RABU , 23 MEI 2018

IMMIM Kerjasama BI Mengendalikan Inflasi

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 30 Mei 2017 16:40
IMMIM Kerjasama BI Mengendalikan Inflasi

int

RakyatSulsel.com – Pertemuan DPP IMMIM dengan pihak Bank Indonesia Sulsel berlangsung di Menara Bosowa lantai 11 Jl.Jendral Sudirman  Makassar (30/5). Hadir Ketua Umum DPP IMMIM Prof.Dr.Ahmad M.Sewang M.A, dan jajaran Pengurus IMMIM. Hadir pula pimpinan BI Sulsel Bambang dan jajarannya.

Bambang menyatakan terima kasih atas kerjasama ini dalam rangka membantu pemerintah mengendalikan inflasi. Dikatakan agar momen ramadhan digunakan para mubalig menghimbau umat untuk mengendalikan diri dalam mengkonsumsi kebutuhan pokok. Sebab jika dibiarkan konsumsi yang berlebihan dapat menyebabkan kenaikan inflasi. Hal ini tentu akan sangat merugikan masyarakat, harapnya.

Ketua Umum DPP IMMIM Prof.Ahmad M.Sewang, M.A menyatakan momentun seperti ini perlu dilakukan sebagaimana telah dilakukan menjelang Ramadhan kerjasama dengan Walikota Makassar dalam bentuk Refreshing dai dan pengelolaan masjid. Untuk itu dalam bulan Ramadhan agar mublig menghimbau masyarakat agar tidak konsumtif berlebihan di bulan puasa. Oleh karena itu, kerjasama ini sangat produktif, selain dapat pengetahuan tentang bahaya inflasi juga akan disebarkan kepada umat. Semoga tahun depan pertemuan seperti ini dapat diformulasi lebih produktif lagi, harapnya.

Aryo Setioso dari Bank Indonesia Sulsel menyatakan dua tugas BI, yakni menjaga kestabilan nilai rupiah terhadap nilai uang asing dan menjaga kestabilan harga untuk
pengendalian inflasi. Dikatakan nilai uang berubah akibat inflasi, kalau dulu belanja Rp.50.000,- barang yang dibeli sekeranjang. Namun sekarang dengan uang yang sama, tetapi barang yang bisa dibeli hanya setengah keranjang. Hal ini terjadi karena terjadi penurunan nilai uang. Untuk itu sangat penting pengendalian inflasi.

Dikatakan dampak inflasi antara lain ketidak pastian pelaku ekonomi, menurunnya pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan tingkat kemiskinan karena uang yang sama tapi barang yang  dibeli berkurang. Selain itu, barang yang diekspor tidak kompetitif dan akan mengurangi minat masyarakat untuk menabung. Bahkan pemilik modal lebih suka membeli harta, sehingga produktifitas rendah. Lebih parah lagi Pemerintah bisa jatuh karena turunnya kepercayaan rakyat akibat inflasi, akibatnya pembangunan macet dan anggaran lebih besar,  serta kesenjangan semakin melebar, jelasnya.

Untuk itu perlu peran bersama dalam pengendalian Inflasi, diantaranya mendukung pemerintah dalam pengendalian inflasi, melakukan koordinasi dengan organisasi Islam dari sisi demand (permintaan barang). Selain itu perlu kerjasama antar daerah dalam memasok kebutuhan masyarakat (daerah surplus membantu daerah yang defisit), harapnya.

Diharapkan agar alim ulama dan mubalig dapat menghimbau umat untuk tidak belanja berlebihan, melakukan substitusi komsumsi bahan makanan, dan tidak menumpuk bahan makanan di rumah. Demikian pula kepada para penjual/pedagang dihimbau menjual harga barang dengan wajar, tidak menimbun barang dagangan, dan memastikan ketersediaan bahan makanan. Walaupun sudah ada TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah), namun peran mubalig dan ulama tetap dibutuhkan, harapnya.

[NEXT-RASUL]

Pada sesi tanya jawab Dr.dr. Nur Bahri Nur menyatakan apakah gara-gara mubalig bisa juga terjadi inflasi,  karena selalu menganjurkan umat melaksanakan acara buka puasa dengan mengundang banyak orang. Selain itu mubalig juga berdakwah agar umat suka memberi kepada yang lain, sehingga konsumsi meningkat, jelasnya. Namun hal ini dibantah oleh pak Bambang, sepanjang konsumsi tidak berlebihan tidak akan berpengaruh pada inflasi.

Selanjutnya Prof. Hamdan Juhanis merasa dihargai sebagai alim ulama atas undangan BI. Disarankan agar materi dakwah tentang Inflasi disosialisasikan kepada Mubalig. Malah kalau bisa kerjasama dalam bentuk pelatihan sosialisasi inflasi. Selain itu masalah inflasi merupakan fenomena global. Kita sangat tergantung kepada negara lain, sehingga kita selalu mengekor. Jika nilai uang turun, banyak yang lepas dollarnya, urainya.

Prof.Rusydi Khalid menambahkan ia merasa heran, seperti Arab Saudi nilai mata uangnya selalu stabil. Tapi Rupiah sudah 14 ribu dibanding USD. Mengapa Indonesia selalu mengalamai inflasi dan ini menjadi momok. Apa karena kebijakan pemerintah? Misalnya TDL Listrik terus naik. Selain itu, kenapa subsidi dicabut dan kenapa harga daging naik? tanyanya.

Bambang menjawab bahwa dakwah tidak berkontribusi langsung terjadinya inflasi. Namun yang dilarang adalah konsumsi yang berlebihan. Dikatakan Inflasi diibaratkan sebagai pencuri.  Karena nilai uang tetap tapi barang yang dibeli berkurang. Hal ini terjadi karena nilai uang semakin berkurang. Diakui fenomena inflasi secara global, karena Indonesia terpengaruh dengan kejadian di luar negeri. Indonesia menganut ekonomi terbuka, sehingga tergantung dengan negara yang lain. Selain itu,  nilai kurs sangat berpengaruh terhadap inflasi, jelasnya.

Dikatakan Arab Saudi dan Brunei kurang mengalami inflasi karena banyak penerimaan negara. Mereka banyak duitnya dari ekspor minyak. Namun saat ini harga minyak mulai turun. Sekarang mereka juga sudah mulai mencari utang ke negara lain karena kondisi keuangannya juga mulai turun, sehingga sudah ada inflasi di negara mereka, jelasnya.

Uraian di atas menggambarkan perlunya materi dakwah di bulan ramadhan dimodifikasi untuk umat mampu mengendalikan diri, terutama dalam hal konsumtif sehingga umat dapat membantu pemerintah mengendalikan inflasi.


Tag
  • IMMIM
  •  
    div>