SENIN , 22 OKTOBER 2018

Harga Nikel Anjlok, PT Vale Kencangkan ‘Ikat Pinggang’

Reporter:

Editor:

hur

Selasa , 02 Februari 2016 16:11

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Harga nikel terus anjlok, di mana saat ini sudah menyentuh angka US$ 8.000-an per metrik ton. Harga tersebut anjlok ke level terendah dalam enam tahun terakhir.

Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Nico Kanter, Selasa (2/2), mengakui, harga itu jauh dari prediksi yang ada selama ini.
“Harga nikel kali ini betul-betul jauh dari yang diharapkan dan diprediksikan. Bahkan, mungkin prediksi pengamat pun jauh dari harga ini,” terangnya.

Nico mengakui, anjloknya harga nikel itu masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depannya.

“Anjloknya harga nikel ini karena kondisi ekonomi global. Kondisi ini masih akan terjadi. Harga nikel masih akan bergerak di angka US$ 8.000-an atau berkisar US$8.400-US$8.610 per metrik ton,” ujarnya.
Nico mengatakan, meski demikian hal itu (anjloknya harga nikel) tidak akan mengurangi produksi PT Vale Indonesia. Perusahaan yang berbasis di Sorowako, Luwu Timur ini, justru akan tetap meningkatkan produksinya.

“Anjloknya harga nikel tidak membuat PT Vale Indonesia kurangi produksi. Kami justru akan optimalkan dan meningkatkan produksi dengan mengejar target produksi. Caranya melakukan optimalisasi produksi dan menekan biaya produksi atau efisiensi anggaran. Yaitu dengan kata lain ‘ikat pinggang’ mesti dikencangkan,” terangnya.

Nico mengakui, efisiensi anggaran juga dilakukan dengan cara untuk sementara waktu tidak menerima karyawan. “Sementara waktu kita (PT Vale Indonesia) tidak akan menerima karyawan tetap. Meski demikian kami tidak akan melakukan efesiensi karyawan. Kalau pun efisiensi karyawan dilakukan, maka itu merupakan senjata terakhir,” terangnya.

Sementara, Ketua Umum Pengurus Daerah Provinsi Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi, dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP KEP SPSI) Sulsel, Ryan Latief, mengharapkan agar PT Vale Indonesia tetap mampu bertahan dalam melaksanakan produksinya.

“Kami menyadari saat ini kondisi perekonomian dunia semakin memburuk yang menimpa perusahaan-perusahaan besar, seperti perusahan minyak dan gas serta otomotif dan juga pertambangan. Langkah restrukturisasi dan efesiensi PT Vale Indonesia kami harap bisa mencegah terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Jangan sampai ada PHK,” terangnya.

“Kami sadari biaya produksi dan harga nikel dunia sudah tidak berimbang lagi dan tentu manajemen PT Vale Indonesia memiliki langkah jitu untuk mampu bertahan di tengah anjloknya harga nikel. Kami tentu berdoa jangan sampai produksi nikel terhenti itu akan membawa dampak besar perekonomian Sulsel dan Indonesia,” tambah Ryan Latief.


Tag
  • pt vale
  •  
    div>