RABU , 12 DESEMBER 2018

Insiden Lion Air, Vonny Ameliani Beberkan Suka Duka Jadi Pramugari

Reporter:

Jejeth Aprianto

Editor:

Iskanto

Kamis , 01 November 2018 13:30
Insiden Lion Air, Vonny Ameliani Beberkan Suka Duka Jadi Pramugari

Caleg DPRD Provinsi Sulsel Dapil IV (Jeneponto - Bantaeng - Selayar) dari Partai Gerindra, Vonny Ameliani

JENEPONTO, RAKYATSULSEL.COM – Pesawat Lion Air JT 610 dengan rute penerbangan Cengkareng menuju Pangkalpinang mengalami kecelakaan setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (29/10) kemarin.

Pesawat tersebut membawa 189 orang, termasuk penumpang dan kru pesawat. Penumpang itu terdiri dari 178 orang dewasa, 1 anak-anak, dan 2 bayi. Untuk kru pesawat terdiri dari 2 kokpit kru dan 6 orang awak kabin.

Lima di antaranya adalah pramugari berparas cantik. Mereka adalah Shintia Melina, Citra Novita Anggelia, Alfiani Hidayatul Solikah, Fita Damayanti Simarmata, dan Mery Yulyanda.

Mendengar hal itu, Caleg DPRD Provinsi Sulsel Dapil IV (Jeneponto – Bantaeng – Selayar) dari Partai Gerindra, Vonny Ameliani merasa sedih dengan kejadian nahas ini.

Pasalnya, Caleg yang menunggangi nomor urut satu ini sebelumnya juga pernah berprofesi sebagai Pramugari. Ia pernah bekerja sebagai Pramugari Junior PT. Garuda Indonesia Sbu Citilink (2008-2010), Flight Service Manager (FSM) PT. Garuda Indonesia Sbu Citilink ( 2010 – 2012), Pramugari PT. Air Asia Indonesia (2012-2015) dan Pengajar Civil Aviation Safety Regulation ( Peraturan Keselamatan Penerbangan Komersil) di Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Yogyakarta (2013-2015).

Pengalaman selama 8 tahun di bidang penerbangan membuatnya begitu sedih dengan apa yang dialami lima pramugari cantik Lion Air. Menurutnya profesi pramugari adalah cita – cita, karena hal itu ia menjalani dengan suka cita.

” Dari sejak kecil Profesi Pramugari adalah cita – cita, jadi saya menjalaninya dengan penuh suka cita. Sedihnya itu ketika lebaran kita tidak bisa ngumpul dengan keluarga karena tuntunan kerja, ” jelas Vonny Ameliani, Kamis (1/11).

Tiap penerbangan yang ia lalui, selalu timbul rasa was – was dalam dirinya. Mendengar kejadian yang menimpa Lion Air dirinya merasa trauma. Dia sangat sedih bahkan hampir menangis, karena ia terbang terakhir di Air Asia bersamaan dengan kejadian waktu Desember 2013 ada pesawat Air Asia juga yang jatuh.

” Teman – teman sejawat saya disitu baik pramugari maupun pilotnya itu menjadi korban. Merasa trauma, ketika mendengar pesawat Lion Air jatuh karena saya membayangkan keluarga Pramugari dan Pilot yang tidak menyangka dan tiba – tiba kehilangan keluarganya,” ujarnya.

Dia juga membeberkan kelebihan menjadi pramugari yang dapat jalan – jalan, memperoleh gaji yang besar dan fasilitas kesehatan terbaik, membuat sejumlah perempuan ingin menjajaki profesi ini.

” Saya juga termotivasi dari dua orang tante saya yang pernah berprofesi sebagai pramugari. Mendengar ceritanya akhirnya saya mencoba daftar pada tahun 2008 di Garuda Indonesia,” pungkasnya. (*)


div>