MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Hari Bahasa Daerah Moment Menanamkan Kecintaan Siswa Pada Bahasa Daerah

Reporter:

Editor:

hur

Minggu , 21 Februari 2016 17:37

PAREPARE, RAKYATSULSEL.COM — Hari bahasa daerah sedunia yang ditetapkan United Nations Educations, Saintific, and Cultural Organisation (UNESCO) pada tanggal 21 Februari, dirayakan di SMPN 2 Parepare. Namun karena 21 Februari bertepatan dengan hari libur, sehingga perayaannya dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 Februari lalu

Dalam perayaan hari bahasa daerah tersebut, semua siswa diwajibkan sehari menggunakan bahasa daerah. Bahkan Kepala SMPN 2 Parepare telah menetapkan hari Sabtu sebagai hari wajib berbahasa daerah untuk menanamkan kecintaan siswa terhadap bahasanya, yaitu bahasa daerah.

Bekerjasama dengan media Pare TV dalam program Paccarita road show, berbagai macam penampilan siswa dan guru bernuansa bahasa daerah yang ditampilkan, seperti stand up comedy Bugis, mendongeng, drama berbahasa Bugis, puisi Bugis berbalasan (elong sibali-bali), penampilan qasidah Bugis Mappadendang, tari Latu’ Salima’, yel-yel Bugis, membaca lontara’ cepat tentang sejarah kelahiran Kota Parepare, lagu solo Bugis, vokal grup Bugis, dan penampilan tari Jeppeng guru-guru.

“Dalam sebuah falsafah Bugis, orang tua kita terdahulu telah berpesan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi adat dan budayanya, yaitu salah satunya adalah bahasa daerah,” ujar Kepala SMPN 2 Parepare, Hj. Sry Enyludfiah di sela-sela sambutannya.

Nampaknya, perayaan hari bahasa daerah tersebut mendapat tempat di hati siswa dan guru-guru. Mereka merayakan hari bahasa daerah dengan riang sebagai suatu kebanggaan akan identitas daerahnya. Salah satunya Ketua Komuitas Gerakan Pecinta Bahasa Daerah, Muthmainnah. Siswa yang berhasil mengajak teman-temannya ini dalam sebuah komunitas pecinta bahasa daerah telah berhasil menjadikan bahasa daerah sebagai suatu kebutuhan dan sangat pantas untuk disosialisasikan di sekolah-sekolah.

“Kami sangat bersyukur adanya kebijakan Ibu Kepala Sekolah yang telah memberikan peluang bagi kami untuk merayakan bahasa daerah,” aku Innah, sapaan siswa kelas VIII ini. Menurutnya, dengan perayaan hari bahasa daerah tersebut menjadi moment untuk menumbuhkan kecintaan para generasi muda terhadap bahasa daerah yang sudah mulai bergeser oleh penuturnya.

“Bahasa daerah tak hanya sudah dilupakan, bahkan banyak siswa yang gengsi untuk berbahasa daerah di rumahnya, terlebih lagi di lingkungan sekolah,” terangnya.


div>