RABU , 21 NOVEMBER 2018

Jalan Menuju Tuhan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 01 September 2015 16:10
Jalan Menuju Tuhan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Oleh: Prof Dr Darussalam Syamsuddin MAg

KAJIAN Tasawuf senantiasa mendambakan kedekatan hamba dengan Tuhan-Nya. Tuhan tidak bisa didekati bila hawa nafsu kita masih berdiri kokoh ibarat tegaknya gunung.

Seorang sufi hanya bisa mendekati Allah dengan menaklukkan hawa nafsu dan egoisme. Sementara Ibn ‘Arabi menuturkan bahwa kerinduan seorang hamba untuk kembali kepada Tuhan, ibarat sehelai bambu yang diambil dari rumpunnya lalu dibuat seruling.

Setiap kali seruling itu ditiup akan mengeluarkan suara rintihan kerinduan untuk menyatu dengan rumpun bambunya sebagai keluarga Tuhan. Dalam hadis qudsi Tuhan berfirman: “Semua makhluk adalah keluarga-Ku, dan yang paling Aku sayangi adalah yang paling sayang dan senantiasa berbagi kasih kepada sesamanya”.

Ada tiga jenis hawa nafsu di dalam diri kita yang senantiasa menghalangi kedekatan kita dengan Tuhan. Pertama, disebut nafsu bahimiyah, nafsu kebinatangan. Dalam diri setiap orang terkandung unsur-unsur kebinatangan. Unsur inilah yang mendorong kita untuk senantiasa mencari kepuasan lahiriah berupa kenikmatan sensual.

Kedua, disebut nafsu sabu’iyyah, nafsu kebuasan. Dalam diri setiap orang terdapat kekuatan binatang buas. Misalnya keinginan menyerang orang lain, suka mengambil dan memakan hak orang lain, ingin membenci, menghancurkan, atau pun mendengki orang lain.

Ketiga, disebut nafsu syaithaniyyah. Inilah kekuatan yang mendorong seseorang untuk membenarkan segala kejahatan yang kita lakukan. Misalnya ketika kita mengambil hak orang lain, setan membisikkan dalam hati kita agar kita tidak usah merasa bersalah karena kita telah mengambil hak orang lain itu.

Meskipun demikian, Tuhan juga menyimpan dalam diri kita, sebagai satu bagian penting dari kepribadian kita, yaitu kekuatan yang bersumber dari percikan cahaya Tuhan. Inilah yang sering disebut dengan quwwatun rabbaniyyah, kekuatan Tuhan. Para ahli menyebutnya dengan kekuatan terletak pada akal sehat.

Apabila akal menundukkan ketiga jenis nafsu itu, maka kita akan dibimbing oleh akal sehat untuk menempuh perjalanan ruhani menuju Tuhan. Tugas akal adalah mengendalikan seluruh hawa nafsu itu. Dengan demikian, kita dapat mendekati Allah.

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang, dimulai sejak kita berada di alam ruh ketika masih berada di rahim ibu, kemudian kita lahir ke dunia dan akhirnya menuju ke alam akhirat. Tidak ada sesuatu pun yang diciptakan Tuhan sia-sia.

Semua ciptaan-Nya mengandung maksud dan tujuan, hingga kehidupan dan kematian pun sengaja diadakan untuk mengetahui siapa di antara kita yang paling baik karya-karya nyatanya.

Perjalanan panjang yang telah kita tempuh tidak selamanya dihiasi senyum dan tawa, tapi seruling kedukaan pun sering menyapa. Hadapi saja ambil hikmahnya, ambil indahnya.

Karena dibalik semua peristiwa yang menimpa suka atau pun duka, sengsara maupun bahagia, ada rahasia Tuhan menyertai, semuanya akan indah pada waktunya. Memang Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit akan selamanya biru, tapi percayalah bahwa sesudah badai akan ada pelangi, setelah tetesan air mata akan ada tawa.

Gambaran hidup sebagai satu perjalanan, hanya ada dua pilihan yakni perjalanan menuju Allah, dan perjalanan menuju selain Allah. Masalahnya perjalanan mana yang kita pilih. Alquran menggunakan ungkapan: “Maka kemanakah kalian akan pergi” (QS. At-Takwir/81: 26).

Kita semua sedang melakukan perjalanan, kemana sebaiknya yang dituju. Alquran memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan seperti itu, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Ibrahim as: “Sesungguhnya aku sedang berangkat menuju Tuhanku dan Dia akan memberikan petunjuk kepadaku” (QS. Shaffat/37: 99).

Perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan kesucian. Setiap saat, Tuhan memanggil dan mengingatkan kita yang sedang menempuh perjalanan ini untuk kembali kepada-Nya. Dalam kajian tasawuf jalan menuju Tuhan sebanyak napas para pencari Tuhan. Namun jalan yang paling dekat kepada-Nya adalah membahagiakan orang lain dan berkhidmat kepada sesama.

Dalam Alquran Allah berfirman: “”Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, ya Tuhanku, perlihatkan epadaku bagaimana engkau membangkitkan orang mati. Allah berfirman, belum yakinkah kamu? Ibrahim menjawab, Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tetap mantap.

Allah berfirman, kalau demikian ambillah empat ekor burung lalu cincanglah semua. Kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka akan mendatangimu dengan segera. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Baqarah/2: 260).

Jalaluddin Rumi menjelaskan ketika menafsirkan ayat ini bahwa seseorang hanya hidup kembali (bangkit dari kuburnya) apabila dapat mematikan empat ekor burung yang mencerminkan egoisme kita. Keempat ekor burung itu adalah kerakusan, kesombongan, nafsu dan keinginan yang berlebihan. (*)


Tag
  • voxpopuli
  •  
    div>