JUMAT , 21 SEPTEMBER 2018

Harga Ayam dan Telur Masih Mahal, Ini Pemicunya

Reporter:

Editor:

Lukman

Rabu , 11 Juli 2018 15:12
Harga Ayam dan Telur Masih Mahal, Ini Pemicunya

int

JAKARTA,RAKYATSULSEL.COM – Harga telur dan ayam masih mahal momen lebaran sudah lewat. Kementerian Perdagangan menyebut harga bahan baku ternak ayam masih tinggi. Sebagian pakan ternak mengandalkan impor sehingga harganya tertahan karena pelemahan rupiah.

Berdasar pantauan harga rata-rata telur di ibu kota melalui infopangan.jakarta.go.id, harga telur berkisar Rp 27.500–Rp 28.000 per kilogram. Lebih tinggi daripada kisaran harga normal, yakni Rp 22.000–Rp 24.000 per kilogram.

Harga ayam juga tercatat masih di level Rp 36.000 per kilogram. Harga itu masih di atas harapan pemerintah melalui Permendag 62/2018 yang menargetkan harga ayam di tingkat eceran Rp 31.500/kg (Jatim dan Jateng), Rp 33.000/kg (DKI, Jabar, dan Banten), serta Rp 34.000/kg (luar Jawa).

”Iya, harga telur ayam tinggi. Penyebabnya, harga bahan pakannya naik,” ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat ditemui di kantor Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Selasa (10/7).
Harga Ayam dan Telur Masih Mahal, Ini Pemicunya

Di Jatim, berdasar data sistem informasi ketersediaan dan perkembangan harga bahan pokok (siskaperbapo) yang dirilis Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, rata-rata harga daging ayam broiler sebulan terakhir sempat melandai. Namun, sejak dua hari lalu, ada peningkatan. Pada 10 Juli harga naik dengan rata-rata Rp 34.261 per kg. Sedangkan untuk telur, pada 10 Juli, rata-rata harga telur ayam ras (petelur) Rp 25.472 per kg.

Menurut catatan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), sekitar 35 persen bahan baku pakan ternak masih diimpor. Pakan ternak dengan bahan baku kedelai diimpor dari Brasil, Argentina, dan AS. Sedangkan tepung daging diimpor dari AS, Australia, dan Selandia Baru.

Selain itu, menurunnya produksi bahan baku ternak dalam negeri seperti jagung membuat harga pakan semakin tinggi. ”Pakan jagung sekitar 45 persen dari produksi pakan nasional. Produksi pakan kami estimasi sekitar 19,5 juta ton per tahun,” ujar Ketua Umum GPMT Desianto Budi Utomo.

Saat ini harga bahan baku jagung berkisar Rp 4.100–Rp 4.200 per kg. Menurut Desianto, menurunnya pasokan akan berimbas pada kenaikan harga pakan. ”Semester II produksi jagung nasional hanya sekitar 35–40 persen. Kemungkinan harga jagung naik. Ini akan menjadi faktor penambah kenaikan harga pakan karena sekitar 45 persen pakan ayam dari jagung,” tambahnya.

Sementara itu, Presiden Federasi Masyarakat Perunggasan Don P. Utoyo juga menyebutkan, harga bahan pakan ternak impor masih tertahan. Dia mengatakan, harga bahan baku pakan ternak naik seiring dengan menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. ”Ini juga yang membuat harga hasil produksi unggas dan olahan dari Indonesia kalah bersaing di pasar internasional,” ujar Don.

Di sisi lain, Ketua KPPU Kurnia Toha menambahkan, pihaknya sedang memonitor penyebab kenaikan harga telur ayam di pasar. ’’Kami sedang melihat kenapa kok ini masih tinggi. Sedang kami dalami itu. Saya khusus meminta ini kepada staf agar turun ke pasar untuk memantau,’’ ujar Kurnia. (Jpnn)

 

 


div>