SABTU , 17 NOVEMBER 2018

IMIKI dan BEM STIE Wira Bhakti Gelar Diskusi Pilkada Damai Tanpa Hoax

Reporter:

Editor:

Ridwan Lallo

Senin , 19 Maret 2018 21:46
IMIKI dan BEM STIE Wira Bhakti Gelar Diskusi Pilkada Damai Tanpa Hoax

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (IMIKI) Cabang Makassar bersama BEM STIE Wira Bhakti yang tergabung dalam Forum Pemuda Mahasiswa akan menggelar diskusi terkait pilkada damai tanpa konflik SARA dan Hoax di Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini dilaksanakan di Warkop Press Corner, Jalan Pengayoman, Makassar, Selasa 20 Maret 2018, pukul 10.00 hingga pukul 13.00 siang.

Kegiatan ini menghadirkan tiga pembicara yakni dosen Universitas Negeri Makassar, Dr Yasdin Yasir SPd MPd, Ketua STIE Wira Bhakti Makassar, Dr Abdul Rahman SE MSi dan Ketua KNPI Sulawesi Selatan yang juga mantan aktivis HMI, Imran Eka Putra.

Sekretaris IMIKI Cabang Makassar, Junaidi Namadula mengatakan, masyarakat Sulawesi Selatan akan memilih gubernur periode 2018-2023 pada 27 Juni 2018 mendatang.

Hajatan tersebut bersamaan pula dengan pemilihan kepala daerah serentak di 3 kota dan 7 kabupaten di Sulsel yakni, Kota Makassar, Kota Palopo, Kota Parepare, Kabupaten Bone, Sinjai, Luwu, Pinrang, Sidrap Wajo dan Jeneponto.

“Tahapan pilkada telah dimulai. Saat ini memasuki tahapan kampanye. Walau para kandidat telah menandatangani deklarasi damai, tetap tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik sosial gegara beda pilihan,” ujarnya.

Mencegah meluasnya potensi konflik sosial tersebut, jelas Junaidi, diperlukan upaya agar pilkada serentak di Sulawesi Selatan dapat berjalan damai tanpa dinodai info hoax dan konflik bernuansa SARA. “Salah satu upaya dimaksud adalah menggelar dialog publik,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua BEM STIE Wira Bhakti Makassar, Ika Sahara. Kata dia, saat ini para pendukung setiap calon kepala daerah di Sulawesi Selatan kerap saling melempar isu negatif terhadap lawan.

Tak sedikit berisi info hoax bahkan mengangkat dan menggulirkan isu perbedaan SARA. Hal tersebut tercermin pada beberapa pemberitaan di media cetak hingga media online. “Lebih parah terlihat di media-media sosial anak muda yang menjadi para pendukung kandidat,” paparnya.

Kata dia, melempar isu negatif berisi info hoax dan bernuansa mengungkit perbedaan SARA jelas dapat menimbulkan konflik yang lebih parah di kalangan masyarakat.

Kata Ika, sapaan akrab Ika Sahara, tujuan diskusi tersebut untuk menyampaikan kepada publik, terutama kalangan mahasiswa, pemuda dan para pendukung kandidat terkait potensi konflik sosial di pilkada.

“Disini kami juga ingin memberi pemahaman tentang dampak buruk jika marak beredar info hoax atau info yang mengandung kebencian bernuansa SARA di pilkada,” paparnya.

Tak hanya itu, tambah Ika, pihaknya juga ingin memberi pengertian sekaligus mengajak para tokoh, mahasiswa, pemuda serta simpatisan kandidat untuk bersama menjaga pilkada serentak di Sulsel berlangsung damai tanpa dinodasi konflik SARA. (*)


div>