RABU , 26 SEPTEMBER 2018

HEDONISME

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 08 April 2017 12:19
HEDONISME

Haidar Majid

Jika ada yang bertanya, maukah anda hidup berkecukupan? Jawabnya bisa spontan, “pasti iya”. Jika Anda di tanya lagi, maukah anda hidup berkelebihan? Jawabnya, “mungkin iya”, dengan nada terbata-bata. Pertanyaan pertama, jawabannya lebih enteng. Sedang yang kedua, butuh banyak pertimbangan, butuh sedikit alasan pembenaran.

Hidup berkecukupan bisa dimaknai sebagai kondisi dimana seluruh kebutuhan bisa teratasi atau diadakan. Takarannya proporsional, menyesuaikan kemampuan, tidak terjebak pada terminologi “terpaksa”, “dipaksa” dan “memaksa”. Sedang berkelebihan, cenderung mendekati aroma hidup bermewah-mewah dan bermegah-megah.

Salahkah jika seseorang hidup mewah? Bisa jadi “tidak”, bisa juga “iya”. Alasannya sederhana, toh mewah itu efek dari ‘jerih payah’ yang selama ini dilakoni. Toh semua itu ‘buah’ dari usaha bertarung hidup. Toh, itu semua hadir bukan tanpa sebab, itu semua ada karena keuletan dan kerja keras. Kira-kira seperti itu pembenarannya. Jadi dimana letak salahnya?

Tetapi tunggu dulu, itu baru satu perspektif. Pada dimensi lain, mewah itu menjadi semacam dinding batas, dinding jarak dan dinding pemisah. Mewah bisa membuat diri bertabur ego, yang melilit diri untuk terpisah, berpisah dan memisahkan diri dari orang lain. Menganggap diri paling bisa, paling hebat dan paling mampu.

Mewah juga senantiasa menggoda untuk dipertontonkan. “Saya kan beda dengan kalian. Saya punya ini, kalian tak punya. Saya bisa begitu, kalian tak bisa, maka lihatlah saya”. Mewah bisa bikin gelisah ketika tak memperoleh “pengakuan”, sehingga orang yang bertahta di area kemewahan, biasanya haus pengakuan. Seolah “mewah” yang disandangnya ‘gersang’ jika tak diakui orang.

Ambisi untuk mempertontonkan kemewahan, seringkali tak terkendali, bahkan telah menjadi semacam ‘es-o-pe’. Kemewahan hanya ‘sempurna’ jika semua telah terhampar di depan mata orang. Kemewahan hanya ‘terasa’ jika orang telah berdecak kagum. Kemewahan hanya punya ‘getaran’, jika seluruh ‘rasa’  telah ‘melotot’ dan terdengar suara “wow”.

Orang yang gemar mempertontonkan kemewahan sering lupa atau bisa juga pura-pura lupa, bahwa apa yang dilakukannya mungkin tidak berefek decak kagum atau juga memperoleh apresiasi “wow”. Sebaliknya tindakan yang dilakukannya justru membuat sekitarnya jadi apriori ataupun juga malah antipati. Apatah lagi, jika apa yang ditampilkan sudah cenderung berlebihan.

Hal lain, bahwa kemewahan sendiri bukanlah sesuatu yang melulu untuk dipertontonkan. Kemewahan itu soal “rasa”. Merasa diri “mewah”, meski dengan kesederhanaan sekalipun, sebenarnya jauh melampaui kemewahan yang dikemas dalam bentuk “benda”. Pada posisi ini, tidak sedikit orang yang keliru memaknai, apa itu “mewah.

Jadi, bermewah-mewah apalagi mempertontonkan kemewahan, sungguh bukanlah perbuatan yang terpuji, bahkan bisa jadi perbuatan seperti itu tak lebih dari “menggantang asap mengukir langit”, tujuannya untuk memperoleh decak kagum dengan tepukan “wow”, tidak tercapai. Malah sebaliknya yang diperoleh adalah cibiran dengan sedikit kalimat, “mau na tong dibilang mewah, biasa aja kali’. Santai maki ka dunia ji ini”.


div>