MINGGU , 18 NOVEMBER 2018

Hasto Sebut Prabowo Gagal Paham soal Ekonomi

Reporter:

Editor:

Iskanto

Jumat , 12 Oktober 2018 14:20
Hasto Sebut Prabowo Gagal Paham soal Ekonomi

Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto.

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Tim Kampanye Nasional Joko Widodo – Ma’ruf Amin (TKN Jokowi – Ma’ruf) menilai Prabowo Subianto gagal paham soal ekonomi Indonesia. Hal ini menyusul pernyataan Prabowo yang menyebut sistem ekonomi Indonesia melebihi neoliberal.

“Sejarah mencatat, bahwa reformasi lahir karena koreksi atas sistem yang otoriter di mana ekonomi kekuasaan saat itu hanya didominasi kroni Soeharto. Pak Prabowo seharusnya paham hal ini. Saat itu, ekonomi kekuasaan ditopang oleh sistem otoriter,” kata Sekretaris TKN, Hasto Kristiyanto, Jumat (12/10).

Dalam sistem itu, lanjut Hasto, mereka yang kritis dipenjara, bahkan diculik dan terkadang dimusnahkan. Ketika terjadi krisis, kedaulatan negara digadaikan melalui letter of intent IMF.

“Dan Pak Prabowo memahami hal ini dan segala akibatnya tidak bisa cuci tangan. Kami akan siap berdebat sekiranya yang disampaikan adalah konsepsi ekonomi Indonesia yang sesuai konstitusi yang selama ini terus diperjuangkan oleh Pak Jokowi,” kata dia.

Lebih lanjut kata Hasto, Prabowo harus paham dampak 32 tahun ekonomi kekuasaan juga membawa keuntungan bagi total kekayaannya saat ini. “Saya memastikan bahwa serangan Pak Prabowo ke Pak Jokowi tersebut akan menimbulkan serangan balik dari rakyat. Sebab pernyataan Pak Prabowo tersebut sama saja dengan menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri,” kata dia.

Oleh karena itu, Hasto mengaku tidak rela sistem ekonomi saat ini disebut ekonomi kebodohan dan pada saat yang sama kubu Prabowo beretorika tentang Make Indonesia Great Again.

Sekretaris jenderal PDI Perjuangan ini juga mengatakan, Prabowo semakin menunjukkan bahwa yang bersangkutan pura-pura lupa dengan sejarah, lalu menimpakan hal tersebut sebagai kesalahan Presiden Jokowi.

Padahal dari aspek elementer, terang Hasto, Prabowo tidak bisa membedakan antara penganiayaan dengan operasi atau mark-up wajah.

“Inilah contoh dari kebodohan itu sendiri. Capres negarawan seharusnya menyampaikan narasi positif untuk Indonesia Raya, bukan malah merendahkan martabat bangsa dan rakyatnya sendiri, dengan membodoh-bodohkan ekonomi bangsanya,” kata dia.

Tindakan membangun infrastruktur secara masif, jaminan sistem kesehatan nasional, sertifikasi tanah rakyat, program kerakyatan melalui Kartu Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar, pengambilalihan Freeport, Blok Rokan dan Blok Mahakam serta berbagai prestasi lainnya, bukanlah kebodohan.

“Bagi kami, banteng-banteng PDI Perjuangan, konsepsi ekonomi Pak Jokowi justru mencerdaskan bangsa. Hanya orang-orang yang tertutup mata hatinya yang melihat segala sesuatu dari perspektif negatif,” tandas Hasto. (jpnn)


div>