Jago di Pusat, Loyo di Sulsel

MAKASSAR,RakyatSulsel.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) boleh jadi jawara di Pileg 2014. Namun khusus Pilkada di Sulsel, partai berlambang banteng moncong putih ini nyaris hanya jadi penggembira.

PDIP sebagai partai penguasa dalam mengusung dan memenangkan Presiden ke-7, Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu, tidak berpengaruh secara signifikan pada peningkatan kepopuleran partai di Sulsel.

Sebagai contoh pada Pilkada serentak jilid pertama 2015 lalu, dari sebelas daerah yang ikut dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut di Sulsel, tidak ada satu pun kader PDIP yang duduk sebagai kepala daerah. Meski pada akhirnya PDIP Sulsel hanya mampu menggaet Wakil Bupati Pangkep Syahban Sammana dan Wakil Bupati Gowa Abdul Rauf Mallagani Kr Kio. Itu pun dilakukan setelah Pilkada.

Terkait hal itu, Sekretaris DPD PDIP Sulsel, Rudy Pieter Goni mengakui, jika Golkar adalah partai yang paling berpengaruh di Sulsel. Tapi, kata dia, PDIP juga akan tetap tampil untuk bergerak dalam moment politik seperti Pilkada.

“Kalau soal partai berpengaruh di Sulsel tentu akan mengarah pada Partai Golkar, tapi kami di PDIP juga tidak akan ciut. Kami akan terus melakukan pembenahan struktur secara internal untuk selalu tampil dalam event politik di Sulsel,” kata Rudy, Rabu (11/1).

[NEXT-RASUL]

Menurut RPG–sapaan akrab Rudy P Goni, pada Pilkada serentak 2015 lalu, PDIP juga telah tampil secara maksimal. Buktinya, kata dia, beberapa usungan PDIP mencapai hasil yang maksimal yakni memenangkan Pilkada seperti Gowa dan Pangkep.

“Pilkada serentak 2015 lalu itu kami tetap tampil kan, bahkan usungan kami di Pilkada Gowa dan Pangkep menang. Dan setelah Pilkada itu, Wakil Bupati Gowa Karaeng Kio dan Wakil Bupati Pangkep Syahban Sammana masuk di PDIP,” ungkapnya.

RPG menambahkan, PDIP sangat mengutamakan kaderisasi dibandingkan dengan partai lain. Bahkan ia menilai, PDIP sangat menjunjung tinggi etika politik dalam melakukan manuver politik, terutama dalam hal mencomot kader partai lain.

“Kita punya etika dalam berpolitik. Dan ini mesti kita jaga. Pertama kita akan merangkul birokrat bukan mencomot kader partai lain. Dan kedua membuka diri kepada seluruh masyarakat dalam melakukan pelatihan kader, kami tidak mengenal istilah pembajakan,” jelasnya.

Oleh karena itu, legislatif DPRD Sulsel itu mengaku sedang malakukan perbaikan dan pembenahan secara menyeluruh. “Kami saat ini itu sedang fokus perbaikan internal, karena kami mengakui banyak kader kami yang sedang digoda oleh partai lain. Dan untuk mencegah agar kader potensial kami pindah maka perlu dilakukan pembenahan struktur,” ujarnya.

Salah satu diantaranya, kata mantan legislator Kota Makassar itu, adalah dengan melakukan pengkaderan secara berskala. Mulai dari tingkat Dewan Pimpinan Cabang pada kabupaten/kota hingga pada tingkat provinsi bahkan nasional.

[NEXT-RASUL]

“Kita programkan ini untuk tuntaskan pengkaderan. Tahun 2016 lalu ada lebih 100 kader baru di tingkat provinsi, dan kurang lebih 1000 kader baru ditingkat kabupaten/kota. Dan ini mendapat penghargaan sebagai tiga DPD terbaik nasional,” terangnya.

Khusus untuk Pilkada 2018 mendatang, RPG mengatakan DPD PDIP Sulsel akan menyasar sepuluh daerah. Menurutnya, lima dari sepuluh daerah tersebut akan diprioritaskan untuk mengusung kader.

“Pilkada serentak jilid tiga 2018 nanti itu kita akan menyasar 10 daerah. Kita harap lima kader PDIP akan bertarung. Lima lainnya akan melakukan koalisi. Salah satu diantara yang akan diprioritaskan itu adalah Kota Makassar, Palopo, Luwu, Pinrang, Parepare, Bone,” pungkasnya.

Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Adi Suryadi Culla mengatakan PDIP di Sulsel dalam keadaan lemah. Sebagai bukti, kata Adi adalah perolehan suara pada Pemilihan Legislatif (Pileg) Sulsel itu lalu sangat lemah.

“Saya kira posisi PDIP pada parlemen di Sulsel itu berada pada papan bawah, karena perolehan suara baik di DPRD Sulsel maupun kabupaten/kota itu tidak mencolok. Hal inilah yang membuat bargaining politiknya juga akan lemah,” jelasnya.

Ia menambahkan, posisi PDIP saat ini di Sulsel yang sedang mengalami kesulitan itu tidak bisa dilepaskan dari sejarah politiknya di Sulsel. Menurutnya, konflik internal PDIP di masa lalu itu besar tidaknya berpengaruh terhadap wajah PDIP saat ini.

[NEXT-RASUL]

“Itu tidak bisa dipisahkan secara objektif. Pada kepemimpinan Pak Basri Pallaguna lah PDIP mulai sedikit bangkit. Dimulai dengan jalannya konsolidasi internal dengan baik dan lain-lain,” jelasnya.

Selain itu, kata Adi, hal lain yang membuat PDIP di Sulsel sulit bangkit karena lebih mementingkan kelembagaan yang solid. Menurutnya, hal itu ada kelebihan dan kekurangannya.

“PDIP itu secara internal sangat solid, karena kan PDIP itu juga adalah partai kader, sehingga untuk berproses itu membutuhkan waktu yang cukup lama karena tahapan kaderisasi mesti dilalui, dan ini saya kira membuat kader sedikit jenuh tapi secara internal akan solid,” ulasnya.

Hal lain yang membuat PDIP berbeda dengan partai lain untuk berkembang adalah karena soal kepemimpinan. Menurut Adi, jika di Partai NasDem ada tokoh seperti Rusdi Masse, di Golkar ada Nurdin Halid namun di PDIP hanya ada Andi Ridwan Wittiri.

“Untuk melihat partai itu berkembang dengan cepat, itu banyak sedikitnya karena pengaruh pimpinannya. Seperti yang terjadi di Partai NasDem saat ini, meski tergolong partai baru tapi mampu tampil sebagai partai yang diperhitungkan di Sulsel,” pungkasnya. (E)