RABU , 13 DESEMBER 2017

In Memoriam DR. K.H. Mochtar Husein

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Minggu , 08 Oktober 2017 20:44
In Memoriam DR. K.H. Mochtar Husein

DR. K.H. MOCHTAR HUSEIN

Saya termasuk sangat terkejut mendengar kepergian almarhum Mochtar Husein menghadap Sang Ilahy. Sebab kami baru saja bertemu merayakan hari ulang tahun perkawinannya ke-50 beberapa hari lewat, tepatnya 24 September 2017 di sebuah restoran di Limbung. Menurut isteri beliau, ketika anaknya merancang hari ulang tahun perkawinan emas itu mulanya di hotel. Almarhum sendiri menolaknya, dia menginginkan di tempat sederhana. Saya beruntung bisa hadir di hari ulang tahun itu dan di sanalah saya bisa menyaksikan wajah beliau terakhir kalinya. Kelihatan beliau masih sehat wal afiat walau harus duduk di atas kursi roda.
Sejak kanak-kanak kami mengenalnya sebagai seorang ulama terpelajar. Dia menjadi idola bagi kami di Kampung Pambusuang. Setiap pulang kampung, selalu memberi ceramah di masjid. Dia pun menyempatkan dan mengajar kami berceramah. Jarang kami menemukan seorang ulama yang fasih berceramah sekaligus bisa menuangkan pikirannya melalui tulisan di mass media saat itu. Beliau memang satu angkatan dengan Prof. Baharuddin Lopa dan Prof. Basri Hasanuddin. Ketiganya lahir di kampung yang sama, Pambusuang. Merekalah sebagai perintis untuk lanjut studi di Makassar. Mereka dapat dikatakan manusia beruntung yang bisa lolos dari seleksi alam kekacauan di Mandar. Orang seangkatan mereka banyak yang tidak  bisa lanjut studi. Paling tinggi hanya tamat SR (Sekolah Rakyat). Tidak heran jika mereka nantinya memiliki tempat terhormat di masyarakat. Baharuddin Lopa adalah sarjana pertama orang Mandar tahun 1962 dan jadi bupati termuda umur 25 tahun sampai sekarang. Basri Hasanuddin orang Mandar pertama yang duduk sebagai rektor di universitas beken Indonesia bagian timur, Universitas Hasanuddin, dan Mochtar Husein sebagai orang Mandar pertama yang bisa mengintegrasikan antara keulamaan dan kewartawanan.

Mochtar Husein memberi pengaruh besar terhadap masyarakat di kampung untuk lanjut studi di awal tahun 1970-an. Saya sendiri termotivasi meninggalkan kampung setelah mengikuti ceramah beliau di mimbar Islam RRI tahun 1967. Setelah ceramahnya selesai, reporter RRI mengomentari dan memperkenalkannya kembali dengan mengatakan, “Itulah tadi mimbar Islam yang disampaikan Mochtar Husein B.A.” Komentar singkat itu, membuatku termotivasi dan berdoa pada Allah swt., “Ya Allah, semoga saya bisa jadi B.A. seperti Mochtar Husein.” Itulah kemudian mendorong saya lanjut ke SP IAIN di Polewali. Selesai di SP IAIN tahun 1973, saya langsung masuk ke Fakultas Adab IAIN Alauddin Makassar.

Saat mulai studi di Makassar  awal tahun 1973, almarhum Mochtar Husein menjadi tempat bertanya dan belajar. Dia memprakarsai Lembaga Studi Avicenna. Di sanalah saya semakin dekat dengan beliau sebagai salah seorang anggota lembaga studi. Kedekatan diperkuat lagi sebagai dosen kami dalam mata kuliah Sejarah Kebudayaan Islam di Fakultas Adab. Belum lagi beliau adalah  keluarga sekampung yang menambah kedekatan itu. Saya masih ingat, jika beliau dan keluarganya akan rekreasi yang harus meninggalkan rumahnya di Jl. Belibis, sayalah yang dipercaya untuk menjagaya. Beliau pernah meninggalkan Makassar beberapa bulan untuk studi SPS di Yogyakarta. Kepada sayalah dipercaya untuk menggantikan mengajar agama di beberapa sekolah. Tidak heran, ketika saya kawin, rumah beliaulah yang dijadikan sebagai tempat pelaksanaan perkawinan. Akhirnya, saya merasakan hubungan dengan beliau lebih daripada hubungan keluarga atau antara guru dan murid. Tetapi hubungan emosional yang sulit dilukiskan.

Mochtar Husein telah meninggalkan seorang isteri dan tujuh orang anak yang semuanya berhasil dalam studi dan sudah punya pekerjaan terhormat. Mereka sebagian menyelesaikan studinya di luar negeri dan bertugas di sana.  Anak sulungnya Dr. Moammad Iqbal Mochar bertugas sebagai dokter di negeri kaya minyak, Qatar, Dr. Ir. Zulkifli Mochtar bekerja sebagai engineering di Jepang dan mempersunting wanita Jepang, Zulfikar Mochtar menjabat sebagai deputi Dirjen Perikanan dan Kelautan. Anak bungsunya Dr. Zainal Arifin Mochtar bertugas sebagai dosen dan Ketua Pukat UGM Yogyakarta. Anaknya yang lain ada yang berprofesi sebagai dokter dan kontraktor di dalam negeri.

Setelah berusaha mencari tahu, “Kenapa beliau berhasil?” Ternyata pendidikan disiplin yang beliau tarapkan mulai dari rumah tangga. Beliau selalu menuntun anak-anaknya salat berjamaah antara Magrib dan Isya di rumah sambil memberi kultum dan membaca al-Quran berjamaah. Di sini almarhum menyeimbangkan antara pendidikan umum dan agama bagi anak-anaknya. Sebagai bunyi adagium bahwa keberhasilan seorang suami karena di belakangnya ada wanita hebat yang mengawal pendidikan terhadap anak-anaknya. Itulah isteri beliau yang sering disapa Hj. Ummi Zaitun. Suatu saat saya sengaja mendatangi beliau di rumahnya sekedar menanyakan, “Resep apa yang membuat beliau berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak saleh yang sukses? Beliau mengatakan, “Jangan sama sekali memasukkan barang haram ke rumahmu untuk dipakai dan dimakan oleh keluargamu,” jawabnya singkat, sebuah resep mujarab yang tidak mudah tetapi sangat mulia.

Mochtar Husein pun meninggalkan amal jariah yang lain di kampung, yaitu Pesantren Nuhiyah dan sebuah masjid diberi nama Masjid Husein, yang sengaja dinisbahkan pada orang tuanya untuk diniatkan sebagai amal jariah padanya. Kedua bangunan itu berdiri megah di jalan poros Polewali Majene. Anak saleh, bangunan pesantren, dan rumah ibadah adalah amal jariah yang pahalanya terus menerus mengalir walau sudah pergi lama menghadap Allah swt. Amal saleh itu dalam al-Quran disebut, “lisana sidqin fil akhirin,” kenangan indah pada generasi sepeninggalku. Kenangan yang tak lekang di panas dan tak lapuk di hujan. Saya pun bersyukur, bisa meneruskan perjuangan beliau di IMMIM sebab beliau pernah berkiprah di sana sebagai pengurus. Selamat jalan guruku yang kucintai. Kami sangat menyayangimu, tetapi kepergianmu, itulah yang terbaik bagi Yang Maha Penyayang. Saya percaya engkau sangat bahagia di sisi kekasihmu Yang Abadi, Allah swt. Amin ya rabbal alamin.

Wassalam,


Tag
div>