SENIN , 24 SEPTEMBER 2018

Jaga Inflasi BI Perkuat Kemitraan Distribusi Beras

Reporter:

Rusman

Editor:

asharabdullah

Kamis , 15 Februari 2018 10:00
Jaga Inflasi BI Perkuat Kemitraan Distribusi Beras

Bank Indonesia. (int)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Upaya Bank Indonesia (BI) mencegah terjadinya tingkat inflasi lebih besar dari 2017 diharapkan adanya kemitraan antar
kabupaten/kota soal distribusi beras. Menurutnya, distribusi beras yang tidak merata dapat menyebabkan inflasi pada daerah yang bukan sentra pangan.

Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulsel, Amanlison Sembiring mengutarakan, distribusi beras yang tidak merata di Sulsel banyak mempengaruhi tingkat inflasi pada 2018. Hal ini mengacu pada fenomena yang terjadi pada Januari 2018.

Oleh karena itu, Amanlison mengharapkan, kabupaten yang menjadi sentra beras dapat mendistribusikan produksinya ke kabupaten/kota yang tidak memiliki banyak lahan persawahan. Begitu pula sektor pangan lainya, seperti sayur-sayuran dan ikan, seyogyanya pendistribusiannya lebih merata kepada seluruh daerah di Sulsel.

Jika kemitraan ini berjalan baik, maka tingkat inflasi di Sulsel dapat ditekan lebih rendah dari perkiraan semula 3,5 persen plus minus 1 persen pada 2018.

“Kalau ada kemitraan antar kabupaten/kota soal distribusi beras di Sulsel pada 2018 maka tingkat inflasi dapat ditekan lebih rendah dari prediksi
awal,” tuturnya, Rabu (14/2) kemarin.

Amanlison menilai, di Sulsel ini ada kabupaten yang sangat surplus beras sedangkan ada sejumlah kabupaten/kota juga yang tergolong minus dibandingkan kebutuhan penduduknya. Untuk mengimbangi kondisi semacam itu, maka produksi beras di daerah surplus dapat didistribusikan ke kabupaten/kota yang dianggap kekurangan, sehingga ketersediaannya merata.

Malahan, dia menginginkan, tidak perlu melayani permintaan beras daru daerah lain di luar Sulsel sebelum kebutuhan masyarakat di daerah ini terpenuhi.

Sangat tidak masuk akal apabila ada kabupaten/kota di Sulsel yang kekurangan stok beras yang menyebabkan kenaikan harga sementara terkenal produsen beras di Indonesia yang mencapai 3 juta ton setiap kali panen raya.

Sedangkan kebutuhan sehari-hari masyarakat Sulsel sendiri hanya menghabiskan sekira 900.000 ton setiap tahun.

Ia menyatakan, setiap kabupaten/kota di Sulsel ini memiliki karakteristik tersendiri maka perlu adanya penanganan jangka pendek dan menengah soal ketersediaan beras dan bahan pangan lainnya.

Kemudian untuk jangka panjangnya, BI mengharapkan, adanya data valid soal ketersediaan beras pada setiap kabupaten/kota. “Untuk mengantisipasi meningkatnya inflasi pada setiap kabupaten/kota perlu menjaga pasokan pangan khususnya beras,” bebernya. (*)


div>