RABU , 12 DESEMBER 2018

Jalan Terjal Komandan Menuju Senayan

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

Iskanto

Sabtu , 13 Oktober 2018 08:33
Jalan Terjal Komandan Menuju Senayan

ilustrasi komandan, (Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pernah menjabat Gubernur Sulsel dua periode, tidak menjamin Syahrul Yasin Limpo (SYL) bisa melenggang mulus ke Senayan pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang. Komandan, sapaan akrab SYL, juga harus bekerja keras jika ingin mendapatkan satu kursi di DPR RI.

Lembaga survei Nurani Strategic menempatkan SYL di posisi ketiga, bersaing ketat dengan Akbar Faizal dan Luthfi Halide di Partai NasDem untuk Dapil Sulsel II. Meliputi Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Bone, Wajo, Soppeng, Kota Parepare, Barru, Kepulauan Pangkep, dan Maros.

Diketahui, Akbar Faizal saat ini telah duduk sebagai Anggota DPR RI dari Partai NasDem. Pada Pileg 2014 lalu, Akbar Faizal berhasil meraup 47.940 suara. Sedangkan Luthfi Halide yang juga merupakan besan SYL, pernah bertarung di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Soppeng berpasangan dengan Andi Zulkarnaen. Meskipun kalah, Luthfi Halide saat itu memperoleh 59.101 suara.

Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus, mengungkapkan, meski pernah menjadi Gubernur Sulsel dua periode, tidak lantas membuat SYL bisa melenggang mulus ke Senayan. Posisi SYL justru terancam, dan berada di urutan ketiga setelah Akbar Faizal dan Luthfi Halide.

“Survei asli belum keluar, baru prediksi awal. Akan tetapi, urutan peluangnya yah Akbar Faizal, Luthfi Halide, baru SYL,” kata Nurmal Idrus, Jumat (12/10).

Survei masih digelar pada 1 – 7 Oktober lalu, mengambil 1.100 responden dengan sistem multi stage random sampling. Hasilnya, sejumlah nama baru muncul dan memiliki peluang besar untuk duduk di kursi Senayan. Adapun nama-nama yang disurvei, Supriansah, Luthfi Halide, Siti Maryam, dan Hasnah Syam.

“Dominasi Supriansah lebih kuat diantara para pendatang baru. Sedangkan untuk posisi petahana, Akbar Faizal yang paling dominan,” ungkapnya.

Menurutnya, Akbar Faizal sulit digoyang karena reputasinya selama menjadi Anggota DPR RI sangat baik. Ia dikenal kritis.

“Ini memang mengagetkan, tapi begitulah hasil potret kami di lapangan,” ujarnya.

Terpisah, Direktur Jaringan Suara Indonesia (JSI), Fajar S Tamin, mengungkapkan, meskipun JSI belum melakukan riset, namun ia menilai SYL berpeluang duduk di Senayan, jika dinilai berdasarkan kualitatif.

“Hal yang sangat mendasar adalah, SYL sudah sangat dikenal luas di dapil tersebut dibanding dengan kandidat lainnya,” kata Fajar.

Sementara, Pakar Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arif Wicaksono, agak sangsi jika figur SYL untuk sementara bisa “dikalahkan” oleh Akbar Faizal dan Luthfi Halide. Apalagi, SYL belum lama turun dari panggung kekuasaan eksekutif, dimana ketika itu levelnya sudah paripurna.

“Kalau disandingkan dengan Akbar Faizal mungkin masih logis jika SYL berada dibawahnya, mengingat Akbar Faizal cukup populer di tingkat nasional, dan punya basis yang mungkin hingga kini masih terus di-maintenance. Tapi jika disandingkan dengan Luthfi Halide, ini masih tanda tanya,” terangnya.

“Saya pikir dari sisi manapun, Luthfi Halide tidak mungkin menyaingi SYL. Meskipun mereka berdua terikat hubungan sebagai kerabat,” lanjutnya.

Ditambahkan, jika faktanya memang demikian, maka bisa dipastikan SYL harus turun ke bawah dengan lebih maksimal. Di sisi lain, bisa jadi setelah dipastikan bahwa SYL mendapat tiket menuju pentas nasional dengan posisi Staf Khusus Presiden, keseriusannya mencalonkan diri di Pileg mulai berkurang.

Waktu yang harusnya dimaksimalisasi dengan sosialisasi sebagai caleg, mulai berkurang seiring dengan bertambahnya beban tugas untuk memback-up Jokowi, baik sebagai Presiden, sekaligus sebagai calon presiden petahana di Pilpres 2019.

Sehingga, muncullah SYL di posisi ketiga dalam internal NasDem, dan dalam dapil yang sama.

“Belum lagi jika dihitung dengan caleg-caleg dari partai lain yang juga menghuni dapil tersebut,” katanya.

Menurut Arief, ada dua hal yang harus SYL lakukan. Pertama, memilih satu bidang pengabdian saja, apakah itu sebagai caleg atau sebagai Staf Khusus Presiden. Kedua, mulai serius dengan salah satu pilihannya itu, mengingat dalam kapasitas sebagai caleg dan Staf Khusus Presiden, SYL dinilai belum serius.

Dikonfirmasi terpisah, SYL menanggapi santai hasil survei tersebut. Ia menegaskan, sebagai pengurus partai sudah menjadi kewajiban untuk bertarung di Pileg. Iapun optimistis, kehadirannya bisa menambah satu kursi lagi untuk Partai NasDem di Dapil Sulsel II.

“Sekarang kan sistem perhitungan suaranya beda. Saya optimistis, dengan kerja-kerja politik yang saya lakukan, bisa menambah satu kursi lagi untuk Partai NasDem,” kata SYL. (*)

 

 


div>