RABU , 23 MEI 2018

Hukum yang Berkeadilan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 12 Mei 2017 10:28
Hukum yang Berkeadilan

Arifuddin Saeni

KITA tidak tahu, apakah Themis sang dewi kebajikan dan keadilan, yang banyak menghiasi ruang-ruang peradilan kita, tersenyum dengan vonis yang dijatuhkan oleh hakim kepada Ahok. Tak banyak memang yang menaruh harapan, tapi hakim sungguh membuka mata kita, bahwa masih ada secercah harapan di ujung sana bahwa hukum masih berkeadilan.

Dalam banyak hal, rakyat memang tak salah kalau pesimis dengan penegakan hukum. Bagaimana kasus Sengkong dan Karta, bagaimana rakyat dipertontonkan dengan permainan hukum yang menggelikan. Tapi kali ini, hukum telah memperlihatkan kepada kita semua, bahwa jangan mengaduk dipersoalan agama.

Tapi hukum kadang memperlihatkan cara pandang yang berbeda. Ketika hukum ditegakkan, di tempat yang lain, justru merasa tak menerima keadilan. Interpretasi yang berbeda, kadang melahirkan air mata dan kekecewaan. Tapi seperti Dewi Themis, hakim selalu menutup mata—–bahwa hukum memang harus ditegakkan.

Apakah kemudian ada yang merasa tak adil. Itu barangkali soal tapsir. Kita kadang merasa jengah dengan hukum, karena sesungguhnya kita berada pada posisi yang salah. Itu juga kalau kita mau memahami itu. Tapi kebenaran kadang absurd, sehingga sulit untuk dipahami. Lalu kebenaran itu diperoleh dari mana, apakah dari palu hakim ataukah dari pasal-pasal yang telah usang.

Mungkin benar apa yang dikatakan Cicero, seorang filsuf dan negarawan Romawi Kuno, bahwa hukum akan menjadi baik, kalau orang-orang yang ada di dalamnya juga memiliki sikap yang baik. Karena hukum adalah roh bagi orang-orang yang tertindas.

Tapi di mana kita akan mengetuk pintu-pintu keadilan, di mana kita harus menaruh harapan, ketika hukum tak lagi adil. Apakah mereka yang ada di pinggir-pinggir jalan dengan otot yang menggembung ataukah mereka yang berwajah sangar.

Tidak, hukum masih saya percaya pada ruang sunyi, dengan napas yang lempang. Di sana, pasal-pasal itu masih diterjemahkan dengan adil. Bahwa rakyat, masih bisa menyandarkan harapannya di meja-meja hijau, dengan hakim yang masih memiliki marwah. (*)


div>