SELASA , 23 OKTOBER 2018

Ita Wantonga Srikandi SAR Bosowa

Reporter:

Nhera

Editor:

Iskanto

Minggu , 07 Oktober 2018 17:12
Ita Wantonga Srikandi SAR Bosowa

int

PALU, RAKYATSULSEL.COM – Bencana gempa bumi berkekuatan 7,4 SR dan tsunami yang melanda kawasan Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah, Jumat petang (28/9), menyisakan duka mendalam bagi para korban dan juga seluruh bangsa Indonesia.

Ribuan relawan berdatangan ke Kota Palu dan Donggala, baik relawan tim medis maupun tim evakuasi yang bersentuhan langsung dengan mayat korban reruntuhan.

Salah satu relawan Sar dari Universitas Bosowa Makassar, Ita Wantonga, mahasiswa angkatan 2013 ini merasa terpanggil untuk datang ke Kota Palu membantu para korban bencana. Atas izin kedua orang tua yang tinggal di Ternate dia berangkat bersama tujuh orang temannya, katanya ini panggilan hati.

“Saya tidak digaji sama sekali berangkat pakai dana pribadi, ikut rombongan relawan naik kapal KRI milik TNI. Yang saya fikirkan bagaimana saya sampai dan membantu para korban bencana, ini panggilan hati,” Kata Ita pagi tadi, Minggu (7/10).

Di Palu dia bergabung bersama tim Basarnas, kesalah satu ketitik lokasi yang paling parah yakni Balaroa kecamatan Palu Barat. bersama timnya ia merupakan wanita satu-satunya. Pukul 08.00 Wita dia sudah dilokasi dengan peralatan seadanya seperti skop dan palu. Dia menggali puing reruntuhan rumah. Hari pertama dia bersama tim menemukan kurang lebih 27 mayat dibawah reruntuhan.

“Saya menggunakan peralatan lengkap, agar tidak terkena penyakit yang didatangkan oleh mayat. Tak ada lagi ketakutan, yang terfikir bagaimana mayat segera dievakuasi, memberikan kabar ke keluarganya, agar bisa dikuburkan secara layak,” ungkap wanita kelahiran 17 September 1996 ini.

Dihari kedua, dia turun kembali dititik lokasi yang sama hingga magrib lewat, tak banyak korban dia temukan hanya tujuh. Korban-korban yang ditemukan difoto katanya sebagai dokumentasi  basarnas siapa tahu keluarga masih mengenal wajah mereka.

“Tersayat hati melihat mayat-mayat tergeletak disana, ribuan mayat masih belum ditemukan. alat berat mulai masuk, pencarian korban lebih dimudahkan,” ungkapnya.

Sejak tahun 2013 dia telah bergabung di Sar Bosowa puluhan mayat telah dia evakuasi. dia memang seorang wanita tapi wanita yang tidak biasa, dia tidak pernah kesalon wajahnya tidak pernah tersentuh makeup seperti wanita pada umumnya.

Tapi kerjanya mulia, jiwa relawannya sangat tinggi, dia tidak digaji makan mie instan setiap pagi yang dia fikirkan bagaimana ribuan korban segera dievakuasi. (*)


div>