SELASA , 16 OKTOBER 2018

Jadi Pengusaha Dibutuhkan Skill dan Networking

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 19 Februari 2016 11:44
Jadi Pengusaha Dibutuhkan Skill dan Networking

int

Redaktur: Abdullah R

Persaingan dalam dunia bisnis adalah hal yang lumrah, namun jika pemimpin sebuah perusahan tidak memiliki kreativitas, maka ia tidak bertahan. Oleh karena itu, pengusaha sukses yang juga owner PT Bali Maspintjinra (BMC) Money Changer, Drs H Masrur Makmur La Tanro MPdi, menyebutkan, seorang pedagang atau pengusaha tangguh dibutuhkan skill dan networking (jaringan), meski terkadang uang juga tidak bisa dikesampingkan.

Menurutnya, bagi umat Islam, harus saling membantu sesama pengusaha lainnya. Ia menyebutkan, ada tiga nilai yang harus tertanam dalam diri pengusaha Islam, seperti nilai tafahum (saling memahami). Ta’awun (saling menolong) dan Takaful (saling menanggung).

Hal itu diungkapkan Masrur yang juga owner franchise RM Wong Solo Makassar, usai menjadi pemateri seminar Semangat Ekonomi Islam dari Timur untuk Indonesia di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar, Kamis (18/2).

CENDERAMATA. Owner PT Bali Maspintjinra (BMC) Money Changer Drs H Masrur Makmur La Tanro MPdi menyerahkan buku hasil karangannya ‘Dilarang Miskin’ kepada Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar, Kamis (18/2).

Masrur menyebutkan, modal pengusaha tidak semua berbentuk uang, tapi dibutuhkan juga social capital, dalam berdagang yang tak kalah pentingnya adalah networking. Masrur memberi empat kunci sukses jika seseorang ingin menjadi miliarder, yakni transparansi, personality, transformation, dan terakhir taktik atau strategi.

Kepada mahasiswa, Pria kelahiran Parepare 9 Desember 1963 ini, mengimbau, untuk tidak cepat puas dan hanya mengandalkan ide untuk memulai sebuah usaha. “Jangan puas dengan inspirasi, tidak boleh kenyang dengan ide, presentase kesuksesannya hanya 1 persen. Salah satu upaya mesti dilakukan adalah memperbanyak ikut seminar supaya terjangkiti motivasi dan terkontaminasi kedalam kehidupannya ke kedepan,” ungkapnya.

Kepada umat Islam yang hendak menjadi pengusaha untuk mencontoh sikap dan Rasulullah Muhammad SAW. “Sebagai Uswatun Hasanah dari idola, patut dicontoh 12 tahun jadi pedagang, 17 tahun jadi manager, 25 tahun jadi pemilik, 30 tahun jadi investor, dan 37 free finansial. Uanglah yang bekerja untuk rasul,” bebernya.

Khusus bagi pemula, kata pendiri Pondok Pesantren Shohwatul Is’ad ini, agar tidak gagal, perlu melakukan magang di bagai tempat terkait pekerjaan yang bakal dilakoni. “Belajar ilmu ekonomi di sekolah, keberhasilan dan gagalnya 50 persen. Mengikuti success story seseorang tingkat kegagalannya 80 persen dan keberhasilannya 20 persen. Sedangkan usaha berdasarkan hobi gagal 40 persen, berhasilan 60 persen.Yang paling sukses adalah magang di mana saja, itu disebut kuliah kerja nyata,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Terkait buku ‘Dilarang Miskin’ miliknya, bagai umat Islam agar tidak jadi jongos, tapi harus berdiri sendiri. Seperti saat ini masih banyak jadi penonton daripada menjadi pelaku langsung ekonomi, padahal jumlahnya lebih besar. Saat ini, lanjutnya, yang mengusai adalah pengusaha Tionghoa 67 persen ekonomi Indonesia sementara jumlahnya hanya 14,2 persen. “Lewat buku ini, saya mengimbau masyarakat Indonesia agar menjadi pelaku utama, ekonomi negeri kita tercinta ini,” kuncinya.

Berawal dari ketekunannya sebagai seorang pekerja dan kefasihannya berbahasa Inggris, pada tahun  1990, ia dipercaya H La Tunrung untuk membuka usaha valas atau money changer di Bali. Tiga tahun kemudian berbekal ucapan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ dan uang 26 juta hasil kerja sama dengan Mas Kuncoro ia membuka usaha pertamanya secara mandiri.

Menuai buah yang ditanam Masrur tidak tanggung-tanggung, kini ia menjadi salah satu pengusaha tersukses. saat ini Perusahaan yang ia beri nama PT Bali Maspintjinra sudah memiliki 21 cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Lombok, Yogyakarta, Makassar, Batam, Surabaya hingga Denpasar.

PT Bali Maspintjinra yang lebih dikenal dengan sebutan BMC Money Changer adalah salah satu perusahaan jasa penukaran uang yang ia didirikan pada Januari 1993 di Seminyak, Kuta, Bali.

Perusahaan ini, terus bertumbuh. Bahkan, membuka cabang dalam menjaga dan memajukan perusahaan ini, Masrur menerapkan pola pelayanan prima kepada wisatawan lokal dan manca negara.

Ia mengatakan, kesuksesannya menjalankan bisnis yang dia geluti tidak terlepas dari prinsip yang ia pegang. Dengan mencontoh dan mentauladani manajemen dagang Rasulullah. “Coba lihat bagaimana Nabi Muhammad yang berperilaku sederhana, meskipun kaya ia tak boros dan tidak membelanjakan laba hasil dagangannya sembarangan. Nah ini yang saya terapkan juga,” ungkapnya.

Masrur mengaku, tidak begitu saja menjadi sukses, selalu ada kepahitan dibalik manisnya kesuksesan, ini namanya teori Quantum Leap. “Ibarat bola kasti yang dipantulkan, semakin keras jatuhnya maka semakin tinggi pula pantulannya”, ujar Masrur.

Setelah sukses dengan bisnis yang ia jalani, kini pemilik PT Bali Maspintjinra Money Changer ini, ingin kembali membangun tanah kelahirannya di Sulawesi Selatan. Ia bahkan mengajak seluruh saudagar asal sulsel yang berada di luar untuk kembali bersama-sama membangun Sulsel sebagai rumah bersama.

“Mari membangun tempat kita dulu, sejahterahkan saudara kita, kalo teman-teman yang ada diluar mau berinvestasi, itu juga namanya sudah turut membangun,” terangnya.(***)

[NEXT-RASUL]

DATA DIRI

Nama Lengkap: Drs H Masrur Makmur La Tanro MPdi
TTL: Parepare, 9 Desember 1963
Pekerjaan:

  • Owner PT Bali Maspintjinra Money Changer
  • Ketua Yayasan Eduka Sejahtera Insan Cendekia Bumi Serpong Damai (BSD) Pamulang
  • Manager Tomoza Corporation, Japan Bali.
  • Owner Franchise RM Wong Solo Makassar

Riwayat Organisasi dan Pendidikan :

  • Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Badung Bali
  • Wakil Ketua di Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ)
  • Ketua Rukun Warga Musim (RWM) Masjid Al Hasanah Perum Canggu Permai Kabupaten Badung, Bali
  • Alumni Pondok Pesantren IMMIM Putra Makassar.

Tag
div>