SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Halal Bi Halal dan Sambung Rasa Keluarga Besar IMMIM

Reporter:

Editor:

Lukman

Kamis , 12 Juli 2018 19:23
Halal Bi Halal dan Sambung Rasa Keluarga Besar IMMIM

Keluarga Besar IMMIM, saat menggelar Halal Bi Halal di Gedung Islamic Centre IMMIM, Kamis (12/7).

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Keluarga Besar IMMIM menggelar Halal Bi Halal dalam bentuk Forum Diskusi Pilar Kemakmuran Masjid dan Sambung Rasa tentang Evaluasi Dakwah Ramadhan 1439 H berlangsung di Gedung Islamic Centre IMMIM, Kamis (12/7).

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Syura DPP IMMIM AGH.Drs.Muhammad Ahmad, Ketua Umum DPP IMMIM Prof.Dr.H.Ahmad M.Sewang, M.A, Ketua Umum YASDIC IMMIM Ir.H.M.Ridwan Abdullah, M.Sc, sejumlah pengurus DPP IMMIM, para mubalig, pengurus.masjid, imam rawatib dan jamaah masjid.

Ketua Umum DPP IMMIM Prof Ahmad M Sewang menyatakan, Halal Bi Halal kali ini bertujuan untuk melakukan evaluasi pelaksanaan amaliah ramadhan 1439 H, agar lebih baik di masa mendatang.

“Hal-hal yang perlu dibicarakan, antara lain masalah yang dihadapi pengurus masjid dan para Mubalig IMMIM, diantaranya nomor Hp. Mubalig yang tidak aktif. Karena itu, diharapkan agar mubalig mengaktifkan no. Hp.nya dan pro aktif menghubungi pengurus masjid dimana ia ditugaskan. Sebab jika hp mubalig tidak diangkat, berarti dianggap berhalangan, sehingga staf IMMIM mengirim naib, akhirnya 2 mubalig yang datang ke lokasi. Untuk itu, DPP IMMIM menyiapkan nomor Hp. Sekretariat IMMIM: 08114444822,” jelasnya.

Selain itu, dalam menyusun jadwal ceramah tarwih tahun depan akan dimasukkan tanggal hijriah. Bahkan perbedaan waktu shalat tarawih, perlu disepakati saat bulan puasa, dan diusulkan mulai shalat isya jam 19.30 Wita.

“Dianjurkan agar pengurus Masjid memasang jam dinding di depan mimbar yang memudahkan khatib mengontrol lamanya bicara saat ceramah/khutbah,” harapnya.

Selanjutnya untuk mubalig agar perlu menyiapkan waktu cadangan 15 menit sudah tiba di lokasi sebelum waktu ceramah/khutbah dimulai. “Jika mubalig berhalangan agar melapor ke immim, agar segera dicarikan naib sesuai klasifikasi masjid dan kualifikasi mubalig IMMIM,” kuncinya.

Pada sesi tanya jawab, Ustaz Sudirman mengharapkan agar para mubalig disiplin waktu, sehingga pengurus masjid tidak gelisah jika mubalig telat. “Selain itu, judul ceramah agar disampaikan kepada mubalig jauh-jauh hari, agar mubalig bisa mempersiapkan materi dakwahnya dengan baik, jangan sampai dadakan,” harapnya.

Sementara itu Korcam IMMIM Biringkanaya S. Achmad menyatakan iri dengan Al Markaz al Islami yang selalu dijadikan contoh. Namun bagi dirinya yang mengelola 50 masjid di Kecamatan Biringkanaya selalu mengkomunikasikan jadual mubalig lebih awal bahkan 2-3 hari sebelum hari H, sehingga memudahkan mencari pengganti jika ada yang berhalangan.

Dr.Mokhtar Hamzah menyatakan beda waktu di jam dinding setiap masjid, sehingga sering membingungkan. Selain itu, etika pemberian amplop mubalig agar lebih baik, misalnya mubalig diberikan insentifnya di ruangan khusus di dalam masjid.

Pengurus Masjid Babul Muttaqin Minasa Upa meminta para mubalig agar menyebut ayat dan hadis dengan fasih dan benar. Selain itu, mubalig agar jangan telat tiba di masjid. Padahal masjid sudah menyiapkan ruangan khusus bagi mubalig untuk istirahat sejenak sebelum tampil di mimbar.

Sementara itu, Pengurus Masjid Ceng hoo Gowa mengakui IMMIM cukup profesional dalam layanan dakwah. Karena jika mubalig berhalangan, segera digantikan naib. Namun pernah juga ada miskomunikasi sehingga 2 mubalig yang datang ke masjidnya.

Prof. Ahmad M.Sewang menjawab bahwa naib yang diutus IMMIM diusahakan sesuai dengan kualifikasi mubalig yang digantikan. Memang diakui ada mubalig yang memiliki profesi lainnya, sehingga kadang berhalangan.

Diharapkan Mubalig agar memakai pakaian terhormat saat bertugas (jas atau syal), sehingga mudah dikenal oleh pengurus masjid saat tiba di lokasi. Namun demikian mubalig juga harus rendah hati, jika ditegur materi ceramahnya, khususnya bacaan ayat dan hadisnya agar legowo dan mau memperbaiki.

Nur Hidayat M.Said mengapresiasi kedua staf IMMIM yang sangat repot dalam melayani pengurus masjid dan mubalig saat ramadhan. Bahkan ada Mubalig yang berpuluh kali ditelpon, tapi tidak ada respon. Karena itu, disiapkan naib bayangan. Untuk itu, agar pengurus masjid dan mubalig saling berkomunikasi dengan baik.

