KAMIS , 26 APRIL 2018

IPPNU Bahas Dampak Perkawinan Usia Dini

Reporter:

Muhammad Alief

Editor:

Lukman

Sabtu , 17 Maret 2018 00:32
IPPNU Bahas Dampak Perkawinan Usia Dini

Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama saat menggelar dialog dampak pernikahan dini.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) menggelar dialog Perempuan bertemakan “Dampak Perkawinan Anak Pada Anak Jaman Now”, di ruang redaksi Harian Fajar, Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Jumat (16/3).

Dalam dialog ini Pengurus IPPNU menghadirkan tiga pembicara yakni, Hafidah Djalante (Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), A Tenri Pada AP (Ketua Komisi Perempuan KNPI Sulsel) dan Marwah Rasyid, selaku mandataris Ketua IPPNU Kota Makassar.

Ketua panitia dialog, Megalia, menyampaikan bahwa dialog kali ini yakni bertujuan agar dampak perkawinan anak usia dini dapat diminimalisir, sebab saat ini perkawinan anak usia dini semakin meningkat jumlahnya khususnya di Kota Makassar.

“Pernikahan di usia dini di Makassar jumlahnya semakin meningkat, inilah yang ingin kita antisipasi lantaran berdampak terhadap anak itu sendiri,” ujarnya.

Hafidah Jalante, yang tampil sebagai narasumber mewakili Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA), mengungkapkan bagaimana kondisi nyata yang benar-benar terjadi dan ditangani oleh DPPPA selama ini.

Selain menjelaskan jumlah data perkawinan anak usia dini di Kota Makassar, ia juga membeberkan dampak perkawinan dini terhadapĀ kondisi psikologi anak.

“Yang pasti, dampak perkawinan dini terhadap anak, tentu saja akan merebut hak pendidikan dan sosial anak,” katanya.

Sementara, Ketua IPPNU Makassar, Marwah Rasyid, juga menyampaikan bahwa selain dampak psikologi, anak usia dini yang telah menikah kemudian melahirkan anak sangat membahayakan kesehatan bagi dirinya maupun bayinya.

“Dampak lain yang sangat membahayakan bagi perempuan yang usianya masih tergolong anak, namun telah melahirkan anak adalah terhadapĀ kesehatan reproduksinya,” terangnya.

Hal lainnya menurut Marwah, juga dipastikan akan mempersempit peluang kaum perempuan muda untuk tampil di panggung maupun ruang publik.

Hal senada juga disampaikan oleh A Tenri Pada, dengan menjelaskan pentingnya mensosialisasikan UUD perlindungan hak anak.

“Melalui kesempatan ini, saya juga ingin mengajak seluruh peserta dialog perempuan kali ini, untuk mari kita kampanyekan dampak dari perkawinan anak ini. Demi peningkatan kualitas perempuan di Sulsel,” tutupnya. (*)


div>