MINGGU , 20 JANUARI 2019

Hari Anti Korupsi, Kejati Rapor Merah

Reporter:

Iskanto

Editor:

Sabtu , 08 Desember 2018 07:32
Hari Anti Korupsi, Kejati Rapor Merah

Kantor Kejati Sulsel (int)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Memperingati hari anti korupsi, Kejaksaan Tinggi Sulsel diberi rapor merah oleh Om Betel Law Investigation karena tak becus mengurusi kasus korupsi di Sulsel. Salah satunya yakni kasus, Reklamasi penyewaan lahan negara di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar.

Menurut Om Betel, kejaksaan seolah telah buang handuk dalam memburu Jentang. Sebab sejak ditetapkannya Jentang sebagai tersangka Kejati belum berhasil mengendus keberadaannya.

”Jentang sampai saat ini belum ditangkap, padahal dia berada di Indonesia. Jentang seakan kebal hukum,” kata Om Betel, Jumat (7/12).

Tak hanya itu, ia menyoroti pembangunan gedung yang berada didepan Benteng Roterdam yang diduga akan digunakan Jentang untuk melakukan ruislag dengan kantor Polres Pelabuhan Makassar.

”Sudah ada bangunannya, diduga akan dijadikan sebagai ruislag dengan kantor polres pelabuhan, ini kan aneh. Jentang buron namun terus melakukan pembangunan, padahal Mantan gubernur Sulsel Syahrul Yasin limpo dengan tegas melarang pembangunan di depan Roterdam karena situs cagar budaya,” terangnya.

Untuk itu, ia menyarankan kepada kejati untuk segera menyita kekayaan Jentang. Sebab menurut Om Betel, jika hal tersebut dilakukan maka otomatis jentang tak lagi mempunyai dana untuk melarikan diri.

”Kalau tak berani, turun saja kajati dari tampuk kepemimpinannya,” tuturnya.

Menurut Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel, Tarmizi dalam kasus Jentang sendiri telah melakukan berbagai upaya. Diantaranya berkomunikasi dengan KPK dan meminta bantuan dari Polri untuk melakukan pengejaran.

Ia juga berharap Adhyaksa Monitoring Center (AMC) yang dijalankan oleh Jaksa Agung Muda bidang Intelijen (JAM Intel) Kejaksaan Agung (Kejagung). Untuk memaksimalkan pengejaran terhadap Jentang.

“Jadi kami tetap optimis dan terus berupaya dalam pengejaran Jentang. Selain menggandeng Kepolisian dan KPK, tim AMC Kejagung juga sudah bergerak. Bahkan JAM Pidsus juga sudah memerintahkan seluruh Kejaksaan se-Indonesia bergerak membantu,” ungkap Tarmizi.

Diketahui Setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus reklamasi penyewaan lahan negara di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar. Jentang dikabarkan minggat bersama istri ke Jakarta, tepatnya Kamis 2 November 2017 dan hingga saat ini memilih buron dan tak memenuhi panggilan penyidik Kejati Sulsel.

Jentang sendiri dinilai berperan sebagai aktor utama dibalik terjadinya kerugian negara dalam pelaksanaan kegiatan penyewaan lahan negara yang terdapat di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar.

Penetapan dirinya sebagai tersangka telah dikuatkan oleh beberapa bukti diantaranya bukti yang didapatkan dari hasil pengembangan fakta persidangan atas tiga terdakwa dalam kasus korupsi penyewaan lahan negara buloa yang hingga saat ini perkaranya bergulir di tingkat kasasi. Ketiga terdakwa masing-masing M. Sabri, Rusdin dan Jayanti.

Selain itu, bukti lainnya yakni hasil penelusuran tim penyidik dengan Pusat Pelatihan dan Aliran Transaksi Keuangan (PPATK). Dimana dana sewa lahan diambil oleh Jentang melalui keterlibatan pihak lain terlebih dahulu.


div>