RABU , 26 SEPTEMBER 2018

Iqra

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 02 Maret 2017 12:15
Iqra

Wawan Mattaliu. (Facebook)

Bacalah. Begitu kata Tuhan. Ayat pertama sebagai tanda urgen. Tetapi, bukan itu alasan saya menyukai buku ketika beranjak SMP. Menghabiskan seperdua waktu keluar main di perpustakaan lalu menyelipkan satu atau dua buku di punggung setelahnya.

Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli salah satu hasilnya. Buku yang membuat saya membenci sepenuh hati Datuk Maringgi. Lelaki lapuk yang tega sekali menghancurkan tiga orang sekaligus. Samsul Bachri, Siti Nurbaya dan Datuk Sulaiman.

Di SMA, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk berhasil saya loloskan lewat jendela. Di situ saya bertemu dengan Zainuddin yang gagap. Ia lahir dari rahim Daeng Habibah di Makassar dari seorang ayah yang berdarah Padang Panjang. Masa kecilnya dilewati dengan bully sebagai orang asing. Orang Minang. Apalagi setelah ibu dan bapaknya susul menyusul meninggal. Dia kemudian dipelihara oleh Mak Basse. Tetapi, bully orang asing mendorongnya ke Batipuh di Sumatera. Di sana, awalnya Zainuddin gembira. Namum, kelamaan dia akhirnya sadar. Orang-orang di Batipuh pun menganggapnya orang asing. Orang Bugis.

Buku lain yang saya kenang adalah Rubaiat Umar Kayyam. Buku yang harus saya bayar dengan berlari lima kali keliling lapangan bola karena Pak Rauf, salah satu guru di sekolah, menemukannya terjatuh setelah celana saya yang kedodoran tak sanggup menahannya. Membaca bagi saya pada awalnya adalah gagahan saja. Konon, perempuan manis menyukai lelaki cerdas.

Lama setelah itu, membaca beralih fungsi menjadi terapi kefakiran. Jika usai libur panjang. Anak-anak orang kaya segera berceloteh di sela membersihkan kelas. Bagaimana mereka dengan beberapa koin menghabiskan hari liburnya di Bang Hasan yang memiliki pusat permainan bonafid di Makassar pada awal 1990 an.

Dan, kami para fakir harus mendengarnya dengan cemburu yang sungguh-sungguh. Hiburan terbaik yang paling bisa kami nikmati adalah naik bis bertingkat dari Batangase, Maros, ke Makassar lalu sampai di Sungguminasa lantas berputar kembali ke Batangase. Tiketnya 250 rupiah. Kami punya cerita atas Karebosi dan sejumlah bangunan menjulang di Makassar.

Tentu tak sebanding dengan cerita Bang Hasan dan isinya. Sungguh buku itu baik. Peta Jakarta yang ada di Buku Pintar Junior agak di ujung halaman buku saya lalap di masa libur. Pas hari awal masuk sekolah, saya mengganti mereka yang langganan dengan Bang Hasan dengan cerita Jakarta. Naik kereta api dari Gambir ke Jati Negara sambil menyaksikan pucuk Monas yang di buat dari emas. Bumbu ceritanya, saya melewati rumah Rano Karno, saya melihat Suti menyapu di halaman dan Mandra minum kopi di beranda. Tak ada yang menyanggah. Mereka percaya saja. Beberapa kelihatan menyimpan cemburu. Itulah alasan saya kemudian menyukai buku. Terapi kefakiran.

Semakin lama membaca itu semakin menjadi wisata. Di sanggar Turi, Pak Tunggal menyiapkan beberapa buku yang sangat sulit diloloskan dari perpustakaan. Buku Teguh Karya yang terlalu besar untuk disampir di punggung. Buku Linus Suryadi yang asyik dan sedikit porno tentang pengakuan Pariyem. Hal ini turut dilengkapi almarhum Mas Imam Setianto. Kawan baik Cak Nun di Malioboro yang jadi Pegawai Negeri Sipil di Maros. Koleksi bukunya digilir ke kami. Kemudian sekali seminggu dibedah di rumahnya. Darinya, kami dapat buku Pramoedya Ananta Toer yang harus dibaca sembunyi-sembunyi. Buku terbitan Hasta Mitra yang disegel haram oleh Orba menemani larut malam saya bersama banyak kawan di Tumalia.

Dari Mas Imam pula, saya diajak berkenalan dengan Ibra. Lelaki yang menemukan kalimat: Indonesia Tanah Tumpah Darahku. Tulisannya menjadi bacaan Soekarno dan Sayuti Melik. Ibra adalah lelaki Minangkabau yang lahir dari keluarga Islam yang taat. Masa kecilnya di habiskan di surau. Itu yang menjadi sebab, dia sekali waktu menjadi imam salat Jumat di Kanton, China. Menjadi alasan besar juga mengapa dia sangat ingin mempertemukan Pan Islamisme dan Komunisme ketika menjadi wakil asia di Moskow pada Kongres Komintern tahun 1922.

Ibra begitu mencintai Indonesia. Meski berada di Kanton, ia tetap menempatkan Indonesia sebagai harapan besar. Dari situ lahir Naar de Republiek Indonesia. Gagasan awal sebuah negara di gugus Nusantara. Penghormatan dari Soekarno, memberinya gelar Pahlawan Nasional. Benarlah dia adalah pimpinan komintern di Asia Tenggara. Benarlah dia menuntaskan Friedrich Nietzsche, Internationale, dan apa saja yang beraroma komunis.

Tetapi, saya lebih menangkapnya sebagai upaya pengayaan gagasan untuk membebaskan bangsa yang dicintainya. Bangsa yang membunuhnya berkali kali. Sutan Ibrahim, gelar Datok Tan Malaka, nama aslinya. Jika hari ini kita membaca Madilog dan Gerpolek maka yang kita temukan adalah gelisah dan cinta. Gelisah pada bangsanya dan cinta yg besar pada sesamanya.

Harry A Poeze, sejarawan asal Belanda yang begitu faham jalan hidup Ibra bahkan membuka tabir bahwa pertemuan akbar di lapangan Ikada adalah hasil kerja Ibra. Inilah yang membuat saya mengingat pesan Tuhan tentang Iqra. Pesan pertama yang sampai ke Muhammad.

Tiba-tiba saja ada kabar di linimasa yang menyampaikan bahwa monolog Tan Malaka di Bandung dihadang oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan agama. Mereka adalah sekelompok orang yang berupaya mengambil alih kewajiban para Polisi dan TNI. Dalih mereka, Tan adalah komunis. Tan akan melahirkan pengaruh buruk bagi negeri ini. Beruntunglah ada Ridwan Kamil, lelaki baik yang membaca, segera memasang dada.

Sungguhlah saya ingat betul ayat Tuhan itu. Iqra. Ternyata pesan yang tak main-main. Pesan yang sangat serius agar siapa saja tak kelihatan bodoh dengan bersungguh-sungguh.


div>