SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Ibu

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 23 Desember 2016 11:10
Ibu

Arifuddin Saeni

HIKAYAT tentang Malinkundang yang begitu berdosa kepada ibunya barangkali menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, tentang seorang anak yang lupa kepada seorang ibu yang silau dengan kehidupan duniawi. Penyangkalan yang berbuah batu.

Cerita yang berurat berakar dalam cerita verbal anak-anak kita ketika masih kecil, kini tergantikan dengan cerita ibu-ibu di layar kaca yang cerewet dan sedikit culas, ataukah mereka yang menghabiskan waktunya untuk bergosip, soal tetangganya yang memiliki mobil baru. Tapi yang namanya ibu tetaplah manusia yang punya naluri untuk mengasuh dan mengasihi.

Kita tidak pernah membayangkan, bagaimana seorang ibu yang begitu mencintai anak-anaknya, dengan rela bangun di tengah malam, hanya karena mendengar sang buah hati menangis. Sementara sang ayah tertidur pulas di sampingnya.

Bagaimana tanggungjawab seorang ibu yang begitu besar, ketika di tengah malam buta dia harus bangun menyediakan makan sahur untuk suami yang dicintainya, yang masih tertidur mendengkur–dan ia memang tak pernah mengeluh.

Tapi pernahkah ia menuntut banyak hal selain kesetiaan. Tidak! Seperti itu yang dilakukan oleh Gandari istri dari Prabu Drestarasta dari kerajaaan Astinapura—yang dengan rela menutup matanya, demi menjaga perasaan suaminya yang buta. Cintanya yang berlebihan kepada anaknya, Duryudana, mendorongnya untuk menguasai Astinapura.

Salahkah seorang ibu. Tentu saja tidak. Sebab, dia selalu mengharapkan kecemerlangan masa depan keturunannya. Apa pun itu, walau jalan terjal harus dilalui, ataukah dengan cara peperangan sekali pun. Dan Gandari melakukannya itu.

Tapi di sudut-sudut negeri ini, begitu banyak cerita-cerita memilukan yang terkabarkan kepada kita, tentang seorang ibu yang menganiaya anaknya hingga merenggang nyawa.  Masih ingat kasus di Desa Tambakselo, Grobogan, Jateng, di mana bocah Azka, di usia lima tahun tewas di tangan ibu kandungnya dengan tusukan di leher.

Cerita-cerita pilu ini kadang mencederai kebaikan-kebaikan seorang, yang tak mengenal lelah membesarkan anak-anaknya. Air mata yang mengalir serta kegundahan yang teramat sangat, tak pernah diperlihatkan. Ketegaran dalam penderitaan dan kebajikan yang tak bertepi selalu diperlihatkannya. Ibu, bukan hanya pemilik surga, tapi juga pemilik kehidupan anak-anaknya.

Ibu memang tak berharap banyak kepada anak-anaknya untuk dibalas. Dia juga tak berharap untuk berbayar. Seperti ibu yang lain, dia hanya berharap doa anak-anaknya bisa dijabah oleh Allah SWT. Doa yang bisa menggoyahkan Arazi untuk keselamatannya di akhirat. Lain itu tidak. (*)


div>