Minggu, 20 Agustus 2017

Arum Spink (Politisi)

Inspirasi Subuh

Kamis , 20 April 2017 10:35

Menemukannya terposting di akun FB kawan saya, seorang perwira polisi, putra seorang mantan kepala desa di kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba.

Seperti dalam sejumlah tulisan yang pernah dipublish baik di medsos maupun di buku-buku yg pernah saya terbitkan, sejumlah kutipan kalimat maupun kisah inspiratif dan motivasi tersebut, tak jelas muasal dan siapa penulisnya. Paling jauh hanya keterangan di akhir paragraf, “copas dari WA,¬† FB dan seterusnya……” Ini yang menyebabkan saya agak kesulitan untuk memberi apresiasi atas hikmah yang saya petik lalu tanpa menyebut nama untuk izin dan meneruskannya apalagi menjadikannya referensi. Karenanya, saya hanya menyebut terima kasih buat penulis,¬† izin untuk mencopynya lalu mendoakannya sebagai amal jariyah. Tak terkecuali kisah inspiratif yang akan saya ketengahkan kepada pembaca sekalian.

Saya menyebutnya inspirasi subuh bahkan menjadikannya judul karena memang menemukan dan mendapatkan inspirasi itu di waktu subuh, sesaat setelah tiba dari sebuah perjalanan lintas di kabupaten di Selatan Sulawesi  (1/4/2017). Selanjutnya memberi pengantar dalam bentuk essei kemudian skaligus mempostingya di kanal medsos masih di waktu subuh pula, sesaat sebelum kumandang azan di belakang rumahku.

Oh iya, hampir lupa, rasanya perlu saya menginformasikan bahwa akun kawan polisi berpangkat satu bunga Melati itu, berisikan kebanyakan kisah-kisah sahabat, bermuatan hikmah, inspiratif dan dakwah. Tak nampak foto makanan dan tempat yang menunjukkan kemewahan lazimnya di akun kekinian. Saya memang sudah mendengar perubahan pada kawan itu. Kontras saat mengenalnya dahulu di saat mahasiswa, satu kosan dan sama-sama ikut berorganisasi.

Kalimatnya pun kini begitu santun, bernada tawadhu dan berkesan islami. Diam-diam saya bangga dan terharu padanya. Di tulisan ini tak lupa saya mendoakannya Semoga tetap istiqamah, jadi penegak hukum yang diharapkan dan tentu membanggakan kita semua. Amin…. Amin………

Ini tentang persaudaraan antar saudara yang sangat indah, saling mengasihi, menyayangi dengan sebenarnya. Jika lazim terdengar retaknya hubungan persaudaraan karena ketamakan harta, ini malah terbalik.

Di sebuah desa yg subur, hiduplah dua lelaki bersaudara. Sang kakak telah berkeluarga dengan dua orang anak, sedangkan si adik masih melajang. Mereka menggarap satu lahan berdua, dan ketika panen, hasilnya mereka bagi sama rata.

Di suatu malam setelah panen, si adik duduk sendiri dan berfikir,

“Pembagian ini sungguh tidak adil, seharusnya kakakku lah yang mendapat bagian lebih banyak karena dia hidup dengan istri dan kedua anaknya.

Maka di malam yang sunyi itu diam-diam dia menggotong satu karung padi miliknya dan meletakkanya di lumbung padi milik kakaknya”.

Di tempat yg lain, sang kakak juga berfikir, “Pembagian ini adil jika adikku mendapat bagian yang lebih banyak, karena ia hidup sendiri, jika terjadi apa-apa dengannya tak ada yang mengurus, sedangkan aku ada anak dan istri yang kelak merawatku.”

Maka sang kakak pun bergegas mengambil satu karung dari lumbungnya dan mengantarkan dengan diam-diam ke lumbung milik sang adik.

Kejadian ini terjadi bertahun-tahun. Dalam benak mereka ada tanda tanya, kenapa lumbung padi mereka seperti tak berkurang meski telah menguranginya setiap kali panen.

Hingga di suatu malam yang lengang setelah panen, mereka berdua bertemu di tengah jalan. Masing-masing mereka menggotong satu karung padi.

Tanda tanya dalam benak mereka terjawab sudah, seketika itu juga mereka saling memeluk erat, mereka sungguh terharu berurai air mata menyadari betapa mereka saling menyayangi.

Begitulah seharusnya kita bersaudara. Jangan biarkan harta menjadi pemicu permusuhan melainkan menjadi perekat yang teramat kuat di antara saudara.

Allah telah menanamkan cinta pada hati mereka yang mau lelah memikirkan nasib saudara-saudara mereka. Allah tak akan membiarkan kita kekurangan jika kita selalu berusaha mencukupi kehidupan orang lain. Allah tak akan menyusahkan kita yang selalu berusaha membahagiakan orang lain…!. (*)