JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Hujan Angin dan Petir Menyambar, Menteri Desa Tetap Blusukan

Reporter:

Editor:

hur

Minggu , 14 Februari 2016 19:03

BEKASI, RAKYATSULSEL.COM – Suara gamelan ditimpai hujan dan petir mengalun dari depan rumah singgah Bale Panyindangan Jaga Satru. Rumah yang dibangun dari kayu pohon nangka tua itu dipakai untuk menyambut Menteri Desa, Pembangunan Daeragh Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar saat meninjau penyerapan dana desa di desa Hegarmukti, Cikarang Pusat, Bekasi, Minggu (14/2).

Desa Hegarmukti telah memanfaatkan dana desa tahun 2015 untuk pembangunan turab dan irigasi. Pembangunan turab dilakukan di setu Rawabinong sepanjang 1100 meter dari luas setu 95 ribu meter persegi.

Rawa seluas 95 ribu meter persegi itu seperti menjadi oase bagi masyarakat Bekasi. Karenanya, setiap hari, selalu saja ada pemancing yang datang. Bahkan, pada 19 Februrari 2016 di Rawa Benong akan diselenggarakan lomba memancing.

Oleh Jamad Jais, lurah Hegarmukti, potensi setu binong ini akan terus dimaksimalkan, salah satunya dengan membuat wisata air. Upaya ini dipastikan dapat memberi manfaat bagi masyarakat sekitar setu, khususnya untuk mendapatkan nilai tambah. Kepada pemerintah ia berpesan, “Dorongan dan bantuan dari pusat kami harapkan agar menjadi tempat wisata dan kampung adat yang bermanfaat bagi masyarakat.”

Ia juga mengatakan bahwa ke depan, di setiap sisi setu, akan ditanam pohon-pohon langka untuk pendidikan. Saat ini, yang sedang diusahakan adalah menanam pohon binong sebagai trademark setu.

Sebelumnya, berdasar riset yang dilakukan oleh Research Institute of Human and Nature (RIHEN), Rawa Binong menjadi setu yang paling ideal dari 187 setu di Jakarta terkait pemanfaatannya.

Rumah Singgah
Rumah Singgah ini terletak persis di depan Setu Rawa Binong. Salim, staf desa Hegar Mukti mengatakan, Rumah singgah ini terbuat dari pohon nangka tua. Meski baru dibangun, tetapi bahan utama rumah berasal dari 4 generasi yang lalu.

Rumah singgah menjadi rumah bersama bagi warga Hegarmukti. Ia juga menjadi semacam tempat berkumpul terutama saat purnama. Biasanya, semalam suntuk, warga lek-lekan (tidak tidur) dalam acara ritual ngabumbang.

Menteri Desa, Marwan Jafar menganggap hujan bukan penghalang untuk tetap bekerja. Sdelain mengapresiasi pengunaan dana desa 2015 di Hegar Mukti, ia juga berpesan agar dana desa tahun 2016 ini difokuskan untuk membangun infrastruktur. Saat ini, besaran dana desa telah dinaikkan menjadi Rp47 Triliun sehingga rata-rata desa mendapat dana Rp742 juta per desa. “Tapi kalau ditambah dengan ADD 10 persen dari APBD, maka jumlahnya nambah sampai lebih dari Rp 1,5 miliar per desa,” ucapnya.


div>