SELASA , 16 OKTOBER 2018

IPMAPUS Demo Disdik Sulbar, Ini Tuntutannya

Reporter:

Sudirman

Editor:

Lukman

Jumat , 03 Agustus 2018 15:40
IPMAPUS Demo Disdik Sulbar, Ini Tuntutannya

Ikatan Pemuda Mahasiswa Pitu Ulunna Salu (IPMAPUS), saat menggelar aksi di depan Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Jumat (03/08).

MAMUJU,RAKYATSULSEL.COM – Ikatan Pemuda Mahasiswa Pitu Ulunna Salu (IPMAPUS) menggelar aksi di depan Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Jumat (03/08).

Aksi tersebut terkait pernyataan Kadis Pendidikan Sulbar Dr. Ramli yang mengatakan jika bahasa PUS tidak jelas dan tidak berwujud, pada poin kedua perumusan muatan lokal bahasa pada tanggal 26 sampai 28 Juli 2018.

Adapun tuntutan massa aksi, yaitu meminta Dr. Ramli mengklarifikasi dan meminta maaf kepada masyarakat PUS secara terbuka, Penamaan Mulok “Sastra dan Bahasa Mandar harus diubah dengan nama yang lebih mengakomodir secara keseluruhan suku yang ada di Sulbar, yaitu sastra dan kearifan lokal. Apabila pada poin kedua tidak dapat diwujudkan, maka mulok ini tidak usah diterapkan karena dianggap berpotensi memicu konflik etnis.

Rhyank D’secret sebagai Korlap massa aksi mengatakan, berangkat dari sebuah kebijakan yang ingin diterapkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulbar tentang penerapan mulok di tingkat SMA yang rencananya akan segera diberlakukan di semua sekolah se Sulbar secara serentak, kini telah menuai banyak masalah.

Pasalnya, dalam poin tersebut dianggap telah melakukan diskriminasi terhadap beberapa suku yang ada di Sulbar sejak lama.

“Bukan kami tidak menginginkan adanya perumusan mulok bahasa. Kami hanya ingin dinas pendidikan sulbar mengubah penamaan mulok sastra dan bahasa mandar menjadi nama yang lebih mengakomodir secara keseluruhan suku yang ada di Sulbar, yaitu sastra dan kearifan lokal Sulbar,” ujarnya.

Sementara itu, Komisioner IPMAPUS Ahyar mengatakan, IPMAPUS mendatangi kantor dinas pendidikan untuk meminta keadilan supaya semua suku yang ada di Sulbar diakomodir dalam perumusan mulok yang dirancang oleh dinas pendidikan Sulbar.

“Kami hadir disini bukan ingin mambalaskan dendam kamj bahwa daerah atau suku kami dikucilkan, tetapi kami datang disini untuk meminta keadilan supaya semua suku diakomodir dalam mulok yang dirancang oleh dinas pendidikan Sulbar,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, menyikapi persoalan ketidak hadiran kadi pendidikan selaku penanggungjawab dalam perancangan mulok, IPMAPUS sangat kecewa.

“Jika kadis pendidikan tidak bisa menyelesaikan persoalan ini hingga hari Senin 7 Agustus, kami akan datang lagi untuk menuntut bersama keluarga dan tokoh-tokoh adat kami dari PUS, karena hari ini hanya generasi PUS saja khususnya pemuda dan mahasiswa,” katanya.

“Sebelum kami datang kesini, terlebih dahulu kami meminta restu kepada orangtua kami seperti yang kami jadikan pedoman yaitu Adak Tuo, yang artinya kami harus menyelesaikan dulu secara persuasif, tetapi jika dengan cara ini tidak diindahkan, Insya Allah keluarga dan tokoh adat kamk akan turun,” ungkap Ahyar. (*)


div>