RABU , 19 DESEMBER 2018

Hobi Nonton Bokep, Ternyata Bikin Pria Payah di Ranjang

Reporter:

Azis Kuba

Editor:

Jumat , 14 Februari 2014 13:52
Hobi Nonton Bokep, Ternyata Bikin Pria Payah di Ranjang

ilustrasi (int)

RAKYATSULSEL.COM – Sudah menjadi hal yang umum jika sebagian besar pria suka menonton bokep alias film porno. Jika Anda salah satunya, lebih baik segera kurangi atau jika bisa hentikan kebiasaan ini.

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa pria yang kebanyakan menonton film porno kemampuannya untuk beraksi di ranjang akan menurun.

Studi ini menyatakan bahwa paparan porno pada pria, apalagi kalau ia sampai merasa ketagihan, menandakan bahwa kepercayaan dirinya rendah dan kemungkinan ia tak bisa menikmati aktivitas seksual biasa. Hal ini dikarenakan adanya stimulasi dopamin (neurotransmitter yang mengaktifkan pusat kesenangan di otak) secara terus menerus akibat menonton film porno.

Dalam proses ini, efek paradoks akan terjadi di mana otak kehilangan kemampuannya untuk merespons tingkat normal dopamin. Dan ini artinya pria tersebut perlu pengalaman yang bersifat ekstrem untuk bisa terangsang dan merasa puas dalam hal aktivitas seksual.

“Jumlah kasus masalah seksual akibat pornografi kerap meningkat karena sangat populer dan aksesnya mudah. Padahal sering menonton film porno justru bisa mengurangi definisi seseorang akan arti yang sebenarnya dari bercinta,” kata seksolog, Dr. Deepak Jumani, seperti dilansir laman Times of India, Kamis (13/2).

Seksolog lainnya, Dr. Dhananjay Gambhire, yang juga banyak menerima pasien dengan kasus serupa, mengungkapkan bahwa apa yang ditampilkan dalam film porno bukanlah seks alami.

“Itu merupakan akibat perangsangan yang berlebihan. Jika kemudian pria mencoba melakukan hal yang sama, tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan seringnya berupa kegagalan. Ini bisa memberi efek sangat buruk pada hubungan seksual,” kata Dr. Gambhire.

Untuk pengobatan tahap awal, biasanya Dr. Gambhire akan menyarankan pasiennya untuk komitmen meninggalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan film porno. Setelah itu, pengobatan lain berupa konseling dan obat juga kadang-kadang diresepkan, bergantung pada kondisi si pasien itu sendiri. (jpnn)


div>