SABTU , 20 OKTOBER 2018

Izin Insinerator Terpadu Masih Tertahan

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Selasa , 20 Maret 2018 12:15
Izin Insinerator Terpadu Masih Tertahan

Kepala DPLH Sulsel, Andi Hasbi Nur. ist

* Pemprov Klaim Lahan Sudah Siap

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kepala Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) Sulsel, Hasbi Nur masih melakukan perbaikan berkas untuk mendapatkan izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap rencana proyek pembangunan insinerator terpadu yang terletak di kawasan PT KIMA.

“Izinnya belum keluar. Ada perubahan yang diubah soal dokumen. KHLK masih berproses izinnya,” ungkap Hasbi Nur, Senin (19/3) kemarin.

Hasbi mengatakan rencana pembangunan proyek pengolahan limbah medis atau insinerator ini telah menyiapkan lahan. Hanya saja belum memasuki tahapan pembangunan fisik. Untuk itu, pihaknya masih terus mematangkan konsep sesuai rencana awal. “Rencananya pembuangan limbah B3 akan dikelola UPTD khusus,” tuturnya.

Selain itu, juga dilakukan pemagaran keliling secara bertahap dengan nilai anggaran sekitar Rp4 miliar.
Hasbi melanjutkan proyek insinerator ini diperkirakan sudah bisa beroperasi Juni nanti. Tahun depan, pihaknya berencana menambah lagi satu insinerator terpadu bila anggarannya disetujui.

“Ini karena proyek insinerator cukup besar potensinya bisa menyumbang PAD. Setahun bisa Rp30 miliar,” jelasnya.

Limbah medis, kata Hasbi, termasuk limbah dengan kategori bahan berbahaya dan Beracun (B3). Sehingga dalam proses pemusnahannya, membutuhkan incinerator atau alat pengolah limbah dengan cara pembakaran. Terlebih untuk Sulsel sendiri, limbah medis setiap bulannya mencapai 30 ton.

Ia mengatakan incinerator yang disiapkan oleh kementerian memiliki kapasitas yang lebih besar. Diklaimnya, ini mampu menampung hingga enam kubik limbah per satu kali operasi dengan waktu yang sangat singkat.

Selama ini, limbah medis di Sulsel juga dikelola oleh pihak ketiga dan dikirim keluar Sulsel. Jika alat itu ada, tidak perlu lagi dikirim ke luar Sulsel. Rumah Sakit juga bisa menghemat hingga 10 persen.

“Hanya butuh waktu tiga jam untuk enam kubik limbah. Selama ini kan untuk pengolahan limbah rumah sakit tidak efisien, dari Makassar harus dikapalkan ke Jakarta, di Jakarta ke pelabuhan lagi terus ke tempat pemusnahan,” jelasnya. (*)


div>