SABTU , 23 JUNI 2018

Infrastruktur Sulsel Gemilang di Satu Dekade

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Senin , 12 Maret 2018 10:30
Infrastruktur Sulsel Gemilang di Satu Dekade

Satu Dekade Sayang, Dok. RakyatSulsel

* Tak Ada Proyek, Pemerintah Bangun Peradaban Baru

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Provinsi Sulsel berada di era yang gemilang, setelah sepuluh tahun dipimpin Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo – Agus Arifin Nu’mang. Pembangunan tidak hanya terpusat di ibu kota provinsi saja, tetapi merata di 24 kabupaten dan kota se Sulsel.

Di bidang infrastruktur jalan misalnya. Pada tahun 2008 – 2013, ruas jalan yang ditangani provinsi sepanjang 1.147,51 kilometer. Capaian kondisi mantap sampai pada tahun 2013 sebesar 85,04 persen.

Sedangkan pada tahun 2013 – 2018, ruas jalan yang menjadi kewenangan provinsi sepanjang 1.500,15 kilometer. Terdiri dari 325,66 kilometer ruas jalan kabupaten yang masuk menjadi ruas jalan provinsi, dan 26,98 kilometer yang menjadi ruas jalan nasional, dengan capaian kondisi mantap sampai tahun 2018 sebesar 64,97 persen.

Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulsel, Amin Yakop, mengungkapkan, persentase tingkat kondisi jalan provinsi dalam kondisi mantap (baik dan sedang) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Dalam upaya peningkatan pembangunan infrastruktur di Provinsi Sulsel, ada beberapa kegiatan prioritas yang dibangun demi kelancaran arus lalu lintas, serta kenyamanan dan keamanan pengguna jalan.

Pada tahun 2008, pembangunan fly over (jalan layang) untuk mengurai kemacetan di daerah simpang sebidang pada pertemuan ruas Urip Sumohardjo – AP Pettarani – Tol Reformasi. Proyek ini selesai pada akhir tahun 2009 dan diresmikan melalui video conference Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pada awal tahun 2010.

Selain itu, pada tahun 2007 – 2009, pembangunan Tol Seksi IV untuk mempercepat jarak tempuh arus kendaraan yang akan masuk ke Kota Makassar, terutama melalui Bandara Sultan Hasanuddin dan arus kendaraan yang dari daerah. Sehingga, beban ruas jalan Perintis Kemerdekaan menjadi lancar dengan adanya Tol Reformasi Seksi IV.

“Pada tahun 2008, pembangunan Lintas Barat Maros – Parepare. Pembangunan jalur yang menghubungkan Kota Makassar – Parepare dan beberapa daerah lainnya. Merupakan kawasan strategis, karena dengan pelebaran jalan di kawasan tersebut dari empat lajur menjadi enam lajur sehingga tidak ada lagi hambatan transportasi untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Pembangunan Lintas Barat – Parepare ini selesai tahun 2013,” paparnya.

Tahun 2010, pembangunan Lintas Selatan Jeneponto – Bantaeng – Bulukumba – Sinjai – Bone – Tarumpakae. Yaitu penambahan lajur jalan atau peningkatan kapasitas jalan, dan meningkatkan daya dukung jalan terhadap beban kendaraan yang melintas di kawasan timur Sulsel, yang merupakan jalur utama transportasi barang dan jasa, yang akan melintas ke provinsi lain. Seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Di 2010, juga dilaksanakan pembangunan jembatan Center Point of Indonesia (CPI), yang merupakan salah satu ikon Provinsi Sulsel sekaligus tempat pelaksanaan even berskala besar. Pembangunan jembatan CPI ini rampung pada tahun 2016,” terang Amin Yakop.

Selanjutnya, pada tahun 2012, pembangunan jalan ruas Perintis Kemerdekaan – Ir Sutami. Merupakan jalan alternatif yang menghubungkan ruas Perintis Kemerdekaan – Ir Sutami, yang langsung terintegrasi dengan gerbang Tol Reformasi serta Urip Sumohardjo kilometer 4.

Kemudian, pada tahun 2015, ada beberapa pencanangan pembangunan jalan (multiyears), yang merupakan program prioritas Gubernur Sulsel. Pertama, pembangunan Underpass Simpang Sayang (Simpang Mandai). Kegiatan ini rampung pada Juli 2017 dan telah dilakukan pemanfaatannya sebagai pelintas pertama oleh Gubernur Sulsel.

Kedua, pembangunan jalan Bypass Mamminasata. Pembangunan jalan dengan panjang 48,25 kilometer berlokasi di Maros, Makassar, Gowa, dan Takalar. Kegiatan ini akan rampung Desember 2018 (on schedule). Ketiga, pembangunan jalan Middle Ring Road.

Pembangunan jalan dengan panjang 7,08 kilometer. Titik awal ruas di Perintis Kemerdekaan dan titik akhir di Jalan Sultan Alauddin (batas Kabupaten Gowa). Termasuk pembangunan lima buah jembatan pada Sungai Tallo, Sungai Kanal PDAM, Sungai Kanal Bone, Sungai Kanal Borong, dan Sungai Kanal Hertasning. Kegiatan ini akan rampung di Mei 2018.

Kemudian, pembangunan jalan ruas Maros – Watampone (elevated road). Pembangunan jalan dengan panjang 143,81 kilometer, termasuk pembangunan elevated road sepanjang 4,32 kilometer.

“Tak berhenti sampai disitu, pada tahun 2017 ada pencanangan tol dalam kota atau tol layang AP Pettarani. Pekerjaan konstruksinya akan dimulai Maret 2018 dan akan dilaksanakan selama tiga tahun. Selain itu, dilakukan pula program pemeliharaan rutin jalan sepanjang 1.500 kilometer setiap tahun,” jelasnya.

Telah dilakukan pula perencanaan program tahun 2018. Antara lain, pembangunan Tol Mamminasata yang terdiri dari dua fase. Fase I adalah pembangunan At Grade Simpang Sayang – Maros sepanjang 10,60 kilometer, elevated Pettarani – Sungguminasa sepanjang 8,25 kilometer, dan Pelabuhan (Makassar) – Barombong – Sungguminasa sepanjang 20,43 kilometer. Sedangkan Fase II adalah pembangunan At Grade Maros – Parepare sepanjang 111,06 kilometer dan At Grade Barombong – Takalar sepanjang 29,20 kilometer. (*)


div>