SELASA , 12 DESEMBER 2017

Hikmah, SHut, MSi Raih Gelar Doktor di Unhas

Reporter:

Editor:

Muh Sophian AS

Rabu , 22 November 2017 00:32
Hikmah, SHut, MSi Raih Gelar Doktor di Unhas

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Disertasi yang berjudul model pengembangan agrosylvoapiari berbasis landscape pada pengelolaan hutan desa, mengantar Hikmah, SHut, MSi meraih gelar Doktor dalam bidang Ilmu Pertanian, Konsentrasi Kehutanan.

Sidang ujian promosi gelar Doktor digelar di di Aula Fakultas Kehutanan Unhas, Rabu (22/11).

Dosen Kopertis wilayah IX Sulawesi yang bertugas di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) itu mengatakan, penelitian ini bertujuan menganalisis landscape agrosylvoapari pada areal hutan desa, menganalisis preskripsi managemen agrosylvoapiari yang dipraktekkan oleh masyarakat Desa Pattaneteang, dan merancang model pengembangan agrosylvoapiari yang optimal pada areal hutan desa.

Penelitian dilaksanakan di Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan.

Metode penelitian dengan analisis landscape, kata Hikmah meliputi analisis fisik dan analisis vegetasi. Analisis preskripsi manajemen meliputi analisis pengetahuan lokal masyarakat, analisis pendapatan, analisis produktivitas lebah madu, analisis ekuivalensi lahan, dan analisis kelembagaan.

“Hasil penelitian menunjukkan landscape hutan desa terdiri atas tiga areal pengelolaan yaitu areal hutan desa, areal kebun masyarakat, dan areal pemukiman sekitar hutan desa. Berbagai jenis vegetasi pakan lebah dapat tumbuh untuk mendukung pengembangan agrosylvoapari,” ujarnya, Selasa (21/11).

Hikmah menambahkan, potensi vegetasi didominasi jenis vegetasi pakan lebah dengan indeks keanekaragaman tergolong sedang sampai tinggi. Waktu pembungaan vegetasi pakan lebah tersedia sepanjang tahun. “Kesatuan landscape yang terbentuk mendukung model pengembangan agrosylvoapiari,” katanya.

Lebih jauh ia menjelaskan, pengelolaan agrosylvoapiari oleh masyarakat di Desa Pattaneteang masih dilakukan secara konvensional dengan memungut madu pada lubang batu, sarang di pohon, dan memelihara lebah apis cerana di dalam lubang batu dan box kayu.

“Pemanfaatan produk madu oleh masyarakat masih terbatas untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Model pengembangan agrosylvoapiari dikembangkan dengan mengintegrasikan hutan desa, kebun, dan pemukiman sekitar hutan desa sebagai satu kesatuan lanscape yang saling menyuplai pakan lebah madu,” jelasnya.

“Integrasi model pengembangan dilakukan dengan intervensi pakan lebah madu dan koloni lebah. Model pengembangan agrosylvoapiari dapat menghasilkan produksi madu sebesar 65,6 ton/tahun dengan menyuplai kebutuhan madu nasional sebesar 1,82 persen,” pungkas Hikmah. (*)


Tag
  • best people
  •  
    div>