SELASA , 20 FEBRUARI 2018

Harga Rumah Naik, Pengembang Berjaya, Masyarakat Makin Susah Beli

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 30 April 2014 16:06
Harga Rumah Naik, Pengembang Berjaya, Masyarakat Makin Susah Beli

Ilustrasi

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Realestate Indonesia (REI) Provinsi Sulawesi Selatan optimis mampu mencapai target pembangunan rumah bersubsidi tahun 2014 sebanyak 10 ribu unit di Sulawesi Selatan. Sikap optimistis tersebut menyusul Peraturan Menteri Perumahan Rakyat No 3 Tahun 2014 yang menaikkan harga rumah bersubsidi.

“Dengan adanya kebijakan itu, kita optimis bisa mencapai terget bangun 10 ribu unit tahun ini. Ke depan kita akan mendorong pengembang untuk membangun rumah bersumsidi ini untuk menjawab kebutuhunan konsumsen. Dulu memang sempat pembangunan di tahan karena harga yang terlalu rendah,” ungkap Ketua DPD REI Sulsel, Arief Mone.

Arief mengatakan, menyusul kenaikan harga tersebut, pembangunan rumah bersubsidi di Sulsel akan maksimal pasca lebaran Idul Fitri tahun ini. Mengenai penjualan, pihaknya juga optimis akan ada peningkatan penjualan mengingat produksi yang ditingkatkan.

“Dulu kita terkendala di harga, makanya pembangunan rumah bersubsidi sempat ditahan. Padahal kebutuhan rumah segmen itu cukup tinggi. Kalau tahun ini yang menjadi kendala kita adalah naiknya suku bunga kredit rumah subsidi dan ketersediaan lahan pembangunan rumah,” jelas Arief, Rabu (30/4).

Sementara itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah I Sulawesi Maluku dan Papua (Sulampua) menggambarkan, harga properti residensial di pasar primer pada kuartal I tahun 2014 masih dalam tren peningkatan, indeks harga properti residensial menunjukkan peningkatan sebesar 5,79 persen dibandingkan triwulan sebelumnya atau naik 14,07 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data historis, pertumbuhan harga rumah menunjukkan trend meningkat selama lima tahun terakhir, sejalan dengan masih tingginya permintaan masyarakat terhadap rumah tempat tinggal. Faktor yang dinilai menjadi penyebab kenaikan harga rumah adalah kenaikan harga bahan bangunan, kenaikan upah pekerja, biaya perijinan yang relatif mahak.

Kenaikan harga terjadi pada seluruh tipe rumah dengan kenaikan tertinggi terjadi pada tipe kecil yakni 16,23 persen secara tahunan, diikuti tipe menengah yakni 13,55 persen secara tahunan dan tipe besar yakni 12,34 persen. Apabila dilihat secara per kuartal, kenaikan tertinggi juga terjadi pada rumah tipe kecil yakni 8,10 persen diikuti tipe menengah sebesar 5,94 persen dan tipe besar 3,34 persen.

“Fasilitas KPR tetap menjadi pilihan utama sumber dana dalam melakukan transaksi pembelian properti. Prospek pembelian rumah pada tahun 2014 masih cukup bagus, khususnya untuk rumah tipe menengah dan kecil,” kata Kepala BI Sulampua, Suhaedi, Rabu (30/4).

Menurut Suhaedi, hal tersebut tercermin dari responden dimana kurang dari 5 persen responden yang menyatakan permintaan rumah turun, sementara sebagian besar lainnya menyatakan bahwa permintaan rumah pada 2014 normal yakni sebanyak 58 persen dan meningkat 37 persen.

“Sebagian besar responden menyatakan bahwa tantangan utama bisnis roperti tahun 2014 terkait dengan kenaikan harga bahan bangunan, suku bungan KPR, perpjakan, uang muka rumah dan perizinan. Faktor lain yang juga menjadi tantangan bisnis properti adalah keterbatasan dan kenaikan harga lahan serta regulasi FLPP,” kuncinya.


div>