JUMAT , 21 SEPTEMBER 2018

IHSG Diprediksi Menguat, Begini Analisisnya

Reporter:

Editor:

Lukman

Minggu , 18 Maret 2018 10:13
IHSG Diprediksi Menguat, Begini Analisisnya

int

RAKYATSULSEL.COM– Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan masih menormalkan posisinya dari area jenuh beli sehingga tren penurunan masih berlanjut.

Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, pergerakan IHSG pada pekan depan diperkirakan mencoba kembali menguat meski tipis dengan asumsi pelaku pasar memanfaatkan pelemahan sebelumnya untuk kembali masuk.

“Pergerakan IHSG di pekan depan diperkirakan akan berada pada kisaran level batas bawah (support) 6.265-6.278 dan batas atas (resisten) 6.389-6.412,” ujarnya di Jakarta, Minggu (17/3).

Mengamati perdagangan pekan lalu, imbuh Reza, kembali adanya aksi jual membuat pergerakan IHSG belum keluar dari zona merah. Aksi jual masih kerap terjadi sehingga pelemahan masih terjadi.

“Meski laju Rupiah mulai menguat jelang akhir pekan namun, belum cukup kuat mengangkat IHSG,” tuturnya.

 

Belum Lepas Dari Jeratan Sentimen Negatif, IHSG Merosot ke Level 6.383

Menurutnya, harapan akan terjadinya penguatan terjadi dimana laju IHSG mampu kembali berbalik menguat pada perdagangan awal pekan kemarin.

“Positifnya sejumlah bursa saham global, laju Rupiah yang mampu kembali terapresiasi, dan adanya pemberitaan positif dimana Pemerintah berencana menyelesaikan sejumlah kebijakan sebelum akhir Maret, diantaranya revisi tax holiday, tax allowance, penurunan tarif PPh UKM, dan lainnya hingga komitmen Jepang dalam pembiayaan proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya turut direspon positif,” jelasnya.

Meskipun demikian, pasca menguat, laju IHSG kembali melemah. Harapan untuk tidak dilakukan aksi profit taking tampaknya tidak terjadi sehingga IHSG pun berbalik melemah.

Bahkan adanya pendapat dari Kemenkeu dimana insentif pajak Indonesia akan mendorong investasi yang lebih menarik dari tawaran investasi negara-negara lain, serta kembali terapresiasinya Rupiah tidak cukup kuat mempertahankan IHSG di zona hijaunya.

Menurutnya, kepanikan berlebihan dalam menanggapi sentimen yang ada membuat pelaku pasar kembali menderita karena kepanikan yang dibuat mereka sendiri setelah terimbas pelemahan bursa saham Asia yang merespon negatif pemecatan Tillerson sebagai Menlu AS oleh Presiden Trump.

Di sisi lain, adanya sejumlah pernyataan positif dari dalam negeri dan kembali terapresiasinya Rupiah belum cukup kuat mengangkat IHSG ke zona hijau.

Pergerakan IHSG cenderung kembali melemah seiring kembali khawatirnya terjadinya perang dagang dengan penerapan tarif impor AS membuat sejumlah indeks saham global melemah dan berimbas pada turunnya IHSG.

Mulai membaiknya laju sejumlah bursa saham Asia tidak mampu mengangkat IHSG yang cenderung tertekan seiring respon negatif terhadap rilis kembali terjadinya defisit neraca perdagangan dan meningkatnya jumlah utang negara per Februari.

Seperti diketahui, asing mencatatkan nett sell Rp 2,86 triliun dari pekan sebelumnya nett sell Rp 4,51 triliun. Masih maraknya aksi jual membuat posisi transaksi asing menjadi net sell dimana hingga pekan kemarin membuat nilai transaksi asing tercatat bersih bersih Rp 17,92 triliun di atas sebelumnya yang masih net sell Rp 13,93 triliun (YTD).

“Meski diharapkan ada pergerakan positif namun, tetap mewaspadai juga terdapat potensi pelemahan lanjutan seiring belum adanya sentimen positif yang cukup signifikan mengangkat IHSG,” tandasnya. (JPC)


div>