KAMIS , 20 SEPTEMBER 2018

Imran Eka: Nurdin Abdullah Jangan Ajari Pemuda Berbohong

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Senin , 07 Mei 2018 15:37
Imran Eka: Nurdin Abdullah Jangan Ajari Pemuda Berbohong

Imran Eka. (ist)

MAKASSAR, RKYATSULSEL.COM – Nurdin Abdullah terus dicibir. Lagi-lagi soal ekspor perdana nikel dari Bantaeng yang gagal total pada 5 Mei kemarin. Padahal saat Debat Kandidat Pilgub Sulsel yang pertama, Nurdin dengan percaya dirinya mengundang masyarakat untuk menghadiri ekspor perdana itu.

Nyatanya, sama sekali tidak kegiatan ekspor seperti yang dijanjikan. Beragam komentar datang. Banyak yang menyebut Nurdin Abdullah memang suka berbohong, demi menutup-nutupi kegagalan. Kali ini komentar pedas datang Imran Eka, ketua organisasi kepemudaan di Sulsel.

Kepada warga, terutama pemuda di Sulsel, Imran yang memberi komentar atas nama individu (bukan atas nama organisasi) mengimbau untuk tidak memilih siapapun yang suka berbohong.

“Pemuda adalah elemen utama arus penggerak menuju kebenaran. Pemuda harus anti kebohongan. Jangan mau pilih pembohong jadi pemimpin,” tegas Eka, Senin (7/5/2018).

Bagi Eka, orang yang berani berbohong di hadapan publik, memang sudah piawai berbohong. Bahkan kebohongannya itu bisa terlihat seperti benar adanya.

“Karena memang sudah pintar sekali berbohong, jadi seolah-olah benar. Bisa rusak bangsa ini kalau dipimpin orang seperti itu jadi pemimpin,” sambung pemuda yang berprofesi sebagai pengacara ini.

Secara khusus, Eka menyebut agar siapapun kandidat untuk tidak lagi mengulangi kebohongan-kebohongan. Apalagi jika mereka adalah bupati . Sebab bisa saja kebohongannya itu menjadi virus masyarakat.

“Yah, jangan memberi contoh berbohong lah. Kan calon pemimpin, tidak baik kalau hobi bohongnya itu ditiru anak-anak muda,” pungkas Eka.

Seperti yang diberitakan banyak media massa, Nurdin Abdullah sempat berkoar-koar mengundang rivalnya di Pilgub Sulsel dan warga untuk menyaksikan ekspor perdana nikel. Namun, hingga saat ini tak terealisasi.

Belakangan, muncul pengumuman penundaan tanpa batas waktu. Tapi pengumuman tersebut bukan disampaikan Nurdin Abdullah, melainkan pihak lain. Mantan aktivis PB HMI, Ibnu, menyebut Nurdin Abdullah lari dari tanggung jawab.

“Karena NA yang mengundang, maka seharusnya NA sendiri yang menyampaikan alasan kenapa tidak jadi tanggal 5. Jangan kesannya lari dari tanggung jawab, dan seolah-olah itu bukan kesalahannya,” tegas dia.

“Kalau memang belum siap, jangan menggembor-gemborkan waktu di debat. Kan pernyataannya meyakinkan sekali. Malah diulangi lagi saat debat kedua. Kalau seperti ini tidak ada realisasi, itu bisa menjadi stigma negatif bagi Nurdin Abdullah. Dan pasti publik mencatat itu,” tutup Ibnu. (**)


div>