SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Isu “Serangan Fajar”

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 01 September 2012 10:15

RAKYAT SULSEL . TAKALAR- Banyak isu yang berkembang mendekati pemilihan bupati dan wakil bupati Takalar pada 4 Oktober mendatang. Salah satu isu yang santer adalah akan adanya serangan fajar. Bahkan, untuk serangan fajar, ada istilah “siram” dan “bom”. Maksudnya, dalam “serangan fajar” itu akan “disiram” dengan uang yang jumlahnya cukup gede. Isu ini, mengguncang Takalar.

Penggunaan dana untuk “menyiram” atau mem-“bom” saat serangan fajar oleh tim-sim sukses, disebutkan nominalnya antara Rp5 miliar hingga Rp7 miliar. Uang sebanyak itu akan “disiramkan” kepada masyarakat pada detik-detik menjelang pemilihan. Entah darimana asalnya isu itu, namun sudah menjadi pembicaraan di tengah-tengah masyarakat.

Namun, sepertinya upaya serangan fajar itu sepertinya akan sulit dilakukan oleh kandidat, mengingat seluruh tim sukses kandidat kini sudah berupaya mengantisipasi adanya serangan fajar dari kandidat lain. Apalagi, tim-tim pemenangan calon bupati dan wakil bupati menyatakan sangat anti dengan politik uang (money politic).

Beberapa tim sukses yang ditemui Rakyat Sulsel enggan mengurai strategi mereka menjelang pemilihan. Bahkan, beberapa kandidat menyatakan, sangat anti menggunakan money politic.

Rafiuddin Dg Ngopa sebagai Sekretaris AMPG Takalar menegaskan pasangan yang diusung Parti Golkar pantang menggunakan money politic, apalagi membeli suara rakyat. “Ada memang anggaran yang disiapkan tim pemenangan, namun untuk biaya operasional tim, kalau seorang rakyat telah dibeli otomatis kandidat itu diprediksi tidak lagi memperjuangkan aspirasi rakyat secara utuh untuk melakukan perubahan saat terpilih nanti,” urai Rafiuddin Dg Ngopa.

Selain itu, komunikasi yang dibangun tim sukses lebih mengedepankan pendekatan emosional dengan rakyat. “Kami ingin meraih kemenangan dengan cara elegan, santun, bermartabat, dan bersahabat,” ujar Ismail Tato salah seorang pengurus DPD II Golkar Takalar.

Sementara pasangan H Achmad Dg Se’re-A Sukwangsyah A Lomba (Ajjiku) melalui Syahrir Sila mengiyakan pergerakan tim Ajjiku memakai dana yang cukup besar untuk melakukan konsolidasi dan lainnya. “Soal besaran anggaran tidak etis kami sebutkan namun anggaran tersebut bukan untuk transaksi jual beli suara karena kami ingin menang dengan pola pencerdasan politik kepada rakyat,” tegas Syahrir Sila.

Bahkan, dirinya memastikan pihaknya malas menggunakan bahasa menyiram apalagi membom dengan menggunakan uang untuk money politic. Jawaban yang sama diungkapkan H Achmad Dg  Sija Ketua PKNU Takalar yang juga merupakan pendukung pasangan A Makmur A Sadda- A Nashar A Baso (AMAN). Dia juga menolak menggunakan ungkapan “menyiram” dan “bom”. “Kami tidak punya dinamit atau apa saja untuk membom apalagi menyiram karena memerlukan gayung,” ujarnya bercanda.

Tapi pihaknya menegaskan sesuai instruksi dan kesepakatan partai pengusung pasangan AMAN ingin memberikan pendidikan moral dan etika kepada rakyat. “Kemenangan AMAN akan diraih dengan cara yang bersih,” ujarnya.

Achmad Dg Sija juga menambahkan untuk pendukungnya di Galesong, warga malah marah kalau mau diberi imbalan. “Mereka sudah mensyukuri kehidupannya mencari nafkah sudah dibantu perahu untuk melaut,” ungkapnya.

Panwas Takalar, Syamsuddin Dg Sese mengungkapkan, pihaknya tidak akan mentolerir salah satu tim sukses apabila ditemukan dan memenuhi unsur untuk diproses bila melakukan politik uang. “Sikap kami jelas akan menindaklanjutinya sesuai aturan yang berlaku,” urai Syamsuddin Dg Sese.

(K2/D)


Tag
div>