JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Ikan Bandeng, Telur dan Daging Ayam Picu Inflasi

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Selasa , 19 Desember 2017 17:51
Ikan Bandeng, Telur dan Daging Ayam Picu Inflasi

Pimpin Rapat HLM, Asisten II Pemprov Sulsel, Muh Firda (kedua dari kiri) tekankan peringatan dini terhadap cuaca buruk sebagai pemicu inflasi, Selasa (19/12). Foto: Al AMin/RakyatSulsel

*TPID Waspadai Pengaruh Cuaca Buruk

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Rapat pengendalian inflasi High Level Meeting oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulsel dilakukan. Sejumlah kebutuhan pokok mulai dikhawatirkan akan berdampak inflasi memasuki natal dan tahun baru, termasuk cuaca buruk yang terjadi di hampir melanda seluruh wilayah Indonesia.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Sulsel, Muh Firda mengatakan, sejumlah kebutuhan pokok mulai memicu inflasi sampai pertengahan bulan ini. Salah satunya ikan bandeng yang menjadi kebutuhan utama sebagian besar masyarakat Sulsel.

“Bandeng itu sangat berpengaruh dengan inflasi, karena menjadi kebutuhan utama juga di Sulsel. Selain itu, ada usul dari BMKG agar dapat memanfaatkan budidaya bandeng sebelum cuaca ekstrim terjadi,” ungkap Muh Firda, usai memimpin rapat High Level Meeting di Ruang Rapat Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (19/12).

Selain itu, lanjut Firda, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang terkendali jadi salah satu perhatian. Menurutnya, harga kelompok bahan makanan relatif terkendali dengan tren harga yang menurun. Termasuk kebutuhan lainnya seperi telur dan daging ayam.

“Kami secara intensif melakukan pemantauan harga khususnya untuk komoditas yang sesuai polanya menjadi penyumbang inflasi. Termasuk dengan melakukan sidak ke pasar-pasar,” pungkasnya.

Sementara itu, Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Sulsel, Musni Hardi K. Atmaja mengatakan, sejauh ini harga kebutuhan pokok di Sulsel relatif masih terkendali. Kendati terjadi inflasi di November namun masih di rentang aman 0,33 persen mtm. Ini disebabkan pergerakan harga tiket pesawat, bahan bakar rumah tangga, bandeng, beras dan cabai rawit.

“Secara tahunan juga masih di bawah 5 persen. Posisinya 3,68 persen yoy hingga November,” ungkapnya.

Meski begitu, pihaknya patut mewaspadai meningkatnya inflasi pada setiap akhir tahun. Musni memprediksikan gejolak inflasi ini mulai terlihat di pekan kedua Desember. Inflasi atau kenaikan harga mulai terjadi pada komoditas pangan. Khususnya sayur mayur dan lauk.

“Tomat sayur, telur ayam ras, kangkung, bandeng, dan bawang merah mulai melonjak harganya. Ini sesuai data survei pemantauan harga (SPH),” bebernya.

Selain itu, produsen, distributor dan para agen agar tetap menjaga ketersediaan bahan pokok dengan harga wajar. Juga meminta kepada daerah yang surplus agar memasok atau bekerja sama dengan daerah yang mengalami kekurangan stok pangan.

“Sejauh ini Sulsel masih aman. Per 18 Desember, stok beras ada 134.511 ton. Ini aman untuk persediaan 18,6 bulan. Gula pasir juga rata-rata di atas 10 ribu ton aman untuk 2 bulan. Tepung terigu dengan stok 33.750 ton aman 3,2 bulan,” rinciannya.

Bahan pokok strategis lain juga aman persediaannya. Seperti daging sapi ada stok 7.930 ton aman 4,8 bulan. Kemudian daging ayam aman 5,6 bulan dengan stok 6.860 ton. Kemudian telur ada 19.330 ton ini aman 10,2 bulan.

“Dengan segala langkah yang dilakukan. Termasuk stok yang aman, inflasi masih relatif terjaga di bawah 5 persen,” tandasnya.

Kendati tren inflasi di Sulsel cukup rendah, namun kenaikan harga-harga kebutuhan pokok di akhir tahun patut diwaspadai.

Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Reza Yuda Pahlawan menuturkan, kondisi cuaca dan perubahan iklim yang unik harus jadi perhatian juga. Kata dia, saat ini sudah memasuki musim hujan yang berpotensi mengganggu produksi komoditas pangan. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi di pertengahan Januari hingga pertengahan Februari.

“Bila tidak diantisipasi ini bisa menganggu produksi. Dan berpengaruh ke kenaikan harga bila stok komoditas pangan menipis,” terangnya. (*)


div>