SENIN , 18 DESEMBER 2017

Hmmm, Beginilah Jeroan ‘Surga’ di Lantai 7 Alexis Hotel

Reporter:

Editor:

Sofyan Basri

Selasa , 31 Oktober 2017 20:33
Hmmm, Beginilah Jeroan ‘Surga’ di Lantai 7 Alexis Hotel

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Alexis Hotel yang terletak di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara belakangan ini menjadi buah bibir. Terlebih, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang kini dipimpin Anies Baswedan menolak permohonan perpanjangan izin usaha bagi Alexis Hotel dan griya pijat di dalamnya.

Dugaan yang mencuat, penghentian izin usaha bagi Alexis Hotel karena tempat hiburan malam milik Alexis Group itu menjadi sarang prostitusi. Konon, pekerja seks komersial (PSK) di Alexis Hotel pun diimpor dari mancanegara.

Lantai tujuh di Alexis Hotel pun sering disebut-sebut oleh penggemar pijat plus-plus sebagai surga dunia. Lantas, seperti apakah jeroan Alexis Hotel?

Manajemen Alexis Hotel pun membuka pintu bagi awak media, Selasa (31/10) siang. Media yang hadir dibawa menyusuri lantai tujuh Alexis Hotel yang konon seperti surga dunia itu.

Lantai pertama Alexis Hotel adalah lobi. Selanjutnya, awak media diarahkan menuju lantai dua. Begitu keluar dari lift, ada kantor di sebelah kanan. Sedangkan di sebelah kiri terdapat lounge dan restoran.

Di tengah lounge itu pula pengunjung langsung dihadapkan dengan bar. Meski bar sudah tidak beroperasi lagi, tapi di kulkas dan meja bartender masih terdapat sejumlah minuman beralkohol.

Lounge itu dipartisi menjadi empat bagian. Pertama adalah bar dan lounge utama untuk pengunjung umum. Lalu, di belakang bar, terdapat dua ruangan VIP.

Suasana lounge tampak remang dan elegan. Sebab, lantainya disisipi dengan kolam-kolam kecil. Jika tak hati-hati, pengunjung bisa tercebur ke kolam-kolam itu.

Tapi itu baru awal. Selanjutnya, awak media diarahkan ke lantai tujuh Alexis Hotel yang masyhur. Konon, di lantai inilah praktik prostitusi sering dilakukan.

Begitu keluar dari lift di lantai tujuh, pengunjung langsung dihadapkan dengan tulisan Bathhouse SPA & Lounge. Jika keluar dan belok kiri, pandangan mata langsung dihadapkan dengan meja kasir.

“Seperti inilah gambaran lantai tujuh Hotel Alexis. Sama seperti hotel-hotel lainnya. Tidak ada praktik prostitusi di sini,” kata Legal and Corporate Affair Alexis Group Lina Novita saat mendampingi para awak media.

Memang, dari pantauan media tidak ada aktivitas yang terlihat di lantai tujuh Alexis Hotel. Hanya ada beberapa petugas jaga.

Selanjutnya, awak media diajak melihat beranda terbuka di lantai tujuh. Di selasarnya terdapat gazebo-gazebo di sisi kanan dan kirinya.

Sedangkan di tengahnya terdapat kolam ikan yang melintang. “Di gazebo-gazebo ini biasanya tempat pengunjung merebahkan diri,” tutur Lina.

Setelah melewati deretan gazebo, pengunjung lantai tujuh Alexis Hotel akan melihat tiga kolam dengan warna berbeda. Oranye, merah muda, dan biru.

Menurut Lina, tiga kolam itu punya air dengan spesifikasi berbeda. Yakni kolam air panas, air dingin dan air terapi.

Tepat di sebelah kolam terdapat ruang sauna. Di sebelah kanan ruang sauna juga ada lorong kecil. Pengunjung yang sudah berendam dan menghangatkan diri di ruang sauna, biasanya diajak ke lorong itu.

Lina mengatakan, di dalam lorong tersebut merupakan ruang massage dan spa. Pengunjung yang hendak menikmati massage harus melewati lorong dengan pencahayaan temaram dan menuruni tangga.

Keluar dari tangga, terdapat bilik-bilik kamar. Setiap kamar memiliki fasilitas berbeda. Ada yang memiliki bathtub, ada juga yang tidak.

Salah satu petugas yang berjaga mengatakan, harga kamar yang yang dilengkapi bathub senilai Rp 600 ribu. “Sedang yang biasa itu Rp 400 ribu,” kata pria bersafari yang tak mau menyebutkan namanya itu.

Namun, Lina menjamin tak ada kegiatan ilegal di Alexis Hotel, termasuk soal prostitusi. Bahkan, Lina mengklaim Alexis Hotel menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) DKI dalam angka signifikan.

“Kalau tidak salah Rp 30 miliar per tahun. Kami juga mempekerjakan 600 pegawai tetap, sementara pegawai lepas 400 orang,” kata Lina.(tan/jpnn)


div>