SELASA , 16 OKTOBER 2018

Ini Penyebab Elektabilitas Sejumlah Parpol Jeblok

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Jumat , 11 Mei 2018 10:00
Ini Penyebab Elektabilitas Sejumlah Parpol Jeblok

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memperlihatkan lima partai politik masuk kategori divisi bawah dengan elektabilitas berkisar 2,50 persen hingga 1,80 persen.

Menurut peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, penyebabnya kemungkinan karena partai-partai tersebut tidak terasosiasi kuat dengan capres yang kuat jelang Pilpres 2019.

Kelima partai tersebut masing-masing PAN (2,50 persen), NasDem (2,30 persen), Perindo (2,30 persen), PKS (2,20 persen) dan PPP (1,80 persen).

Penyebab lain, kemungkinan karena tidak ada program dari kelima partai tersebut yang dikenal secara luas oleh masyarakat.

“Tapi untuk Perindo sebagai partai baru, angka 2,30 persen sudah merupakan suatu prestasi. Berbeda dengan empat partai lain yang merupakan partai lama,” ujar Ardian saat merilis hasil survei di Jakarta.

Hasil survei juga menunjukkan ada enam partai yang masuk kategori divisi nol koma, karena elektabilitasnya kurang dari satu persen. Masing-masing Hanura (0,70 persen), PBB (0,40 persen), Garuda (0,30 persen), PKPI (0,10 persen), PSI (0,10 persen) dan Berkarya (0,10 persen).

“Elektabilitas Hanura sangat rendah kemungkinan disebabkan isu perpecahan. Kemudian, tidak terdengar programnya dan tidak terasosiasi kuat dengan capres yang kuat,” ucap Ardian.

Sementara itu terkait elektabilitas PSI, Ardian menyebut partai pimpinan Grace Natalie tersebut memang secara publisitas cukup, tapi terkesan melakukan blunder pada kasus Sunny Tanuwijaya. Kemungkinan ini yang menjadi penyebab PSI ditinggal responden yang merupakan pemilih antikorupsi.

“PBB elektabilitasnya rendah kemungkinan tidak cukup publikasi untuk menarik pemilih Islam yang menjadi programnya. Sementara PKPI, Partai Garuda dan Partai Berkarya, tidak terdengar kiprahnya,” tutur Ardian.

Pengumpulan data survei LSI Denny JA dilakukan 28 April hingga 5 Mei lalu. Survei dilakukan dengan metode sampling multistage random sampling. Jumlah responden 1.200 orang. Wawancara dilakukan tatap muka menggunakan kuisioner. Margin of error lebih kurang 2,9 persen.(gir/jpnn)


div>