JUMAT , 14 DESEMBER 2018

Jalan Damai

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 02 Desember 2016 11:32
Jalan Damai

Arifuddin Saeni

NOVEL biografi  yang ditulis Tasaro GK, ‘’Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan’’ mengantar kita pada sebuah perjalanan spiritual yang sangat mendalam tentang Islam. Agama yang ditegakkan oleh Baginda Rasul  Muhammad SAW tanpa jalan kekerasan–dan Tasaro, melukiskannya dengan sungguh indah dan banyak perenungan.

Kashva seperti yang digambarkan Tasaro sebagai sang pemindai surga, bukanlah lelaki biasa. Lelaki muda yang mampu membuat amarah Khosrou penguasa Persia di puncak singgasananya Persepolis, menatap tajam anak muda itu yang dinilainya sebagai pelanggaran berat, ketika dia mengatakan Persia akan jatuh  dengan adanya agama baru yang dibawah oleh Lelaki yang waktunya habis dan tak pernah berhenti mengingat Tuhannya. Bagi Khosrou,  yang berasal dari Dinasti Sassasnia adalah sesuatu yang tak mungkin.

Tapi di Bangsal Apadana, Kerajaan Persia, Kashva berkata, “Nabi yang dijanjikan Astvat-ereta yang akan melindungi imam umat Zardusht, menumpas iblis, meruntuhkan berhala, dan membersihakn para pengikut zardusht dari kesalahan mereka. Dia telah datang. Baginda Astvat-ereta sudah hadir di dunia’’. Dan Khosrou murka, ingin menumpahkan darah  di Apadana. Dan sejarah kembali mencatat bahwa Persia kali pertama di invasi oleh Islam di bawa kepemimpinan, Khalid bin Walid.

Kedamaian Islam yang dibawah oleh Manusia Pilihan dan Pemberi Maaf yang tak terbatas ini seperti yang ditulis Tasaro, mengingatkan kita pada kejadian di belahan bumi lainnya. Di sana ada kesedihan, ketika dengan gampangnya amarah meluap-luap hingga ke ubun-ubun. Darah dengan gampangnya tumpah, juga atas nama agama. Padahal, seperti yang dikatakan Sang Baginda Rasul kita adalah saudara.

Tapi barangkali memang amarah se sekali dibutuhkan, ketika ada orang lain menyenggol perasaan dan keimanan kita, ataukah mungkin amarah bisa membangkitkan rasa emosional kita terhadap sesuatu. Tapi seperti yang dikatakan, Thomas 1995,  kemarahan itu  muncul timbul sebagai akibat dari provoksi yang tidak diinginkan dan tidak sesuai dengan nilai. Akibatnya, di situ bisa ada agresi. Tapi amarah, bukan berarti ada permusuhan.

Tapi siapa yang bisa menjamin kalau aku tak menyukaimu, ketika kau menyentuh keimanan saya. Bukankah berabad-abad yang lampau, ketika Baginda Rasul memasuki Mekah tak pernah mengusik dirimu. Penguasa Roma Timur pun, Flavius Heraklius Augustus, begitu takzim mendengar keberadaanmu.

Kita tentunya tak ingin saling menyindir, ataukah menyesakkan dada orang lain dengan kalimat-kalimat tak pantas, apalagi berbicara tentang ayat-ayat Alquran yang mungkin tak kau pahami. Tapi Islam sungguh maha pemaaf. Sebentang laut dan setinggi langit, Islam akan tak akan mencercamu. (*)


div>