Ditegaskan bahwa IMMIM tidak ada iuran, semata-mata memberi layanan dakwah. Namun dalam menyusun jadual mubalig, digunakan sistem klaster, khususnya masjid yang diatur 100 persen mubalignya oleh IMMIM.

Dr. H.M. Arfah Shiddiq mengakui khusus 1439 H, ada kesalahan model jadual IMMIM, terutama dalam menulis nomor, ada nomor 0 atau 1, sehingga sejumlah mubalig salah faham dan salah jadual, akhirnya “tabrakan”.

Dr. Kamaluddin Abunawas menyatakan beberapa hal yang belum berjalan dengan baik, antara lain karena ada mubalig dan pengurus masjid yang tidak hadir kalau ada pertemuan seperti ini di IMMIM, dan ini yang banyak bermasalah.

Masalah yang diangkat sering berulang terjadi setiap tahun. Karena itu, setiap ke masjid dia tanyakan buku evaluasi IMMIM untuk melihat apakah mubalig IMMIM bertugas dengan baik. Bahkan ada Mubalig yang belum mengerti tentang motto IMMIM.

Pengurus Masjid Darun Naim menyatakan ketika ada 2 mubalig yang datang ke masjidnya, tetap diberi peluang keduanya ceramah dan dua-duanya diberi insentif yang sama. Selain itu, rumah imam rawatib disiapkan tidak jauh dari masjid, sehingga mudah koordinasi dengan jamaah masjid.

Usman dari pengurus masjis Mujahidin Pangkep mengapresiasi IMMIM atas layanan dakwahnya selama ini. Bahkan ia siapkan kamar ganti bagi mubalig. Namun dikeluhkan WA IMMIM sering dijadikan orang tertentu menyebarkan berita hoax.

Drs. H. Syawir Dahlan, M.A mengharapkan mubalig yang membahas khilafiyah agar dipanggil ke IMMIM. Demikian pula disarankan imam rawatib agar fasih bacaan al qur’annya.

Mubalig mengusulkan perlu sinkronisasi antara semua stakeholder masjid agar semua masalah bisa diatasi, termasuk masalah teknis seperti Mic atau sound system. Jamaah Masjid juga perlu diperhatikan layanannya serta mubalig dipilah klasifikasi dan kualifikasinya, sehingga retorika dakwah bisa lebih tepat sasaran. Kapan harus guyon dan kapan ceramah ilmiah. Bahkan setiap ceramah tarwih setiap malam sebaiknya berbeda temanya.

Dr. Nur Bahri Nur mengusulkan agar ada kegiatan outbound mubalig dan pengurus masjid, sehingga lebih akrab. Selain itu, Mubalig IMMIM perlu memakai jaket IMMIM saat bertugas. Adapun topik ceramah bisa diperoleh mubalig dari android.

Ustaz Alwi menyatakan bulan Ramadhan dijadikan ajang untuk promosi, termasuk motto IMMIM, pendiri IMMIM dan doa bagi keluarga IMMIM. Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur dan terima kasih atas layanan dakwah IMMIM selama ini.

Sementara Dr.Dasad Latif mengimbau pengurus masjid memahami fenomena sosial tentang apa yang dibutuhkan jamaah. Misalnya di Medsos orang semakin gencar menghina pemimpin. Nah, dengan pemahaman itu, disodorkanlah tema kepada mubalig membahas fenomena sosial itu. Namun jika mubalig diberikan tema tertentu, maka diberikan juga honor yang tinggi.

Selain itu, perlu pelatihan mubalig agar genenesi melek teknologi. Bahkan para mubalig perlu memberi contoh dalam bersedekah serta ia mengusulkan agar dibuat jas IMMIM yang dipakai mubalig dengan ongkos mubalig sendiri.

Pengurus Masjid Asyik menyatakan perlunya Khatib membaca rukun khutbah dan kalau perlu membawa konsep, agar tidak salah membaca ayat atau hadis saat ceramah/khutbah.

Muslimin Ibrahim mengusulkan agar nama dan nomor hp pengurus masjid ditulis di jadual mubalig IMMIM, sehingga mudah koordinasi.

Dr. Amrah Kasim.meminta mubalig agar fasih membaca ayat Al Quran dan hadis. Isi ceramah harus berkualitas bukan dari WA. Selain itu, Mubalig perempuan agar diterima ceramah ramadhan di masjid yang dikelola IMMIM. Selanjutnya seorang mubaligat mendukung ide ini, demi keseimbangan peran laki-laki dan wanita dalam berdakwah. Selain itu, kesehatan mubalig perlu dijaga dengan baik.

AGH.Muhammad Ahmad berharap agar khatib melaksanakan khutbah sesuai rukun dan syarat khutbah. Agar menyertakan ayat dan hadis serta bacaannya fasih sesuai dengan makhraj huruf.

Dr.Kamaludin menambahkan SDM mubalig perlu ditingkatkan. Selain itu, agar mubalig menjadi teladan serta tidak menyebarkan berita hoax di medsos.

Prof. Ahmad M.Sewang menyarabkan agar mubalig perlu profesional dalam mengantisipasi lompatan kemajuan zaman. Perlu kompetensi subtantif serta penguasaan alqur’an dan hadis.

“Selain itu mubalig perlu wawasan yang luas, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Kompetensi metodologi dakwah diperlukan agar cermahnya enak didengar jamaah. Demikian pula loud speaker masjid harus baik,” kuncinya. (*)


div>