umur 6-12 tahun di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa berada pada kategori sedang dengan persentase 55 persen. Tidak terdapat pengaruh tingkat pendidikan ibu terhadap pemahaman keagamaan anak umur 6-12 tahun di Kelurahan Samata Kabupaten Gowadapat dilihat pada nilai signifikansi 0,3040,05.

Hasil penelitian lainnya, terdapat pengaruh tipe pola asuh ibu terhadap pemahaman keagamaan anak umur 6-12 tahun di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05). Selanjutnya, tidak terdapat pengaruh tingkat pendidikan dan tipe pola asuh ibu secara bersama-sama terhadap pemahaman keagamaan anak umur 6-12 tahun di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa.

“Hal ini diperlihatkan dari nilai signifikansi 0,496 0,05 maka Ho diterima, artinya tingkat pendidikan dan tipe pola asuh orang tua secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap pemahaman keagamaan anak di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa,” jelasnya.

Adapun implikasi penelitian bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara tingkat pendidikan ibu terhadap pemahaman keagamaan anak di Kelurahan Samata Kabupaten Gowa.

Hal ini disebabkan karena tinggi dan rendahnya tingkat pendidikan orang tua (ibu) secara formal tidak bisa dijadikan patokan dalam menentukan keberhasilan dalam memberikan pemahaman keagamaan anak. Mengingat saat ini kemampuan untuk mengaskses informasi sangatlah cepat, sehingga siapapun bisa dengan mudah belajar dari berbagai sumber media.

“Pengetahuan yang diterima oleh ibu juga akan memberikan dampak bagi pola asuh yang diterapkan di dalam memberikan pemahaman keagamaan anak. Tentunya hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Izzaty yang dikutip oleh Bunda Novi yang menyatakan bahwa peranan orang tua dalam pendidikan anak memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan watak dan karakter anak,” terangnya.

Berdasarkan hal ini, maka orang tua hendaknya meningkatkan peranannya dalam membimbing anak dengan meningkatkan pemahamannya tentang cara yang tepat dalam membina perilaku keagamaan anak.

“Selanjutnya diharapkan kepada pemerintah untuk memberikan kontribusi agar dapat terselenggaranya kegiatan-kegiatan parenting baik seminar, training ataupu talk show, sehingga pengetahuan mengenai pola pendidikan anak dapat secara merata diketahui oleh masyarakat,” pungkas Nur Isra. (*)


div>