MINGGU , 23 SEPTEMBER 2018

Ini Komentar Hanung Bramantyo tentang Film “Di Balik 98”

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 21 Januari 2015 00:13
Ini Komentar Hanung Bramantyo tentang Film “Di Balik 98”

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Bagi sutradara Hanung Bramantyo, momen pergerakan mahasiswa di tahun 1998 yang kemudian dikenal dengan peristiwa Mei 98 itu cukup berkesan. Sutradara film “Hijab” itu terlibat langsung dalam aksi yang akhirnya melengserkan Presiden Soeharto itu.

Tujuh belas tahun kemudian, peristiwa bersejarah itu kembali diangkat dalam sebuah film, “Di Balik 98”. Film arahan Lukman Sardi yang menampilkan adegan-adegan menegangkan saat demonstrasi mahasiswa itu, menurut Hanung tidak menguliti secara mendalam apa yang terjadi di balik peristiwa bersejarah itu.

“Saya terlibat di 98. Saya ada di Semanggi pada saat itu. Saya ikut ramai-ramainya itu, saya ada di Trisakti juga. Saya merasa, melihat film “Di Balik 98” itu lemah di skripnya. Apa yang saya lihat di film itu seperti yang saya baca di koran-koran, Pak Harto bertemu tokoh-tokoh. Tetapi ketika judulnya “Di Balik 98″, saya berharap mendapat yang lebih,” kata Hanung di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/1/2015).

Meski kritik yang diutarakan Hanung cukup tajam – mengingat skrip adalah bagian penting dalam sebuah film -, dia tetap mengapresiasi Lukman sebagai sutradara yang jeli melihat hal-hal kecil.

“Lukman Sardi melakukan upaya directing yang cukup bagus. Sehingga detail dan mood tahun itu terekam dengan baik. Dari cerita, seperti kliping,” sambung Hanung.

Dilansir dari portal Film Indonesia (20/1/2015), “Di Balik 98” berhasil meraih lebih dari 172 ribu penonton. Angka itu akan terus bertambah selama film itu masih terus diputar di bioskop.

Sebelumnya, film ini juga menuai protes dari para aktivis yang terlibat dalam peristiwa Mei 1998. Para aktivis yang menamai dirinya Aktivis 98 itu merasa ada bagian dalam film “Di Balik 98” yang tidak sesuai dengan realita.

Salah satunya, peristiwa demonstrasi yang memperlihatkan bendera Partai Rakyat Demokratik (PRD). Anggota Aktivis 98 merasa aksi mereka pada waktu itu tidak ditunggangi oleh partai manapun. (mtronl)


div>