JUMAT , 21 SEPTEMBER 2018

IMB Jadi Penentu Gerindra Sulsel

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 27 April 2017 10:33
IMB Jadi Penentu Gerindra Sulsel

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Partai Gerindra dinilai mesti merumuskan strategi politik baru untuk mendulang dominasi kemenangan di Pilkada Serentak yang digelar Juni 2018 mendatang. Hal itu menyusul kekalahan partai ini di Pilgub DKI Jakarta, termasuk kekalahan partai Gerindra dalam memenangkan satu-satunya event politik pilkada serentak yang di gelar di Sulsel di Takalar. Terlebih Gerindra terkesan over convidance dengan mengusung petahana, di dua kontestasi politik yang sama tapi beda level ini.

Hadirnya Idris Manggabarani (IMB) sebagai nahkoda baru Gerindra Sulsel menjadi penentu gerak politik Gerindra di Pilkada serentak Sulsel nantinya.

Menanggapi hal itu, Konsultan Politik dari Jaringan Suara Indonesia (JSI) Arif Saleh menuturkan, Partai Gerindra dibawah kepemimpinan Idris Manggabarani punya tantangan berat menghadapi berbagai momentum politik di depan mata. Menurut Arif, Partai Gerindra yang sempat mendulang kesuksesan dengan menempatkan sejumlah kandidat yang didukungnya sebagai pemenang di pilkada serentak 2015 di Sulsel, harus cepat melakukan konsolidasi jika tidak ingin tertinggal jauh dengan pergerakan partai lainnya. “Tugas pertama IMB harus memastikan dulu kepengurusannya solid, serta mampu menyatukan faksi-faksi yang mulai nampak di Gerindra Sulsel belakangan ini. Kalau ini tidak tuntas, tentu bisa membuat Gerindra rapuh,” ungkap Arif, Rabu (26/4).

Arif menambahkan, Gerindra tidak bisa menutup mata dengan perhelatan politik lokal 2018 mendatang. Sebab jika menuai kegagalan, dampaknya akan berlanjut di Pemilu 2019 mendatang. Olehnya itu, konsolidasi kepengurusan di semua tingkatan wajib dilakukan IMB tahun ini.

“Parpol lain itu sebagian sudah bergerak danĀ  menuntaskan konsolidasinya di semua daerah. Termasuk persiapannya menghadapi pilkada. Sementara Gerindra terkesan masih terjebak pada persoalan internal. Belum ada upaya atau strategi yang nampak untuk merebut kemenangan di pilkada,” lanjutnya.

Selain persiapan menyambut pilkada masih sangat datar, Gerindra dibawah kepemimpinan IMB juga tidak bisa memandang sebelah mata verifikasi kepengurusan di semua tingkatan, sebagai syarat untuk ikut sebagai peserta Pemilu 2019 mendatang.

[NEXT-RASUL]

“Gerindra tidak bisa terlena dengan pencapaiannya di Pemilu 2014 lalu. Sebagai partai besar, harusnya sekarang sudah merampungkan kepengurusan di semua tingkatan. Tidak lagi terjebak pada faksi-faksi yang justru merugikan partainya menghadapi proses verifikasi, dan momentum Politik,” jelasnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto mengatakan, Gerindra tidak perlu terjebak nostalgia kemenangan di Pilkada 2015 lalu. Dimana, kata dia, Gerindra harus mampu menciptakan sebuah pergerakan baru yang mampu menciptakan perubahan di internal partai.

“Partai hanya perlu membuat diferensiasi gerakan, dan tidak jadi follower partai-partai lain. Kemenangan dalam koalisi partai pengusung calon kepala daerah juga tidak selalu berbanding linier dengan kekuatan elektoral partai,” ungkap Luhur.

Luhur menjelaskan, Gerindra perlu menentukan apa yang menjadi prioritas. Apakah menjadikan Pilkada 2018 atau Pileg dan Pilpres 2019, sebagai target utama. Dimana, kata dia, apabila ingin fokus di Pilkada 2018, berarti bersikap pragmatis dan menjadi bagian gerbong koalisi besar partai dalam mengusung kandidat.

“risikonya adalah konsilidasi dan penataan infrastruktur partai mungkin tidak optimal. Usung kandidat dengan prospek kemenangan yang paling tinggi,” terangnya.

“Tapi kalau ingin fokus di Pileg dan Pilpres Serentak 2019, maka Pilkada 2018 harus berani menampilkan calon alternatif dan memimpin koalisi alternatif, sehingga konsolidasi dan kerja-kerja mesin partai bisa “dipanaskan”. Pilkada 2018 berarti hanya sasaran antara, kandidat yang diusung bisa menang bisa juga tidak,” lanjutnya. (Isk/D)


div>