RABU , 21 NOVEMBER 2018

Ini Lho Cita-cita PKI

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Kamis , 01 Oktober 2015 01:49
Ini Lho Cita-cita PKI

Tan Malaka. Foto: Istimewa (jpnn)

RAKYATSULSEL.COM – APA sebetulnya yang dicita-citakan Partai Komunis Indonesia?

Di samping memutuskan membentuk faksi dalam tubuh Sarekat Islam (SI), yakni SI Merah, konferensi PKI di Semarang, 24-25 Desember 1921 memilih Tan Malaka menjadi Ketua PKI. Masa itu PKI masih bagian “orang dalam” SI.

Harry A Poeze dalam buku Di Negeri Penjajah–Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 menulis, Tan Malaka dipilih menjadi Ketua PKI karena keberhasilannya mendiri-sebarkan SI School, kemudian menjadi Sekolah Rakyat.

(baca: Ternyata, Sekolah Rakyat Dirintis Oleh Orang-orang PKI)

Suatu hari di tahun 1922, sepulang mengajar di SI School cabang Bandung, Tan Malaka ditangkap polisi kolonial. Dibuang ke Belanda.

Masih juga dianggap berbahaya, Tan Malaka kembali diincar. Dia buron. Mengembaralah ia dari satu negeri ke negeri lain. Dari satu benua ke benua lain.

Tiba-tiba, April 1925 bukunya Naar de Repuliek Indonesia terbit di Tiongkok. Dan kembali terbit di Tokyo, Desember 1925. Dalam kata pengantar cetakan Tokyo, Tan menceritakan sedikit banyak proses penulisan dan penerbitan buku tersebut. Dari buku ini dapat diketahui apa sebetulnya tujuan PKI.

Republik Indonesia
Naar de Republiek Indonesia terdiri dari tiga babak. Babak pertama bertajuk, Situasi Dunia. Babak kedua, Situasi Di Indonesia.

[NEXT-RASUL]

Dan babak ketiga terdiri dari 9 subjudul. Yakni, Tujuan PKI; Program nasional PKI; Keterangan pendek tentang program; Taktik dan strategi; Pemusatan kekuatan-kekuatan pada tempat dan waktu yang menguntungkan bagi kita; Nilai kesadaran, hasrat dan disiplin; Pukulan dan strategi; Majelis permusyawaratan nasional Indonesia; Halilintar membersihkan udara.

Babak pertama, ringkasnya menceritakan perang dunia pertama 1914-1918. Mulai dari keuntungan negeri yang menang, derita negeri yang kalah hingga kelahiran negeri-negeri baru. Serta mempertentangkan kapitalisme dan komunisme.

“Bila kapitalisme dunia akan runtuh, kita tak dapat meramalkan dan ramalan itupun tak perlu. Komunisme tidak didasarkan atas lelamunan teosofi. Kaum komunis menyiapkan diri untuk berjuang…” tulisnya.

Di babak kedua, Tan Malaka menjelaskan kapitalisme kolonial di Indonesia. Kata Tan, “pertentangan antara rakyat Indonesia dan imperialisme Belanda makin lama makin tajam. Penderitaan massa bertambah pesat. Harapan dan kemauannya untuk merdeka berlangsung bersama-sama penderitaannya.”

Dan di penutup babak kedua, dia menyeru kepada seluruh rakyat Indonesia untuk berlawan merebut kemerdekaan. “Kamu tak akan kehilangan sesuatu milikmu kecuali belenggu budakmu!”

Babak ketiga dibuka dengan judul besar TUJUAN PKI. Berpanjang lebar dengan bahasa yang lugas ditekankan bahwa tujuannya adalah INDONESIA MERDEKA

[NEXT-RASUL]

Lalu diuraikan program nasional PKI. Terdiri dari 10 program ekonomi yang garis besarnya menasionalisasi aset-aset asing, membangun industri nasional, mendirikan koperasi hingga pembagian tanah untuk kaum melarat.

Kemudian empat program politik. Poin pertama berbunyi: Kemerdekaan Indonesia dengan segera dan tak terbatas. Poin kedua, membentuk republik federasi dari pelbagai pulau-pulau Indonesia.

Poin tiga dan empat lebih kurang senafas. Yaitu memberikan hak politik sepenuhnya bagi seluruh agama, seluruh rakyat, baik laki pun perempuan.

Di bidang sosial ada enam poin yang lebih kurang mengatur upah, jam kerja, hak berserikat dan perlindungan kaum buruh.

Di bidang pelajaran dan pendidikan, dicanangkan, “wajib belajar bagi semua anak-anak warga negara Indonesia dengan cuma-cuma sampai umur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terutama,” tulis Tan Malaka.

[NEXT-RASUL]

Di bidang miiter, menghapuskan tentara imperialis dan mengadakan milisi rakyat untuk mempertahankan Republik Indonesia. Serta mempertinggi gaji mereka.

Bila Anda ingin membaca naskah lengkap Naar de Republiek Indonesia bisa dibaca di sini.

Naar de Republiek Indonesia artinya Menuju Republik Indonesia. Karena buku yang ditulisnya inilah, kemudian hari Tan Malaka diberi gelar Bapak Republik.

Dan berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno, 28 Maret 1963 Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. (Wenri Wanhar/wow/jpnn)


div>