SELASA , 13 NOVEMBER 2018

Harapan Pembaru Indonesia pada Peringatan Hari Tani Nasional

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Senin , 24 September 2018 19:04
Harapan Pembaru Indonesia pada Peringatan Hari Tani Nasional

Saenal Teha,. foto: ist for rakyatsulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemuda Baru (Pembaru) Indonesia Wilayah Sulsel mengucapkan selamat Hari Tani Nasional yang ke-58. 24 September sendiri dietapkan sebagai peringatan Hari Tani Nasional, hari bersejarah bagi kaum Tani Indonesia.

Tepat pada hari ini masyarakat pejuang agraria berhasil mencapai kemajuan yang gemilang, yakni dicetuskannya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960.

Pembaru Indonesia mendukung penuh perjuangan petani yang tergabung dalam Organisasi Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Bulukumba agar PT Lonsum angkat kaki dari tanah petani dan masyarakat adat, serta perjuangan petani di Desa Darubia (Ranting AGRA Darubia) yang dirampas tanahnya melalui Kawasan Taman Hutan Raya Bonto Bahari agar pemerintah dalam hal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera mengeluarkan dari Taman Hutan Raya.

Kaum tani dan rakyat Indonesia berhasil menuntut penghapusan Undang-Undang Agraria warisan kolonial yang mengatur tentang struktur kepemilikan tanah dan pengelolaan kekayaan sumber daya alam Indonesia, yang menindas dan menghisap kaum tani.

Ketua Komite Pembaru Indonesia Eksekutif Wilayah Sulsel, Saenal Teha, menjelaskan, UUPA 1960 merupakan jiwa dan pijakan bagi penyelenggaraan negara untuk menghapuskan monopoli dan perampasan tanah. Namun, keadaan kaum tani dan masyarakat Indonesia sampai detik ini jauh dari apa yang menjadi dasar hadirnya UUPA tahun 1960. Perampasan tanah terus terjadi di negara Indonesia yang masih Setengah Jajahan dan Setengah Feodal (SJSF).

“Telah menjadi hukum kontradiksi mutlak di setiap penindasan akan lahir suatu perlawanan, maka Hari Tani Nasional adalah sejarah perjuangan kaum tani Indonesia dan rakyat tertindas lainnya dalam melawan perampasan/monopoli tanah di negara SJSF,” jelasnya melalui rilis yang diterima redaksi, Senin (24/9).

Saenal menjelaskan, momentum Hari Tani Nasional dijadikan sebagai kesempatan untuk mengkampanyekan perampasan tanah di pedesaan. Massifnya perampasan tanah di pedesaan mengakibatkan pemuda tani di pedesaan kehilangan pekerjaan, sehingga melahirkan pengangguran dan buruh yang murah.

Perampasan tanah di pedesaan akan semakin memerosotkan ekonomi kaum tani di pedesan, sehingga anak-anak petani tidak dapat mengakses pendidikan.

“Menggalang persatuan pemuda hal mutlak yang harus dilakukan untuk mendukung kaum tani menentang RAPS/TORA Reforma Agraria palsu Jokowi. RA-TORA-PS Jokowi-JK merupakan pembodohan bagi kaum tani yang pada dasarnya hanya merampas Tanah kaum Tani. RA-TORA-PS adalah program Reforma Agraria Palsu yang langsung didanai IMF-WB melalui utang,” jelasnya.

“Artinya RA-TORA-PS adalah Program Agraria yang mengabdi kepada imperialis dan feusalisme yang hanya menyengsarakan kaum tani di Indonesia,” tambahnya. (****)


div>