SENIN , 28 MEI 2018

Inflasi di Sulsel Lebih Tinggi dari Nasional

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 21 Januari 2015 13:15
Inflasi di Sulsel Lebih Tinggi dari Nasional

IST/RAPAT INFLASI. Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menggelar pertemuan dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulsel dan kabupaten/kota se-Sulsel di Baruga Sangiaseri, Jl Sungai Tangka, Selasa (20/1).

RAKYATSULSEL.COM, MAKASSAR – PREDIKSI inflasi meroket pasca kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada November 2014 lalu, memang benar adanya. Di Provinsi Sulsel, angka inflasi sudah menembus 8,61 persen per Desember 2014. Angka itu sudah melampaui angka nasional yang berada diangka 8,36 persen.

Adalah sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang menjadi penyumbang terbesar angka inflasi di Sulsel. Adapun komoditas penyumbang inflasi dari tiga sektor itu antara lain, cabai, tomat, beras, ikan bandeng dan daging ayam ras.

Hal ini terungkap dalam pertemuan High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulsel dan kabupaten/kota se-Sulsel di Baruga Sangiaseri, Jalan Sungai Tangka, Selasa (20/1).

Rapat tersebut dipimpin langsung Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo yang dihadiri perwakilan bupati/Walikota se-Sulsel, perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sulsel, ketua dan anggota TPID kab/kota se-Sulsel, para pelaku usaha dan ketua asosiasi.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menegaskan, peningkatan inflasi di tahun 2014 terjadi sebanyak lima kali. Yakni bulan Januari, Februari, April, Juli, dan Desember. Untuk itu, pertemuan para pengendali infalasi ini diharapkan mampu bisa menekan angka inflasi yang sudah melebihi angka nasional.

Syahrul menjelaskan, tiga sektor yang menjadi penyumbang terbesar inflasi itu memang tak bisa dipungkiri menyusul Sulsel sebagai pusat/sentra pertanian, perikanan, dan peternakan.

“Namun secara umum, inflasi yang cukup tinggi itu tidak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Dampak negatif yang ditakutkan seperti mengganggu sosial ekonomi masyarakat¬† sehingga meningkatkan angka kemiskinan, itu juga tidak terjadi,” papar Syahrul.

Syahrul menargetkan, tingkat inflasi Sulsel sudah bisa turun pada bulan depan. Tantangan inflasi ke depan tidak mudah. Kebijakan pemerintah pusat di bidang energi dan pangan, gangguan cuaca di awal tahun, akan berdampak pada jalur distribusi maupun pasokan, berpotensi terhadap tekanan inflasi tahun 2015.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Sulsel, Mokhamad Dadi Aryadi mengungkapkan, ada tiga kabupaten/kota yang menjadi pendorong inflasi Sulsel lebih tinggi yakni Kabupaten Bulukumba, Kota Parepare, dan Palopo.

Dia melanjutkan, inflasi di Sulsel tahun 2015 diperkirakan akan menurun pada kisaran empat plus minus satu persen jika tidak ada kebijakan pemerintah pusat/daerah yang dapat memengaruhi kenaikan harga komoditas strategi secara signifikan.

Untuk menekan tingkat inflasi itu, lanjut Dadi, ada beberapa strategi yang akan fokus dilakukan. “Diantaranya kerjasama antar TPID di Sulsel, menjaga kelancaran distribusi pangan, merespon kebijakan energi pemerintah. Selain itu, menjaga ketersediaan beras, khususnya Raskin, dan melakukan diversifikasi pangan,” pungkasnya.

 

BBM Turun

BI menyebutkan, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang naik turun mampu meredam inflasi sepanjang 2015. “Kami sambut baik adanya kebijakan subsidi tetap karena kalau diambil saat yang tepat saat harga minyak turun, maka subsidi bersifat fleksibel, ini bisa menekan inflasi,” ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Jakarta.

Kebijakan penyesuaian harga per dua minggu sekali pun menurutnya akan baik untuk mengurangi risiko inflasi. Masyarakat akan terbiasa dengan perubahan pola harga yang tersesuaikan per dua minggu sekali.

Agus melihat inflasi Indonesia sejak 1980 hingga 2014 masih sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya subsidi di tengah realisasi anggaran.

“Sejak 2005, 2008, 2013, 2014 inflasi naik 17 persen, 11 persen, dan tahun lalu 8,3 persen karena penyesuaian harga minyak dunia,” ujar Agus. Kondisi sekarang tidak bisa seperti itu karena masyarakat akan terbiasa mengikuti harga pasar.

Kebijakan penyesuaian harga juga akan membuat masyarakat berpikir mengenai pola konsumsi masing-masing. Hingga saat ini Bank Indonesia tetap memperkirakan inflasi 2015 di kisaran 4 plus minus 1 persen.

Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, mengungkapkan, inflasi 2015 sesuai asumsi RAPBNP 2015 sebesar 5 persen, batas atas dari target pemerintah. Hal ini mengingat masih ada dampak penyesuaian harga BBM sejak 18 November 2014 ke sampai Januari 2015. (jpnn)

 
PENULIS: ADIL PATAWAI

Tag
div>