SENIN , 19 NOVEMBER 2018

HIjrah Nabi ke Madinah – Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part VI

Reporter:

by Ahmad M. Sewang

Editor:

Nunu

Senin , 19 Maret 2018 11:49
HIjrah Nabi ke Madinah – Kisah Perjalanan Umrah Bersama Ujas Tour Part VI

int

Dalam perjalanan menuju Mekah menunaikan ibadah Umrah. Pimpinan Ujas Tour telah menggariskan sebelum jamaah keluar dari hotel setelah selesai salat luhur di Masjid Nabawi, sebaiknya sudah wudu dan sudah memakai pakaian ihram. Sebab nanti pada jam 14.00 langsung berangkat dan singgah di Zulhuzaifah Masjid Bir Ali untuk salat sunat tahiyatul masjid dua rakaat dan sunat Irham dua rakaat kemudian berniat untuk Irham, seperti petunjuk guide, Khaeruddin.

Sepanjang jalan dari Madinah ke Mekah yang berjarak kurang lebih 450 km, pikiran saya justru melanglang buana mengenang sebuah peristiwa 1439 tahun lewat. Kenangan itu muncul setelah menyaksikan kangsung padang pasir luas yang sekitarnya bergunung tandus membentang sepanjang perjalanan. Kondisi geografi itulah yang dilewatiketi Nabi ketika hijrah dari Mekah ke Madinah. Terbayang betapa sulit tantangan dihadapi dalam memperjuangkan izzul Islam. Nabi hijrah dalam kondisi jalan berbatu di bawah terik matahari padang pasir. Belum lagi ancaman dalam perjalanan, yaitu pengejaran kaum Quraisy yang ingin membunuhnya. Belum lagi ancaman di jalan berupa serangan binatang buas. Cuaca ekstrim yang tidak bisa diperhitungkan, seperti panas terik di siang hari dan dingin yang menusuk tulang di malam hari. Dalam kondisi demikian, Nabi mengendarai unta yang perjalanannya memakan waktu lama 12 hari untuk sampai ke Qubah. aseperti diketahui, Nabi berangkat 1 Rabiulawal Awal dan tiba 12 Rabiulawal di Qubah. Bisa dibandingkan perjalanan jamaah umrah sekarang dengan naik bus full AC, hanya di tempuh 5 sampai 6 jam dengan rata-rata kecepatan 130 km per jam di atas jalanan aspal mulus. Itu pun jamaah sudah merasa lama.

Nabi hijrah untuk kepentingan jangka panjang, sehingga agama Islam sampai pada generasi kita sekarang. Andai saja Nabi melakukan perlawanan kepada kaum Quraisy sementara seluruh fasilitas kekuatan di tangan mereka, maka Nabi, secara sunatullah, bisa saja terbunuh dan Islam tidak akan sampai pada kita.

Hijrah Nabi bukan berarti lari dari medan juang. Hijrah Nabi berarti strategi untuk menyusun kekuatan di Madinah. Ternyata setelah Nabi mencapai kekuatan besar di Madinah sementara Musyrik Quraisy di Mekah semakin melemah, barulah dilakukan al-Futuhat ak-Makkiyah, pembukaan kota Mekah. Musyrik Quraish yang pernah menganiayah Nabi, sekarang sudah tak berdaya bahkan berlutut di hadapan Nabi. Ketika Nabi bertanya pada kaum Quraisy tentang apa yang mereka inginkan? Mereka mohon kiranya mendapat pengampunan. Nabi pun, menjawab, “Saya akan membacakan pada kalian pernyataansaudaraku Nabi Yusuf ketika dianiaya saudara-saudaranya,” seperti di abadikan dalam QS Yusuf, ayat 92,

قال لا تثريب عليكم اليوم يغفر الله لكم وهو أرحم الراحمين
“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.

Nabi memberi pengampunan umum kepada orang-orang yang pernah menganiayanya, pada hal saat itu Nabi bisa memberi pembalasan, sebab kekuatan ada di tangannya. Nabi lebih memilih jalan damai. Penaklukan Mekah dilakukan secara damai, tidak setetes pun darah yang mengalir, semua berlangsung secara aman.

Itulah perenungan sepanjang perjalanan ke Mekah. Sementara Khaeruddin sebagai gaide m mengingatkan para jamaah sepanjang perjalanan tentang rukun, wajib, dan larangan-larangan umrah. Khaeruddin sudah 18 tahun mengikuti halaqah di Mekah, di samping sebagai guide yang cukup menguasai tugasnya. Alhamdulillah, kami tiba di Swissotel ak-Maqam Mekah jam 22.00 agak telat sebab molor waktu ketika berangkat dari Madinah.

Pelajaran yang bisa diambil:

1. Hijrah Nabi adalah sebuah perjalanan penuh derita, onak, dan duri. Tujuannya semata-mata demi izzul Islam. Mengenang perjuangan Nabi, sepertinya belum ada arti perjuangan kita dibanding dengan Nabi.
2. Hijrah bukan berarti lari dari medan juang, melainkan sebuah strategi. “Mundur untuk maju,” kata ahli setrategi yang menirukan strategi kambing, mundur bukan berarti buang handuk, tetapi mengumpulkan kekuatan lebih besar dalam menghadapi musuh yang mengancam.


Tag
  • ujas tour
  •  
    div>