SELASA , 16 OKTOBER 2018

Hargai Kearifan Lokal, Akbar Faizal Dianugerahi Gelar Adat PUTO A’BAH

Reporter:

Editor:

Lukman

Kamis , 09 Agustus 2018 09:51
Hargai Kearifan Lokal, Akbar Faizal Dianugerahi Gelar Adat PUTO A’BAH

Anggota Komisi III DPR RI, Akbar Faizal saat berkunjung ke Kajang.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM -Pemimpin tertinggi Tana Toa Kajang, Amma Toa menganugerahi anggota Komisi III DPR RI, Akbar Faizal gelar adat.

Penganugerahan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap kiprah dan sepak terjang Akbar dalam membela kepentingan warga Sulawesi Selatan. Legislator Nasdem ini diangkat sebagai keluarga besar dan diberi gelar PUTO A’BAH.

“Saya merasa terhormat dan berterimakasih atas penghargaan ini. Tana Toa adalah salah satu contoh masyarakat adat yang tetap secara disiplin menjaga keluruhan budayanya dengan tidak menerima kehidupan modern, menjaga orisinalitas daerahnya dan kehidupannya,” ucap Akbar Faizal di Kajang, Bulukumba, Selasa, (7/8/2018).

Akbar beranggapan bahwa budaya-budaya unik seperti ini harus dipertahankan sebagai penyeimbang kehidupan modern yang ada di luar. Bagaimanapun, di tengah arus deras globalisasi, kearifan lokal harus tetap dipelihara sebagai wujud identitas bangsa.

Akbar menjelaskan, menurut pemahaman masyarakat adat Kajang, sebelum gelar bangsawan pemilik kewenangan-kewenangan kultural yang ada di kerajaan bone, wajo, dll yang paling tua adalah PUTO yang berarti Raja bagi mereka. Selain itu pula, Amma Toa ternyata juga ada struktur kekuasaannya hingga ke bawah.

Kedatangan Akbar diantar langsung oleh panglima perang Tana Toa yang juga kepala desa lolisang, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, dan juga Kapolsek Kajang, AKP Samsul Bahri yang juga telah menyatu dengan masyarakat disana. Setelah menerima gelar adat, Akbar dan seluruh rombongan juga menerima wejangan dari Amma Toa.

“Beliau berpesan, kita sebagai manusia harus menjaga keseimbangan alam agar lebih terjaga keasrian lingkungan dan budaya, untuk menjaga harmonisasi kehidupan. Karena itu, nilai-nilai yang ditanamkan di Kajang sejalan dengan nilai-nilai kebaikan seperti dilarang mencuri, harus hidup jujur, hanya memakan makanan yang merupakan haknya, dst”, tutup Akbar. (*)


div>